Suatu sore dalam ingatan paling jauh, kakek memanggilku yang bermain sendirian di pekarangan belakang rumah kami yang dipenuhi pohon-pohon pala dan kopi yang rimbun. Aku menyahutnya dengan riang sambil berlari menghampirinya karena tahu kakek pasti datang dengan membawakan hadiah. Aku kecil tak banyak teman. Berdua dengan ibu, karena bapak lebih sering bekerja di kapal nelayan atau mengojek. Kakek, nenek dan sebagian besar keluarga ibu hidup di Ternate. Aku juga tak terlalu dekat dengan keluarga bapak. Dalam ingatanku, mereka tak selamanya ramah. Sebab itu, aku pasti senang tiap kali kakek datang berkunjung. Aku selalu duduk di pangkuannya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Tentang masa kecilku, tentang kisah kecil ibu, tentang nenek, tentang rumah kami. Darinya juga, aku tahu bahwa aku satu-satunya cucu yang ia beri nama; Muhammad Iqbal: seorang penyair sekaligus filsuf asal Pakistan. Kelak, aku tahu bahwa dalam beberapa hal, aku menyanggupi harapannya dalam namaku: aku suka be...
Aku menulis ketika dunia terlampau banyak berbicara dan orang-orang menderita karena mulut mereka.