Setelah beberapa bulan tak menulis, saya mengalami kesulitan yang teramat sungguh saat berupaya untuk memulainya kembali. Padahal jika ditimbang, ada banyak hal yang berkelabat di pikiran dan seharusnya ini bukan perkara sulit untuk meluapkannya melalui tulisan, seperti yang (ingin) selalu saya lakukan berapa tahun belakangan, pun di tahun-tahun yang mendatang. Saya mencobanya berkali-kali namun dari tulisan itu tak ada yang memenuhi standar saya. Tulisan-tulisan itu hanya saya simpan di memo pribadi dan berniat akan menyelesaikan tumpukan tulisan itu di kemudian hari. Meski gagal, walau buruk, saya akan selalu menulis. Ini bukan sekadar cara saya mengamini perkataan Pram, bahwa “menulis adalah bekerja untu keabadian”, bukan cuma itu. Menulis, menurutku, adalah sebuah upaya tak terpermanai dari mencintai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dan lewat fragmen-fragmen itulah, hidup menemukan puing-puingnya yang berceceran; suatu upaya yang mengantarkan kita untuk me...
Aku menulis ketika dunia terlampau banyak berbicara dan orang-orang menderita karena mulut mereka.