Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Berlalu Pergi

Kau menjalani rutinitas seperti ini bertahun-tahun lamanya. Lalu di suatu pagi, kau terbangun dan menyadari bahwa hidupmu telah berubah. Mau tak mau kau harus bernjak dan terus bergerak. Kembali berdiri di anjungan, memegang tali-tali layar dan menantang riak dan badai di lautan. 

Pulang

Jutaan abad waktu menjelma ngilu di dadaku Saat kau berkata bahwa aku lah bagian dari dirimu. Tapi kau melenggang. Melayang dengan bebas. Enggan untuk diam dalam dekapan. Merpatiku, sayapku yang utuh Kini aku yang lumpuh Di sayapmu yang melayang bebas, ku titipkan mimpi-mimpi Dan doa paling suci. Kembalilah.. Ku peluk hampa cakrawala Dengan dada yang kering-keronta Ku nantikan kepulanganmu setelah berkelana Tapi kau tak jua tiba Daun-daun berjatuhan Musim datang bergantian Jiwaku masih berkelana bagai ekspatriat mencari daratan impian Menunggumu. Menunggu cinta yang telah kutambatkan ... Suatu pagi, ku tatap halaman rumah yang sepi tanpa kekasih Tanpamu... Ku pikirkan sekali lagi, apa kita pernah bersama Apakah kita pernah bercinta Jangan-jangan, kau takkan kembali Jangan-jangan, kau tak (pernah) benar-benar ada.

Senja

Kau ingat, kita beberapa kali pernah melewati senja dalam kereta.  Kita juga kadang bercinta, di bawah naungan senja yang merah.  Tapi itu sudah lama sekali. Entahlah; apa kau masih ingin mengenangnya atau tak.  Ann, setelah kita menggelar kepergian ke arah yang berbeda, aku tak lagi bisa menikmati senja dengan khusyuk.  Justru, aku lebih banyak melewati senja di pembaringan dan tak sadarkan diri. Seperti waktu itu, saat kau murka tiap kali kita berjanji untuk melewati senja dan aku tak dapat memenuhi karena ketiduran.  Kemarin adalah senja paling merah yang pernah ku lihat, Ann. Di Bacan. Tempat terbaik untuk menikmati matahari pulang ke dekapan cakrawala.  Senja itu harusnya senja terbaik yang ada di bumi manusia. Tapi anehnya, hanya senja yang sedang memerah, hatiku justru membiru.  Mungkin karena tak ada kau di sampingku. Jutaan puisi mengabur di kepala, tentang senja, Tentangmu, Ann. Tapi kata-kataku terlanjur habis diserap sesal yang...

Kereta

langkah kaki terasa berat di stasiun tempat biasa kau mengantar—kadang menanti ranselku yang penuh disesaki kenangan lonceng kereta terdengar sangat dekat di batas pengantar, tanganmu melambai dengan senyum manismu yang cemas malioboro, tamsis, kabut di bukit bintang, mio butut, segalanya berkelebat di ingatan waktu tak pernah memihak pada kita pada cinta sebab kita tak pernah punya waktu waktu lah yang memiliki kita juga tuhan aku memasuki gerbong paling belakang tempat biasa yang sering kau pesan seorang kekasih menangis melepas cintanya pencinta pemula, umpatku sebab kita sudah terbisa sejak semula tapi rindu selalu terasa sama, batinku meracau aku duduk di kursi entah nomor berapa dan  di kereta, pengumuman berkumandang:  “jaga hati-hati barang bawaan anda kehilangan bukan tanggung jawab kami” aku menatap jendela yang lengang dan bergumam dalam sunyi: “ada yang selalu hilang dalam tiap perjalanan: pertemuan, pelukan juga kecupan-kecupan” kereta melaju menuju sesuatu yang b...

Retrospeksi Hidup!

Hari ini, saya menyadari kurang  sehari lagi, tepatnya pada pukul 13.30, usiaku resmi 21 tahun. Saya lahir disebuah RS di bilangan Tanah Tinggi, Ternate, di tengah-tengah gelombang massa rakyat yang bergejolak menuntut Harto tumbang. Kebetulan, ulang tahunku kali ini, bertepatan pada bulan puasa. Jadi, sudah 21 kali ramadhan yang ku lewati dalam hidupku sejak tangisanku untuk kali pertama di bawah kolong langit di siang yang terik pada pertengahan warsa 98. Berbeda dari ulang tahunku sebelum-sebelumnya (yang biasanya saya akan selalu meminta banyak hadiah dari orang tua) kali ini saya justru tak mengharapkan apa-apa, selain secuil harapan--mungkin lebih tepatnya rasa penasaran-- apakah saya masih bisa merasakan kehangatan dan kelengkapan keluarga yang terlanjur berantakan. Saya menyambut ulang tahun ini dengan sedikit perasaan sedih dan melankolia. Justru karena saya tak sanggup membagi kisah ini pada orang lain lewat kata-kata, saya memilih untuk menjadikan laptop dan keybord...