Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Untuk Edward

Bukankah sudah kubilang bahwa puncak jatuh cinta paling hakiki adalah patah hati? lantas kenapa kau masih saja gemar berkawan dengan luka dan harapan? Pun lukamu masih menganga, menyiratkan goresan yang pernah terjadi dan siapa yang melakukan. Kau pernah dihajar trauma. Sempat diterkam badai yang tak kunjung reda. Namun kau masih saja berdiri dan menantang bahaya.   Kelak, keras kepalamu akan binasa. Lupakah kau sahabat oleh apa yang dikatakan oleh Don Vito? sosok yang kau idolakan di film The Godfather itu:  "Jangan biarkan orang lain tau apa yang kau pikirkan". Oleh karena itu, jangan sampai wanita mengetahui sepenuh hatimu jika kau tergila-gila padanya. Setidaknya ada sisa perasaanmu yang kau simpan untuk dirimu sendri dan tak pernah kau bagi. Kau sahabatku dan tak pernah kuingin melihat kau diselimuti kepahitan hidup. Kau layak untuk mendapat yang terbaik. Jangan biarkan kau disakiti dengan percuma oleh wanita yang sedang mengembara untuk sekadar singgah ketika ...

Kepercayaan semu

                            “agama adalah nafas dari orang yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati dan jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Agama adalah opium bagi orang banyak.” Begitulah kira-kira kritik dari Karl Marx yang begitu tersohor mengenai pandangannya terhadap agama pada zaman itu, atas hegemoni Vatican. Terbebas dari pemikiran Marx, kita dapat melihat bahwa agama merupakan suatu lembaga yang sangat penting dalam kehidupan di bumi manusia. Bahkan  kelewat−pentingnya agama hingga ia dijadikan salah-satu instrumen dalam merebut kekuasaan. ∞ Tulisan ini berpunca kala saya, Rizal Syam dan Fajar Martha yang larut mendiskusikan persoalan Pilgub DKI Jakarta yang tengah hangat dibicarakan, sambil membuka Instagram dan terbahak membaca komentar-komentar banal tentang kasus tersebut. Dengan menggunakan tagar #kapolritangkapahok kami menonton s...

Abad yang Mengerikan: Ketika Pop Culture Menelanjangi Ternate.

J auh sebelum Vasco Da Gama menjejakkan kaki di India, sebelum Colombus menemukan benua Amerika dan Cornelis De Houtman tiba di Banten, adat-istiadatmu telah berdiri kokoh. Raja-rajamu begitu dihormati. Aturan kerajaanmu begitu mengakar pada setiap manusia yang ada di tanahmu. Mungkin, Tuhan menciptakanmu saat ia sedang sombong: negerimu begitu congah nan kirana yang mengakibatkan perang berkepanjangan di negeri ini untuk merebut apa yang kau punya. Namun, semua itu hanya tinggal babad yang termaktub dibuku-buku usang di etalase perpustakaan yang tak lagi terurus. Taranoate. Begitulah orang menyebut namamu. Dulu. *** D engan luas wilayah 547,736 km², bisa dibilang Ternate merupakan sebuah kota kecil dengan jumlah penduduk sekitar 212, 997 di tahun 2015 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Ternate. Jika dilihat dari luas wilayah dan jumlah penduduk, serta membandingkan Ternate dengan pembangunan di daerah lain di Indonesia Barat, saya bersepakat jika Ternate masih keting...

Abrizal dan Ingatan yang Mengejar

Jogja, 30 Mei 2017. Di sepanjang hari-hari yang kami lalui bersama, semuanya makin berbeda ketika satu dari sekian sahabatku harus berkelana menuju suatu kota diseberang laut sana untuk mengejar impian yang telah lama ia inginkan: menjadi seorang pesepakbola profesional. Yah, sekarang keinginannya telah terbukti dan aku turut berbahagia untuknya. Meskipun aku tahu bahwa butuh perjuangan penghabisan saat ia mengejar impian itu. Dia memilih hidup berjelaga dan berjudi atas kehidupan diperantauan yang keras dan brutal.  Kepergiannya bukan hanya menjadi tanda berkurangnya salah satu sahabat terbaik, namun kehilangan suatu sosok yang teramat penting dalam perjalanan hidupku. Aku masih teringat ketika ia hendak berangkat meninggalkan kami dengan mengeluarkan janji yang begitu sakral pada ibu ku: "suatu saat mama pasti bangga, pemain Timnas pernah menetap di rumah ini. Belakangan aku tahu, bahwa ia semakin dekat dengan janjinya itu.  Seingatku, entah berapa banyak...

Krisis Identitas Dan Hipokrisi Masyarakat Bacan

Seperti yang lain-lain, ia bermula dari tak ada. Ia lahir dari sebuah sejarah. Kemudian orang tua mulai mendongeng dan bercerita tentangnya, ia berkembang melalui kisah dan huruf -huruf yang ada dalam buku tua. Mereka menyebutnya Jou Kolano, katanya adalah penguasa, yang perkataanya adalah sebuah sabda yang pengaruhnya ibarat kitab suci yang tak dapat diganggu gugat. Tapi kata-kata itu berisi alienasi, intrusi, kedap, dan ganjil. Seseorang yang dianggap sebuah tolak ukur, pernyataannya akan menjadi sebuah dogma atau candu bagi orang banyak. Dalam konteks ini, Saat sultan Bacan menyatakan sikap untuk memilih salah satu kandidat yang bertarung dalam pilkada kali ini, di sisi lain masyarakat membuat pernyataan: “Jou de mana, kami de itu.” (sultan di mana, kami di situ) pernyataan itu masih tetap menyimpan mistik, yang menjadi sebuah jargon salah satu pendukung kandidat yang dibanggakan dan bertahan dalam meledaknya partisipasi politik. Entah dari mana pernyataan itu berasal: ...

Petani Menggugat

“Dentuman meriam revolusi tak lagi terdengar. Yang terdengar hanya, rampas, rampas dan rampas. Orang-orang sibuk memikirkan harta dan pangkat. Dirampas dan merampas. Itulah wajah Indonesia saat ini. Kita berada di titik penghabisan akan rasa kemanusiaan. Tukang becak, tukang sayur, petani, buruh-buruh kecil, sesekali aku menatap mereka dalam-dalam dan tatapan itu dibalas kemurungan yang terpancar dari wajah mereka. Terkadang disela-sela senda-gurau dengan mereka, yang terdengar hanya nada sendu dan meninggalkan perasaan getir yang mendalam. Aku bertanya pada nurani sendiri, di mana penguasa, di mana wakil rakyat, di mana orang yang memiliki segalanya itu? apakah yang tersisa dari mereka hanya insting binatang yang tak kenal kasihan?” Sejak kecil, guru-guru kerap menceritakan tentang Indonesia—negeri yang luas dan berlimpah ruah sumber dayanya mulai dari emas, tembaga, nikel, batubara, uranium, pasir besi, minyak dan kekayaan alam lain yang tak mampu digoreskan satu-persatu le...

Dunia Disesaki Orang-Orang yang Takut Mati, Maka Bunuh Dirilah

(untuk M. Iqbal Tarafannur) Mulanya kutaksir kau dan aku akan begitu berjarak. Awalnya kurasa kau dan aku begitu langit dan bumi. Tetapi itu semua musnah setelah aku mengenalmu seperti aku mengenal diriku sendiri. Kau anak lelaki pertama, aku pun demikian. Kau memiliki bapak yang begitu patronistik dan patriarkis, aku pun sama. Kau pernah menimba ilmu di pesantren, pun aku. Rentang sepuluh tahun yang memisahkan umur kita tidaklah menjadi penghambat emosi ini berkelindan, bertaut begitu padu. Kau begitu gandrung untuk memberontak. Sekali lagi: aku pun demikian. Dulu. Aku akui aku kecewa dengan keputusanmu meninggalkan Jakarta. Biar bagaimana, aku seperti bercermin kala melihatmu. Aku begitu mengandalkanmu untuk urusan-urusan yang kupikir sudah tidak pantas lagi kulakukan. Aku takjub dengan nafsu membacamu yang meledak-ledak. Aku juga kaget waktu kau meminta untuk diajari menulis. Kekagetanku tak berlangsung lama karena terbukti, kau menjadi murid yang patuh. Meski terkadang ...