Beberapa bulan belakangan, tempat-tempat ibadah ditutup, jalan-jalan lengang, tempat hiburan ditutup, orang-orang tak bisa berlalu-lalang dengan bebas karena pembatasan interaksi sosial, ekses dari ketaksanggupan negara dalam mengatasi kasus covid-19 yang terus mengalami peningkatan.
Pedagang-pedagang kecil dan hampir seluruh pengusaha yang baru merintis terpaksa gulung tikar. Sisanya bertahan bermodalkan semangat yang tak mudah runtuh dan segala perkakas yang tersisa.
Lalu aku teringat Jev, pemuda Batak yang selama bertahun-tahun berbagi nasib denganku. Seorang sahabat yang sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri.
Aku mengenalnya sejak hari pertama kita kuliah saat duduk di kantin belakang kampus, ketika mata kuliah pertama berakhir. Ia mengajak ku duduk bersamanya karena melihatku sendirian tanpa teman. Bersama Echa, gadis cantik dengan kulit Sunda-nya yang langsat—kami menghabiskan hari bersama sebagai teman, sahabat dan keluarga dalam perantauan. Terima kasih pada Jakarta, telah mempertemukan kami.
Mereka, terutama Jev, mendorongku untuk jadi lebih baik tiap harinya. Ia jadi teman diskusi sekaligus lawan debat yang tangguh. Kami memilih organisasi yang sama sampai akhirnya kecintaannya pada Soekarno membuatnya memilih GmnI sebagai rumah perjuangannya.
Tak ku pungkiri, aku belajar banyak hal darinya. Tentang hidup, tentang buku, tentang bagaimana ia mencintai takdirnya sendiri meski hidup tak henti-henti menggasaknya tanpa ampun dengan pelbagai tragedi yang ia terima dalam hidup. But once a Jev, always a Jev; ia takkan berlama-lama lungkrah. Seperti nakhoda yang senantiasa berhadapan dengan badai, ia akan berdiri kembali di anjungan, memegang tali-tali layar dan menantang duel gelombang tanpa kecut.
Bertahun-tahun kami bersama, hanya sekali aku melihatnya menangis dan kali ini sangat hebat, pada suatu November yang murung, di suatu pagi menjelang siang saat ia mendengar kabar kedua orang tuanya meninggal dalam waktu tak berselang satu jam.
Cuma itu.
Dan ketika ia kembali dari kampungnya, kesedihannya ia atasi sedemikian rupa. Ia peram sendirian. Seolah-olah dunia hanya ingin melihatnya tertawa. Jakarta, baginya adalah arena pertempuran yang hanya menawarkan dua kemungkinan: kalah atau menang. Barangkali di dalam kepalanya, perihal mati itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana bertahan hidup. Meski kita tahu Chairil pernah bilang, “hidup hanya menunda kekalahan sebelum akhirnya kita menyerah.”
Kehidupan memang disesaki tentang cerita-cerita kekalahan. Orang-orang yang kalah, epos tentang sebuah negeri yang takluk. Sebab tak ada usia kemenangan yang begitu panjang sebelum orang-orang terlebih dahulu menyiapkan diri pada kekalahan. Dan Jev, meski remuk-redam—memilih jalan ini.
Ia memahami makna dari kekuatan kehendak sebagai elan vital, laiknya Yesus yang memanggul salib dengan tertatih-tatih di sepanjang via dolorosa sebelum tombak menghujam lambungnya di bukit Golgotta.
Dua tahun berpindah dari satu kantor ke kantor lain, belasan surat lamaran yang ia kirimkan ke perusahaan, namun hanya mendapati dirinya dalam kemalangan. Pengalaman itu akhirnya membuatnya menjatuhkan pilihan untuk merintis usaha kopi yang belum lama ia tekuni bersama Vander, saudara sekampungnya dalam perantauan. Mereka mengontrak sebuah ruko sederhana di bilangan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Menyasar mahasiswa di kampus terdekat itu sebagai pasar.
Nahas, covid merebak dan penghasilannya terjun bebas. Aku bersedih untuknya, sungguh. Meski aku mafhum ia geram dikasihani. Namun aku tahu, ia tahu, bahwa ia akan bertahan dalam situasi apapun dengan segala perkakas yang tersisa. Sebab aku mengenal Jevandy: seseorang yang paham betul bahwa amorfati bukanlah sekadar metafor nirmakna. Ia akan memeluk takdirnya sendiri dalam keadaan yang paling pahit sekalipun. Barangkali karena ia pun insaf bahwa nasib adalah kesunyian masing-masing.
Meski lagi dan lagi, berulang kali—nestapa menendangnya dari puncak hingga jatuh ke titik paling rendah, ia akan jatuh sejenak, berdiri lagi dan seperti dulu, seperti sekarang, seperti nanti—kembali tegak dan lantas menertawakan kegetiran.
“Hidup yang tak dipertaruhkan, tak layak dimenangkan” tutur Schiller suatu ketika.
Kuat terus, Bre.
Komentar
Posting Komentar