Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...

Barcelona dan Cinta yang Dalam.

                  “Saya Percaya bahwa seseorang tidak bisa meninggalkan rumah. Saya percaya bahwa seseorang membawa bayangannya dan ketakutan-ketakutannya di bawah kulitnya sendiri, di sudut yang tajam dari mata seseorang, mungkin juga di bawah tulang rawan daun telinga.” -Maya Angelou-             Sebagai salah satu kota metropolis di Argentina, Rosario tak banyak menawarkan pilihan untuk seorang anak kecil dan mimpi besarnya. Kekurangan hormon pertumbuhan membuat bakatnya hampir terbuang sia-sia. River Plate, musuh bebuyutan Boca, tak mau ambil risiko untuk membiayai pengobatan seorang anak berusia 11 tahun yang masih belum pasti akan mendatangkan keuntungan bagi klub atau tidak, paling tak, di kemudian hari.   Carles Rexach, direktur olahraga Barca, lantas menemukan talenta Leo kecil dan berjanji bahwa Barca akan menanggung biaya kesembuh...

Kemala dan Mega: Sebuah Koinsidensi.

  Kemenangan Biden dan Kemala Harris dalam Pilpres Amerika Serikat menegaskan bahwa The American Dreams bukan sekadar sentimen nasionalisme atau melankolia   kolektif, atau sekadar slogan ganjil seperti NKRI harga mati yang selalu dipekikkan oleh para pengidap nasionalisme buta. Jauh dari itu, ia membuktikan bahwa mimpi Amerika adalah mimpi yang nyata, mimpi yang dapat dicapai semua anak-anak yang lahir dan tidak sekadar menjaga utopia mereka sebagai suatu bangsa tetap menyala. Tak percaya? Silakan Tanya sama Si Anak Menteng, atau Si Lelaki Tua yang terus berhasrat berkuasa dan tentunya pada Kemala: seorang perempuan kulit hitam pertama yang menduduki Gedung Putih. Kemenangan ini, dalam titik tertentu, merupakan kemenangan masyarakat kulit hitam yang beberapa bulan belakangan didera rasialisme tak berkesudahan—yang dalam persatuannya dapat menyerukan perlawanan atas Trump yang tidak mampu menyelesaikan perseteruan ras, atau malah seperti membiarkan hal itu terus-menerus te...