Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Suatu Pagi di Pelabuhan Babang

G erimis sederhana mengguyur pelabuhan Babang pagi itu. Kira-kira pukul 4.00, Dedi sudah datang untuk menunggu kiriman yang sebentar lagi tiba dari Ternate menggunakan kapal Ukiraya 05. Setelah beberapa lama berdiam diri di depan toko yang telah tutup sembari mengisap kreteknya, ia kemudian mampir di sebuah warung dan memesan secangkir kopi untuk menemaninya menunggu sambil mengusir dingin yang menusuk-nusuk tulang. “Sial!” gerutunya. “Hujan-hujan begini aku harus menjemput barang haram ini yang bukan milikku. Tapi tak apa. Toh hasilnya nanti kunikmati juga. “ Ia mengeluarkan kreteknya dari saku celana, membakarnya dan menyemburkan asap ke udara. Digenggamnya segelas kopi lalu diseruput. Seorang pria berseragam polisi kemudian masuk dan langsung memesan segelas teh manis. Setelah melihat-lihat bangku yang kosong, pria itu akhirnya memilih untuk duduk di sebelah bangku tempat Dedi berada. “Jemput siapa Ded, atau mau jemput kiriman?” tiba-tiba ia bertanya. Ternyata itu Randi, tema...

Demam Tsamara dan Perayaan yang Dangkal di Hari Kemerdekaan

H iruk-pikuk tentang peringatan hari kemerdekaan yang jatuh kemarin, seperti biasa membuai masyarakat kita. Beritanya ada di mana-mana, dari layar kaca hingga sosial media. Semua orang merayakannya. Dari si miskin hingga si kaya. Di tengah kegaduhan ini, masih ada sebagian pihak yang mengurusi drama antara Fahri Hamzah dan Tsamara Amany. Melupakan bahwa rakyat sampai hari ini masih dirundung nestapa, atau DPR yang meminta gedung baru nan mewah. Orang-orang mengunggah ucapan selamat Hari Kemerdekaan di akun media sosial mereka dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang mendaki gunung dan mengibarkan Sang Saka, ada yang merayakannya dengan mengadakan lomba-lomba, dan ada yang sekadar upacara. Ada juga yang memberikan kata-kata berlagak bijak tentang kemerdekaan yang padahal, tak tentu lagi maknanya. Tak ada yang salah karena kita anak bangsa yang sudah sepatutnya memberi perhatian pada negara tercinta. Tapi, di balik kegaduhan ini, apakah kita sudah berkaca pada realitas yang ada? Sete...

Kau dan Cerita yang Tak Pernah Usai

Ia dilahirkan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 1 Maret, 1977. Menjadi anak ke-5 dari delapan bersaudara. Menurut cerita, pada masa kecil, ia adalah seorang anak pendiam yang bisa terbilang cengeng karena terlalu dimanjakan oleh ibu yang mengasihinya. Ia tumbuh dengan dipenuhi rasa sayang dan kehormatan orang tuanya. Diberikan apa saja yang tak semua orang bisa memperolehnya. Bahkan mungkin, saudara-saudarinya pun tak bisa. Ia begitu diprioritaskan. Kebahagiaanya berakhir ketika kelas lima SD. Mereka mendapati ibunya meninggal di WC saat matahari sedang memamerkan cahayanya di siang yang cerah. Namun kecerahan nampaknya tak berpihak padanya. Siang itu merupakan siang yang kelam. Siang yang merubah segala aspek hidupnya. Kehilangan kasih sayang dari seorang ibu, membuatnya bertransformasi menjadi seorang yang harus mempertaruhkan eksistensi dan keberadaanya di bawah kolong langit sendirian. Menyambung hidup dan mengurusi dirinya sen...

Nyanyian Rindu Untuk Sahabat

Agung menepuk bahuku dan mengeluarkan sebuah kalimat yang membawa ketakutan pada hari esok: "nikmati hari ini, sebab sebentar lagi kita akan lulus dan meninggalkan segala yang terjadi di sini". Persitiwa itu terjadi disuatu siang yang temaram di sekolah yang telah lama kami tinggalkan. Bertahun-tahun telah berlalu setelah maklumat kelulusan dikeluarkan. Kita menapaki jalan masing-masing dan entah kapan bertemu kembali. Mengecap segala kemungkinan yang ada untuk menyuar gelapnya masa depan. Banyak diantara kita yang memilih untuk menjadi mahasiswa. Ada pun yang tengah memupuk masa depannya dengan gawai dan bola. Setidaknya aku merasa lega karena tak ada diantara kami yang menjadi seorang anjing negara. Namun, terkadang, kenangan sering menggerogoti ingatan. Memaksa untuk mengingat apa yang pernah terjadi. Hanya butuh satu kenangan untuk mengundang kenangan-kenangan yang segera memperkosa ingatan. Seperti slide demi slide yang terus berganti. Adakalanya, aku teringat...

Papua yang Katanya Tanah Surga

Tulisan ini bermula pada 2 Maret 2016 pukul 14.23 di ruangan 005/3 tempat kelas Politik Lingkungan berlangsung. Saat itu saya duduk di bangku deretan ke-3 bersama teman saya Esha Indica. Tak lama berjalannya materi saya merinding ketika mendengar dosen saya Suryo AB, M.sc berkata, “saya pernah datang ke Papua dan sudah pernah ke Freeport. Pengalaman saya di sana (Freeport), saya hanya perlu mengambil segumpal pasir yang saat saya bersihkan dalam genggaman, di dalamnya terdapat emas.” Mendengar hal itu seketika rasa bangga, kagum, marah, dan benci menjadi satu karena yang terbayang dalam pikiran saya saat itu adalah apakah kekayaan alam di Papua merupakan sebuah anugerah ataukah kutukan yang diberikan oleh pencipta jagad raya ini. Tapi jika berangkat dari kekayaan alamnya, mungkin benar Papua memang tanah surga. Surga yang kemudian dirampok para iblis yang penghuninya ditindas dan dibiarkan miskin oleh perampoknya.  Apakah yang terlintas di kepala kalian ketika mende...

Komunis Bengis Yang Kerap Membuat Kita Meringis

Mengestimasi prahara hari ini, kenangan kemudian kembali pada masa yang telah lewat, saat seorang guru sejarah menjelaskan tentang peristiwa sejarah. G30S/PKI tuturnya. Penculikan 6 jenderal dan 1 perwira yang dibunuh dan berakhir di Lubang Buaya karena percobaan kudeta yang dilakukan oleh PKI untuk melengserkan Bung Karno, sang Pemimpin Besar Revolusi. Pengetahuan dangkal saya sebagai anak SD kala itu membuat saya menafsirkan Komunisme layaknya: hewan buas, pencari kekuasaan yang tak beragama bahkan bukan manusia. Najis. Pengetahuan itu mesra dalam ingatan dalam durasi panjang. Waktu berjalan dengan angkuh dan tetap. Cukup lama dan membosankan. Pelajaran tentang pembelokkan sejarah Indonesia yang tertancap sejak kecil itu− karena sistem, menjadikan saya benar-benar nasionalis anti-kom. Sekian tahun telah berlalu. Kini saya bergelut dengan buku dan kehidupan kampus. *** Sendat untuk saya memposisikan berbicara dari faksi mana. Senantiasa kita dibatasi oleh kungku...