Beberapa bulan belakangan, tempat-tempat ibadah ditutup, jalan-jalan lengang, tempat hiburan ditutup, orang-orang tak bisa berlalu-lalang dengan bebas karena pembatasan interaksi sosial, ekses dari ketaksanggupan negara dalam mengatasi kasus covid-19 yang terus mengalami peningkatan. Pedagang-pedagang kecil dan hampir seluruh pengusaha yang baru merintis terpaksa gulung tikar. Sisanya bertahan bermodalkan semangat yang tak mudah runtuh dan segala perkakas yang tersisa. Lalu aku teringat Jev, pemuda Batak yang selama bertahun-tahun berbagi nasib denganku. Seorang sahabat yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri. Aku mengenalnya sejak hari pertama kita kuliah saat duduk di kantin belakang kampus, ketika mata kuliah pertama berakhir. Ia mengajak ku duduk bersamanya karena melihatku sendirian tanpa teman. Bersama Echa, gadis cantik dengan kulit Sunda-nya yang langsat—kami menghabiskan hari bersama sebagai teman, sahabat dan keluarga dalam perantauan. Terima kasih pa...
Aku menulis ketika dunia terlampau banyak berbicara dan orang-orang menderita karena mulut mereka.