Hari ini, saya menyadari kurang sehari lagi, tepatnya pada pukul 13.30, usiaku resmi 21 tahun. Saya lahir disebuah RS di bilangan Tanah Tinggi, Ternate, di tengah-tengah gelombang massa rakyat yang bergejolak menuntut Harto tumbang. Kebetulan, ulang tahunku kali ini, bertepatan pada bulan puasa. Jadi, sudah 21 kali ramadhan yang ku lewati dalam hidupku sejak tangisanku untuk kali pertama di bawah kolong langit di siang yang terik pada pertengahan warsa 98. Berbeda dari ulang tahunku sebelum-sebelumnya (yang biasanya saya akan selalu meminta banyak hadiah dari orang tua) kali ini saya justru tak mengharapkan apa-apa, selain secuil harapan--mungkin lebih tepatnya rasa penasaran-- apakah saya masih bisa merasakan kehangatan dan kelengkapan keluarga yang terlanjur berantakan. Saya menyambut ulang tahun ini dengan sedikit perasaan sedih dan melankolia. Justru karena saya tak sanggup membagi kisah ini pada orang lain lewat kata-kata, saya memilih untuk menjadikan laptop dan keybord...
Aku menulis ketika dunia terlampau banyak berbicara dan orang-orang menderita karena mulut mereka.