Setelah beberapa bulan tak menulis, saya mengalami kesulitan
yang teramat sungguh saat berupaya untuk memulainya kembali. Padahal jika
ditimbang, ada banyak hal yang berkelabat di pikiran dan seharusnya ini bukan
perkara sulit untuk meluapkannya melalui tulisan, seperti yang (ingin) selalu
saya lakukan berapa tahun belakangan, pun di tahun-tahun yang mendatang.
Saya mencobanya berkali-kali namun dari tulisan itu tak ada yang memenuhi standar saya. Tulisan-tulisan itu hanya saya simpan di memo pribadi dan berniat akan menyelesaikan tumpukan tulisan itu di kemudian hari. Meski gagal, walau buruk, saya akan selalu menulis. Ini bukan sekadar cara saya mengamini perkataan Pram, bahwa “menulis adalah bekerja untu keabadian”, bukan cuma itu. Menulis, menurutku, adalah sebuah upaya tak terpermanai dari mencintai segala sesuatu yang terjadi dalam hidup dan lewat fragmen-fragmen itulah, hidup menemukan puing-puingnya yang berceceran; suatu upaya yang mengantarkan kita untuk memahami dunia, juga di dalamnya menemukan kenyataan lain dalam diri kita yang tak pernah dihadirkan oleh kenyataan; diri yang resah, diri yang rapuh sekaligus kukuh, diri yang disesaki ketidakpuasan. Sebab itu, beruntunglah mereka yang tak pernah menulis, tinimbang mereka yang mengistirahatkan kata-kata.
Lalu saya mencoba mengingat kembali alasan kali pertama saya menulis dan kenapa tulisan saya terhenti. Paling tak, saya akan menulis tentang alasan ini:
Laptop:
Tujuh tahun lalu, di siang Jakarta yang terik, aku menemukannya di etalase mall elektronik di bilangan Mangga Dua. Kalau saja saya tak mampir ke Kwitang sebelumnya dan membeli belasan buku, barangkali saya masih bisa membeli laptop yang lebih baik. Sebuah keputusan yang tak pernah saya sesali. Pilihan telah kutentukan, uang sudah saya serahkan. Saya membawa pulang laptop Asus X435m.
Sejak itu, ia jadi teman sejati yang menemani perjalanan kuliah saya, juga medium kali pertama saya belajar menulis, tempat tulisan-tulisan saya menemukan ruh, sekaligus ajalnya. Beberapa kali harus diservis, pernah sekali hinggap di pelukan pegadaian saat saya melewati masa-masa krisis di Jogja, adalah sebuntal pengabdian yang akan selalu saya kenang tentangnya.
Tujuh tahun berlalu dan ia tiba pada masa senja, usia di mana ia tak lagi sanggup bekerja dengan baik. Ia tahu, saya tahu: kami harus menyudahi perjalanan remuk-redam ini bersama. Sudah saatnya saya membiarkannya beristirahat dalam tenang dan menemukan suksesornya. Seorang teman yang semoga tak kalah setia.
Lingkungan:
Tiap tulisan yang saya buat, sebagian besarnya lahir dari diskusi atau pertengkaran pikiran dengan orang-orang di sekitar saya saat menjalani hidup di Jakarta atau Jogja yang dengan gamblang menemukan tukang debat pagi-ketemu-pagi atau kutu buku yang hanya menghabiskan waktu mengurung diri dengan membaca, juga kenyataan-kenyataan di sana yang agaknya begitu mudah untuk saya resapi. Di sini, saya tak menemukan lingkaran pergaulan yang seperti itu dan memang takkan pernah sama. Celakanya, saya juga tak berhasil menciptakan lingkungan seperti yang saya inginkan di sini.
Saat masih terlibat di gerakan mahasiswa, kami menyebut fase ini dengan istilah demoralisasi: fase di mana seorang sedang berada pada masa-masa tidak revolusioner. Sebab itu, Lenin pernah bilang: “semangat seorang revolusioner justru diuji dalam masa-masa yang tidak revolusioner.” Jika berangkat dari pernyataan Lenin, sudah tentu saya bukan seorang revolusioner. Tapi saya lebih senang menyebut fase ini sebagai masa tuna karya. Masa di mana saya tak bisa mempertahankan eksistensi menulis saya karena terbelenggu oleh konformitas sosial yang ada. Jelas bahwa ini bukan kesalahan lingkungan, tetapi ketaksanggupan saya untuk melawan arus kenyataan. Apa boleh buat, laiknya tubuh, otak juga perlu latihan ringan. Dan yang bisa saya lakukan di sini adalah bertengkar dengan golongan feodal akut anti kritik.
Menikah:
Saat covid-19 kian tak terkendali, saya dipaksa pulang oleh bunda pada pertengahan April 2020. Rencana melanjutkan studi harus saya tunda untuk membayar kekhawatiran seorang ibu yang tak rela anaknya berduel dengan pandemi di perantauan. Menggunakan kereta dari Jogja, saya dan dua sepupuku menuju Jakarta karena ogah berangkat dari bandara hasil perampasan tanah.
Satu ransel berisi laptop, beberapa pasang pakaian dan sekoper buku adalah bekal yang saya bawa menuju rumah. Tak ada apa-apa selain itu, juga rencana yang hinggap di kepala tentang apa yang bakal kuperbuat setiba di kampung. Kepulangan waktu itu sebenarnya tak ada yang istimewa. Hanya menghabiskan waktu beberapa bulan setelah pandemi membaik, atau akan memaksa kembali ketika memang sudah jenuh dengan kehidupan di sana. Tapi takdir, seringkali mengejutkan. Saya bertemu dan jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada seorang perempuan. Kali ini, perempuan yang sanggup membuat bajingan sepertiku berani mengucap janji hanya dalam tiga bulan pertemuan. Ya, janji untuk sehidup semati.
Telah lama, saya berpikir bahwa pernikahan tak pernah menjadi penentu untuk mengubah seseorang, terutama diriku yang keras kepala. Saya hanya perlu sedikit bekerja untuk merasa bertanggung jawab pada seorang perempuan yang dari orang tuanya kumintai restu untuk saling menemani hingga sisa hidupnya. Namun bukan hidup namanya, jika ia tak berjalan dari suasana ke suasana. Seiring waktu, aku mulai kehilangan diriku yang dulu, diri yang sarat ambisi. Kehidupan kelas pekerja, tanggung jawab sebagai suami, menuntutku untuk menyiutkan ego pribadi. Tak terkecuali kesempatan untuk menulis. Setelah laptop yang tak kunjung membaik, urusan pekerjaan yang minta dituntaskan—tulisan yang berniat ku terbitkan sebagai buku tentang Pram, akhirnya cuma mengeram hingga saat ini.
Saya tak pernah tahu apakah ini adalah ekses dari pernikahan, atau memang karena saya mulai kehilangan gairah karena kenyataan yang berbeda. Lagipula, cara saya menjalani relasi pernikahan, bukan dengan hubungan yang sarat relasi kuasa, meski saya sadar, tak sepenuhnya dominasi patriarkal berhasil kutampik. Satu hal yang jelas, saya menyadari betul bahwa istriku menghargai tiap keputusan yang saya ambil, termasuk keinginan saya untuk melanjutkan studi dan jarak yang kelak menjadi batas yang tak muskil ditebas. Saya harus kembali melanjutkan apa yang sejak lama saya inginkan. Saya harap kali ini ia mengerti.
Narazine:
Saat kasus narkoba menimpa Unas pada pertengahan warsa 2014, BEM, Senat dan hampir seluruh UKM dibekukan oleh pihak kampus dan nahas, angkatan pertama yang merasakan kegersangan itu adalah angkatan kami. Tak banyak yang bisa saya lakukan waktu itu, selain mencari apa yang bisa saya ambil dari sana. Saat organisasi-organisasi eksternal yang meski tak dibekukan—tetap melakukan kaderisasi secara diam-diam—mempertemukan saya dengan Fajar Martha, dengan PMII. Ya, saya tak berbohong jika saya memilih PMII karena terperanjat oleh pesona intelektual Fajar.
Beberapa bulan di PMII, belum banyak perubahan yang saya alami selain membaca sebuah buku. Saya masih terus nongkrong di selasar kampus, dan hanya sesekali ikut diskusi. Hingga suatu ketika, Fajar menghampiri kami dan menyampaikan maksud untuk membangun media alternatif sebagai wadah untuk belajar menulis dan meningkatkan minat baca di Unas, terkhususnya untuk angkatan baru. Yang paling menyedihkan, Fajar sama-sekali tak mengajak saya yang berada tepat di hadapannya.
Kalau ingatan saya tak berkhianat, Ilman, Jev, Akbar dan beberapa kawan pamit meninggalkan saya bersama gerombolan hedon di selasar kampus. Saya berusaha untuk pura-pura tak tertarik sembari menyembunyikan kenyataan bahwa saya merasa ditolak. Beberapa jam setelah adegan tragis itu, Ilman dan Jev telah kembali dan berdiskusi tentang ide Fajar. Kekesalan saya kian menjadi-jadi saat menatap raut Jevandy yang dibuatnya tampak seperti Anang Hermansyah saat ditanya oleh wartawan tentang tupoksi DPR. Ekspresi yang paling menjengkelkan, sekaligus yang paling saya rindukan dari Jevandy.
Sepulang dari kampus, saya memikirkan ulang apa yang terjadi petang tadi. Kali ini, rasa malu yang saya alami kian bertalu-talu karena saya tak pernah merasa ditolak sebelumnya. Saya hanya berpikir untuk membuktikan Fajar keliru tak mengajak saya dalam rencananya. Saya tinggalkan pembaringan, laptop saya siapkan, saya memulai menulis untuk kali pertama. Tiga hari kemudian saya bentangkan tulisan itu dihadapan Fajar dan rasa-rasanya cukup untuk membujuknya menuntun saya untuk terus menulis. Pada Desember yang murung, bertepatan dengan meninggalnya Om Ben Anderson, tulisan itu dicetak dalam zine Spatkapitalismus berjudul Mahasiswa dan Demokrasi Hari Ini.
Bertahun-tahun kemudian saat Spatkapitalismus mulai berkembang, banyak kontributor mengirim tulisan untuk dapat diterbitkan. Setahun lebih membagikan zine di kampus secara gratis, kami berniat merambah pembaca yang lebih luas. Spatkapitalismus berubah nama menjadi Narazine.co setelah kanal itu dibuat. Semangat saya makin menjadi-jadi hingga di tahun-tahun mendatang, hingga suatu ketika, kanal itu diakuisisi karena belum membayar domain.
Saat Narazine diakuisisi itulah, kanal pribadi ini tercipta. Saya sadar tulisan-tulisan saya di sini tak sedisiplin dan sebaik ketika saya menulis untuk Narazine berkat ketabahan Fajar menjadi editor dan kemampuannya dalam melihat peluang dan kesalahan saya. Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, meski buruk, walau jelek, saya akan terus menulis. Bagaimanapun pentingnya Narazine dan Fajar dalam membentuk karakter menulis saya—pada akhirnya, saya akan menempuh perjalanan ini seorang diri.
Beruntung, setelah hampir satu warsa setelah Narazine mati suri, Bang Choy, membayarnya dengan uang pribadi. Pengorbanan itu, berhasil menginjeksi semangat saya untuk kembali menulis. Laiknya cinta sejati yang bisa kembali membara kalau saja ada sepercik api yang memantik—saya juga didorong oleh perasaan yang sama: rasa malu. Saya tak mungkin mengganti uang yang dikeluarkan Bang Choy karena kupikir, ia pun ogah. Satu-satunya yang bisa kuberi adalah terus menulis. Dan akan terus menulis: untuk Narazine, untuk kanal pribadiku, untuk kanal-kanal lain, Koran atau apapun—untuk hidup.
Semoga saja!
(Post-Script: seminggu yang lalu, saya baru saja membeli MacBook Pro bekas milik seorang kawan. Masih Bagus kok, yang penting bisa menulis... hehehehe)
Komentar
Posting Komentar