Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2021

Merayakan Kehilangan

 “Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” Kalimat di atas adalah sepenggal pasase Seno Gumira Ajidarma dalam Senja Di Balik Jendela.  Sebiji simpulan menguak dari sana: Begitu tipis selisih antara meninggalkan dan ditinggalkan. Bahwa tiap pertemuan adalah kepergian yang tertunda. Juga bahwa kita tak selamanya bisa memilih dengan cara apa perpisahan itu terjadi dan bagaimana ia mesti dirayakan. Kadang dengan air mata, lain waktu dengan tawa, sering kali dengan doa. Dan ki...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Pradnya Annalies Arunika

Di dunia yang disesaki pesona dan derita Pada lelah yang tak berujung Menepi semua langkah yang tertatih Merajut harap dengan cemas Apakah susumu akan terbeli?  Berapa harga popokmu?  Tapi jantungku akan ku beri demi hidupmu Tak perlu risau Tugasmu hanya berbahagia di dunia ini Meski seisi diriku yang tercuri Hiduplah kau, hidup. Anakku! Ketika malam dijejali resah Pada batin yang tak henti mengirim serapah Bapak termangu di tepi hari saat lahirmu Ibumu terjaga karena kau selalu menendang Ia kesakitan dan bahagia di saat yang sama Semoga kaki-kaki itu senantiasa kukuh Saat tiba hidup akan menendangmu Kau akan terbiasa, kau akan tertawa Semoga. Ya, semoga saja.  Ann, ku beri kau nama dari hikayat seorang perempuan yang dibelenggu Seorang perempuan yang memupuk keberanian dari pengalamannya sendiri Seorang perempuan yang berontak pada kenyataan yang mengepungnya Itulah hakikat kemerdekaan!  Meski nanti kau kalah Walau akhirnya kau lelah dan patah Kau telah berjuang seb...