G erimis sederhana mengguyur pelabuhan Babang pagi itu. Kira-kira pukul 4.00, Dedi sudah datang untuk menunggu kiriman yang sebentar lagi tiba dari Ternate menggunakan kapal Ukiraya 05. Setelah beberapa lama berdiam diri di depan toko yang telah tutup sembari mengisap kreteknya, ia kemudian mampir di sebuah warung dan memesan secangkir kopi untuk menemaninya menunggu sambil mengusir dingin yang menusuk-nusuk tulang. “Sial!” gerutunya. “Hujan-hujan begini aku harus menjemput barang haram ini yang bukan milikku. Tapi tak apa. Toh hasilnya nanti kunikmati juga. “ Ia mengeluarkan kreteknya dari saku celana, membakarnya dan menyemburkan asap ke udara. Digenggamnya segelas kopi lalu diseruput. Seorang pria berseragam polisi kemudian masuk dan langsung memesan segelas teh manis. Setelah melihat-lihat bangku yang kosong, pria itu akhirnya memilih untuk duduk di sebelah bangku tempat Dedi berada. “Jemput siapa Ded, atau mau jemput kiriman?” tiba-tiba ia bertanya. Ternyata itu Randi, tema...
Aku menulis ketika dunia terlampau banyak berbicara dan orang-orang menderita karena mulut mereka.