Hari ini, saya menyadari kurang sehari lagi, tepatnya pada pukul 13.30, usiaku resmi 21 tahun. Saya lahir disebuah RS di bilangan Tanah Tinggi, Ternate, di tengah-tengah gelombang massa rakyat yang bergejolak menuntut Harto tumbang. Kebetulan, ulang tahunku kali ini, bertepatan pada bulan puasa. Jadi, sudah 21 kali ramadhan yang ku lewati dalam hidupku sejak tangisanku untuk kali pertama di bawah kolong langit di siang yang terik pada pertengahan warsa 98.
Berbeda dari ulang tahunku sebelum-sebelumnya (yang biasanya saya akan selalu meminta banyak hadiah dari orang tua) kali ini saya justru tak mengharapkan apa-apa, selain secuil harapan--mungkin lebih tepatnya rasa penasaran-- apakah saya masih bisa merasakan kehangatan dan kelengkapan keluarga yang terlanjur berantakan. Saya menyambut ulang tahun ini dengan sedikit perasaan sedih dan melankolia. Justru karena saya tak sanggup membagi kisah ini pada orang lain lewat kata-kata, saya memilih untuk menjadikan laptop dan keybord sebagai altar persembahan derita yang kian tak tertanggungkan ini. Saya ingat Hanna Arendt lewat salah satu karyanya yang pernah saya baca, mengatakan bahwa derita menjadi tertanggungkan ketika menjelma jadi cerita.
Bulan ramadhan kali ini, juga menjadi ramadhan paling aneh dari serentetan ramadhan yang pernah ku jalani dalam hidupku. Biasanya, di setiap ramadhan, saya akan melewati momen ini dengan keluarga yang lengkap dan utuh. Ironisnya, tahun ini saya merayakan ramadhan seorang diri. Bunda menajalani ramadhan dengan sepi. Bapak melalui ramadhan dengan istrinya yang baru setelah melepaskan janjinya pada bunda untuk setia, sehidup-semati. Dan Nisa, ya... Nisa melewati semuanya dalam keluarga kandungnya yang saling melengkapi. Jujur saja, dengan sangat insaf saya mengakui kalau perasaan rindu ini tak dapat ditawar-tawar lagi. Serupa kangen yang menjadi monolog. Perasaan sepi yang tak terpermanai. Suatu rasa yang bertalu-talu dalam hati.
Tapi, saya bukan pribadi yang selamanya membiarkan diri tenggelam dalam penyesalan dan kesedihan yang tak berujung. "Usia hanya akan terasa pendek jika hidup dibebani dengan sederet penyesalan". Paling tidak itu yang saya ingat dari sebuah catatan abstrak yang pernah ditulis Zen. Saya akan melanjutkan hidup ini dengan berani dan sedikit lebih berhati-hati untuk tidak menggantungkan nasib pada siapapun.
Toh, ini baru pertengahan warsa 2019 tapi pelajaran dan pengalaman hidup telah mendewasakanku dari hari ke hari. 2019 bukan hanya akan menjadi ujung dari perjalananku sebagai mahasiswa, 2019 juga mengajarkanku tentang banyak hal, bahwa tak selamanya hidup melulu bahagia, bahwa kehilangan sewaktu-waktu akan tiba kapan saja, bahwa tak selamanya dusta jadi dosa, bahwa tak selamanya doa kan jadi nyata.
Di ulang tahun kali ini, lucunya saya juga tak mengharapkan hidup yang panjang apalagi abadi. Yang terlintas dalam pikiran justru bahwa saya menyadari hari-hari berlalu begitu cepat. Banyak orang-orang datang dan pergi dari hidupku pada warsa ini. Mereka yang sebelumnya begitu lengket seperti ketan, mendadak punya jarak tanpa alasan apa-apa. Sebagian lain yang awalanya cuma kenal biasa, kini lengket seperti ketan. Pada akhirnya memang ada sehimpun jarak dengan kecepatan sebenarnya lambat tapi pasti tak bisa kita tolak.
Keinginanku untuk menyambut usia yang kian bertambah kali ini, tak muluk-muluk: saya tak ingin lagi menyakiti perasaan orang lain. Keinginan ini muncul ketika saya menyadari telah sangat banyak hati yang pernah saya singgahi, lantas pergi dengan perasaan tak bersalah. Sekian banyak janji yang tak bisa saya tepati, sehimpun kerugian yang diperoleh orang lain karena perbuatanku. Paling tidak, saya tak ingin berjanji apa-apa pada Tuhan karena saya tahu masih banyak dosa lain yang ingin ku selami.
Jika Zen pernah merayakan ulang tahunnya seorang diri disebuah kamar kos di Jogja ditemani dengan Requiem-nya Mozart, saya merayakan ulang tahun ini seorang diri di kamar kontrakan dengan ditemani dengan Silence-nya Beethoven dan perasaan sunyi yang terasa begitu ganjil dan menggigil. Silence barangkali lebih pas dan cocok untuk menemani saya dengan kegetiran yang coba disampaikan Beethoven--seorang komposer besar--yang justru tak dapat menikmati karyanya sendiri disebabkan tuli.
Tapi, ironisnya tak ada yang dramatis pada malam ini. Semua biasa saja: kosong dari segala perasaan. Saya tak memikirkan apa-apa selain membiarkan diri saya larut dalam kenangan yang mulai membusuk dalam dada. Lagipula, kalaupun ada orang di sini, mereka takkan mengerti dengan apa yang saya alami dan sedang kurasakan. Bukankah nasib adalah kesunyian masing-masing? Sekuat apapun kita berusaha membaginya, nasib tetaplah nasib dan pada titik itulah biografi kita ditentukan.
Sehari menjelang hari kelahiranku ini, saya menyambutnya tanpa ada uang sama sekali. Saya juga tak mengharpakan bunda dan bapak akan peka dan segera mengirimkanku uang. Saya sadar betul bahwa hidupku akan terus berlanjut selama masih ada kawan-kawan di sampingku. Selain itu, karena saya lahir dan tumbuh dalam hidup yang rudin dan melarat. Jadi, kenapa harus takut? Toh karena kemelaratan saya belajar mengenal hidup dan mungkin dengan kemelaratan juga saya akan berusaha mengakrabi kematian. Jika TS. Elliot pernah bilang bahwa orang-orang pada akhirnya akan kembali ke tempatnya semula, di mana ia memulai untuk kali pertama, saya justru menganggap kemelaratan adalah cara saya mengenal dan kembali pada diri saya sendiri. Seorang perempuan yang tak pernah mengenal dan mengakrabi kemelaratan, mungkin saja takkan pernah bisa mencintaiku dengan renjana-membara.
Tapi, bukan berarti saya ingin mati dalam situasi yang melarat. Bagi saya, kematian adalah kemelaratan itu sendiri dan tidak dengan begitu saya ingin mampus. Saya ingin mati dengan sederhana; pada sebuah petang penghabisan dan diiringi gerimis yang sendu dan dihadiri oleh orang-orang yang merasa telah kehilangan seorang kawan baik. Pada pasase itu, saya teringat dengan Kundera: 'Bukanlah masa depan yang hilang dari kematian, tapi masa silamlah yang hangus bagi orang-orang yang masih hidup di lingkaran si mendiang." Kematian bukan pisau yang memotong dan memutus rentetan "waktu silam" dan waktu kini" si mendiang dengan "waktu menjelang". Kematian justru meleburkan tiga dimensi dari waktu itu bagi sang mendiang. Tak ada "waktu silam", "waktu kini", "waktu menjelang' bagi orang yang telah berpindah ke alam niskala.
Membayangkan kematian pada momen yang justru harusnya kita berharap bahwa usia bisa lebih panjang, memang menggidikkan dan menggetarkan. Imajinasi yang membayangkan neraka tentu membuat nyali pendosa ini menciut dan gentar. Pada momen-momen seperti ini, saat kematian mulai dibayangkan dengan sangat jelas, jejak-jejak pelajaran agama mulai mengambil alih penjelasan tentang kesadaran akan hidup yang fana. Tapi, mau bagaimana lagi? Sebab hanya dengan cara itu kita bisa lebih waras untuk mengakui bahwa kematian, cepat atau lambat akan berkunjung. Dan dengan itu maut membuatku gemetar dan lagi-lagi gentar.
Jika hidup bisa diibaratkan sebagai buku, kita takkan pernah tahu bagaimana halaman-halaman hidup akan berlanjut. Tapi jika memang benar hidup adalah buku, saya lebih sepakat jika itu adalah buku puisi. Buku yang isinya hanya melulu soal teori, adalah buku yang kelewat membosankan. Hidup yang melulu hanya berkutat pada satu persoalan, pakem, tema, adalah hidup yang begitu miskin pengalaman. Hidup adalah buku puisi. Kita takkan pernah tahu bagaimana larik-larik selanjutnya bisa menghadirkan kejutan-kejutan baru yang tak pernah terkira sebelumnya. Dengan begitu, hidup juga bisa ditarik dan dimaknai dari segala sisi dan aspek tergantung subjektivitas pembaca dan penikmat. Namun, dalam urusan puisi yang paling subjektif sekalipun, tetap butuh argumen. Oleh karena itu kita akan punya potensi untuk menyadari bahwa semua hal yang terjadi dalam hidup mesti dan pasti punya alasan.
Suatu ketika, saya pernah merasakan penasaran, bagaimana nanti orang-orang akan mengenang saya. Apakah mereka akan mengenang saya sebagai orang baik? Orang Jahat? atau? entahlah. Saya pernah memusingkan hal itu. Tapi belakangan saya sadar bahwa kita tak pernah tahu isi kepala manusia, sedekat apapun kita dengannya. Jadi, saya memutuskan untuk mengakhiri rasa penasaran itu. Saya tak peduli lagi apakah orang-orang akan mengenang saya atau nggak. Paling tidak, orang-orang yang mengenalku pernah mengingat bahwa ada seorang manusia--dengan daging, darah dan tulang--pernah berjalan dan hidup di bumi manusia ini. Selebihnya? Persetan.
Tahun ini, mungkin jadi salah satu tahun paling berarti dalam hidupku. Anak didik ideologi yang kudidik dengan keras dan keringat sendiri, beberapa di antara mereka kini menjadi seorang pemimpin. Widya, mahasiswa di tahun pertama kuliahnya yang baru beberapa bulan berorganisasi, kini menjadi ketua. Mujib, kini jadi seorang ketua. Intan, sebentar lagi memimpin. Paling tidak, karena mereka saya menganggap bahwa hidupku pernah berharga, sekalipun hanya dalam lingkunganku yang sangat kecil. Karena mereka saya merasa menjadi manusia yang berguna. Kesehatan dan keselamatan mereka menjadi salah satu doa dan harapanku di hadapan Tuhan. Tak banyak yang bisa kuharapkan dari mereka, selain mereka bisa menjadi lentera ataupun jika terlalu berat, jadi lilin yang bisa menerangi orang-orang di sekeliling mereka di tengah-tengah gelap dan buasnya hidup.
................................................................................................................
Malam kian larut. Jalanan makin sepi. Saya mulai kehilangan arah untuk menulis lebih banyak kata atau menyungging makna. Baiklah. Kita padami saja unggunan api ini. Selamat ulang tahun Galang, untuk diriku sendiri. Jadilah manusia berguna.
Komentar
Posting Komentar