Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2021

Kidung Kehilangan

Suatu sore dalam ingatan paling jauh, kakek memanggilku yang bermain sendirian di pekarangan belakang rumah kami yang dipenuhi pohon-pohon pala dan kopi yang rimbun. Aku menyahutnya dengan riang sambil berlari menghampirinya karena tahu kakek pasti datang dengan membawakan hadiah. Aku kecil tak banyak teman. Berdua dengan ibu, karena bapak lebih sering bekerja di kapal nelayan atau mengojek. Kakek, nenek dan sebagian besar keluarga ibu hidup di Ternate. Aku juga tak terlalu dekat dengan keluarga bapak. Dalam ingatanku, mereka tak selamanya ramah. Sebab itu, aku pasti senang tiap kali kakek datang berkunjung.  Aku selalu duduk di pangkuannya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Tentang masa kecilku, tentang kisah kecil ibu, tentang nenek, tentang rumah kami. Darinya juga, aku tahu bahwa aku satu-satunya cucu yang ia beri nama; Muhammad Iqbal: seorang penyair sekaligus filsuf asal Pakistan. Kelak, aku tahu bahwa dalam beberapa hal, aku menyanggupi harapannya dalam namaku: aku suka be...

Aku, Kau dan Puisi

Aku lirik dari gitar yang kau petik Aku puisi yang menemanimu dalam sunyi Aku embun yang menjagamu sepanjang pagi Aku matahari pada siangmu yang maluku Aku laut yang menghanyutkan perahumu Aku terang dalam malammu yang kelam Aku mata air yang mengalir dari air matamu Aku kenangan di kepalamu Aku buku yang tak pernah kau baca Aku kata yang tak pernah kau ucap Aku mata yang tak kau tatap Aku tatap yang tak pernah kau tangkap Kau duri yang tertikam di dada Mencumbui nanah-luka di hati yang patah Mematahkan cinta yang tabah Kau adalah semua yang tak terjamah Dari jutaan puisi ku yang nestapa Saat fajar tiba, aku telah tiada Bersama puisi yang tak lagi bernyawa  Kelak, jika kau merindukanku Bisa kau jumpai aku dalam deretan kata Pada bait terakhir di puisi ini:          -aku di sini.