Apa yang menyeretmu sejauh ini? Menuju barat jauh sekali Sebuah kota yang tak ada lampu jingga Jauh dari istimewa Loka penuh lara Tapi kau masih saja menuju barat Dengan sepur ekonomi yang sesak Kau seret kopermu penuh harap Berangkat menuju kota di mana bintang lindap Dan matahari yang selalu datang terlambat Di ujung peron Jatinegara Tubuhmu yang lungkrah melangkah gagah Menemui kota di mana kesibukan ialah kawan Di antara impitan kendaraan dan kenyataan yang menggetarkan Raut wajahmu menelisik gamang Nanar menyaksikan dunia berlari di kota ini Natal sudah mengetuk pintu Tapi manusia tak lagi mengingat Tuhan karena kelaparan Meninggalkan petang yang sama seperti kemarin Wajah-wajah yang diselimuti ketakutan hari depan Berjalan tak peduli di sepanjang pematang jalan Perempuan asing hanya diam dan menanti di depan gerbang Sebelum tandas senja Ia telah pergi *** Aku tiba di sini untuk sebuah janji Jawabmu curai Orang bilang kota ini adalah tempat terbaik untuk menunaikan ikrar Mesk...
Aku menulis ketika dunia terlampau banyak berbicara dan orang-orang menderita karena mulut mereka.