Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2021

Sebuah Alasan

Setelah beberapa bulan tak menulis, saya mengalami kesulitan yang teramat sungguh saat berupaya untuk memulainya kembali. Padahal jika ditimbang, ada banyak hal yang berkelabat di pikiran dan seharusnya ini bukan perkara sulit untuk meluapkannya melalui tulisan, seperti yang (ingin) selalu saya lakukan berapa tahun belakangan, pun di tahun-tahun yang mendatang.  Saya mencobanya berkali-kali namun dari tulisan itu tak ada yang memenuhi standar saya.   Tulisan-tulisan itu hanya saya simpan di memo pribadi dan   berniat akan menyelesaikan tumpukan tulisan itu di kemudian hari. Meski gagal, walau buruk, saya akan selalu menulis. Ini bukan sekadar cara saya mengamini perkataan Pram, bahwa “menulis adalah bekerja untu keabadian”, bukan cuma itu. Menulis, menurutku, adalah sebuah upaya tak terpermanai dari mencintai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dan lewat fragmen-fragmen itulah, hidup menemukan puing-puingnya yang berceceran; suatu upaya yang mengantarkan kita untuk me...

Merayakan Kehilangan

 “Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.” Kalimat di atas adalah sepenggal pasase Seno Gumira Ajidarma dalam Senja Di Balik Jendela.  Sebiji simpulan menguak dari sana: Begitu tipis selisih antara meninggalkan dan ditinggalkan. Bahwa tiap pertemuan adalah kepergian yang tertunda. Juga bahwa kita tak selamanya bisa memilih dengan cara apa perpisahan itu terjadi dan bagaimana ia mesti dirayakan. Kadang dengan air mata, lain waktu dengan tawa, sering kali dengan doa. Dan ki...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Pradnya Annalies Arunika

Di dunia yang disesaki pesona dan derita Pada lelah yang tak berujung Menepi semua langkah yang tertatih Merajut harap dengan cemas Apakah susumu akan terbeli?  Berapa harga popokmu?  Tapi jantungku akan ku beri demi hidupmu Tak perlu risau Tugasmu hanya berbahagia di dunia ini Meski seisi diriku yang tercuri Hiduplah kau, hidup. Anakku! Ketika malam dijejali resah Pada batin yang tak henti mengirim serapah Bapak termangu di tepi hari saat lahirmu Ibumu terjaga karena kau selalu menendang Ia kesakitan dan bahagia di saat yang sama Semoga kaki-kaki itu senantiasa kukuh Saat tiba hidup akan menendangmu Kau akan terbiasa, kau akan tertawa Semoga. Ya, semoga saja.  Ann, ku beri kau nama dari hikayat seorang perempuan yang dibelenggu Seorang perempuan yang memupuk keberanian dari pengalamannya sendiri Seorang perempuan yang berontak pada kenyataan yang mengepungnya Itulah hakikat kemerdekaan!  Meski nanti kau kalah Walau akhirnya kau lelah dan patah Kau telah berjuang seb...

Jev dan Takdirnya

Beberapa bulan belakangan, tempat-tempat ibadah ditutup, jalan-jalan lengang, tempat hiburan ditutup, orang-orang tak bisa berlalu-lalang dengan bebas karena pembatasan interaksi sosial, ekses dari ketaksanggupan negara dalam mengatasi kasus covid-19 yang terus mengalami peningkatan.   Pedagang-pedagang kecil dan hampir seluruh pengusaha yang baru merintis terpaksa gulung tikar. Sisanya bertahan bermodalkan semangat yang tak mudah runtuh dan segala perkakas yang tersisa.  Lalu aku teringat Jev, pemuda Batak yang selama bertahun-tahun berbagi nasib denganku. Seorang sahabat yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri.  Aku mengenalnya sejak hari pertama kita kuliah saat duduk di kantin belakang kampus, ketika mata kuliah pertama berakhir. Ia mengajak ku duduk bersamanya karena melihatku sendirian tanpa teman. Bersama Echa, gadis cantik dengan kulit Sunda-nya yang langsat—kami menghabiskan hari bersama sebagai teman, sahabat dan keluarga dalam perantauan. Terima kasih pa...

Hikayat Laut

Kasih… Aku akan mencintaimu dengan segenap pembalasan atas masa lalu Di hari ini saat aku kau bawa jauh Pada kemarin yang sedu Di malam yang pucat Ketika bibirmu ku lumat Kasih… Aku akan membencimu dengan segenap cinta yang mengharu-biru Di laut yang sunyi Saat rinduku kau tenggelamkan bersamanya Di samudera yang melayarkan harapan Juga kapal-kapal nelayan Bersama pasir yang pernah kita pijaki Di pantai yang tak lagi putih Ku lupakan wajahmu bersama jejak yang dihapus ombak Meski sepi tak bertepi Aku tak mau lagi Kasih… Di batas cakrawala pada petang penghabisan Saat burung-burung pulang  Dan malam jatuh di pekarangan Wajahmu hanya bayang-bayang  Yang tinggal ku kenang Kini kau boleh berlayar sesuka hati Dan entah di dermaga mana kau akan menepi Tapi jangan pernah kembali Sebab laut hanya memulangkan nelayan Dan seorang pejalan yang merindukan daratan impian Bukan kehilangan yang tak terperikan Biarlah aku tanggung semua Bersama kisah yang tak selesai Dalam bayang yang samar...

Cinta

Betapa lucu manusia Mereka merencanakan hari depan  Pada esok yang mungkin tak pernah tiba Di atas semua yang percaya Barangkali, mati adalah tidur dalam kekacauan mimpi Di suatu pagi saat seseorang tak bangun lagi mencecapi dunia yang ia tinggali Aku, aku ingin mati dalam mencintai kata-kata Pada kalimat yang paling suci Agar menuntun ke jalan pulang Untuk bahagia yang paling lapang Aku ingin mati dengan mencintai puisi Yang tak pernah ku buat untuk-Nya Memang karena aku sengaja  Bukan karena aku tak tahu diri Tapi karena ia tak sanggup ku lukiskan dengan kata Ia menulis segala takdir alam semesta Menulis novel paling sempurna Sejak pertama kali hawa telanjang Sampai orang bunuh diri karena ditinggalkan Bukankah manusia harus mencintai takdirnya  Dan mati karenanya? Padahal cinta adalah apa yang menuntun takdir Lantas, mengapa ia jadi alasan? Atas apa yang tak pernah ia lakukan Ramai-ramai, mereka menyidang cinta Semua telunjuk mengarah padanya Dan berseru bahwa ia harus...

Kidung Kehilangan

Suatu sore dalam ingatan paling jauh, kakek memanggilku yang bermain sendirian di pekarangan belakang rumah kami yang dipenuhi pohon-pohon pala dan kopi yang rimbun. Aku menyahutnya dengan riang sambil berlari menghampirinya karena tahu kakek pasti datang dengan membawakan hadiah. Aku kecil tak banyak teman. Berdua dengan ibu, karena bapak lebih sering bekerja di kapal nelayan atau mengojek. Kakek, nenek dan sebagian besar keluarga ibu hidup di Ternate. Aku juga tak terlalu dekat dengan keluarga bapak. Dalam ingatanku, mereka tak selamanya ramah. Sebab itu, aku pasti senang tiap kali kakek datang berkunjung.  Aku selalu duduk di pangkuannya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Tentang masa kecilku, tentang kisah kecil ibu, tentang nenek, tentang rumah kami. Darinya juga, aku tahu bahwa aku satu-satunya cucu yang ia beri nama; Muhammad Iqbal: seorang penyair sekaligus filsuf asal Pakistan. Kelak, aku tahu bahwa dalam beberapa hal, aku menyanggupi harapannya dalam namaku: aku suka be...