Langsung ke konten utama

Puspas


Apa yang menyeretmu sejauh ini?

Menuju barat jauh sekali

Sebuah kota yang tak ada lampu jingga

Jauh dari istimewa

Loka penuh lara


Tapi kau masih saja menuju barat

Dengan sepur ekonomi yang sesak

Kau seret kopermu penuh harap

Berangkat menuju kota di mana bintang lindap

Dan matahari yang selalu datang terlambat


Di ujung peron Jatinegara

Tubuhmu yang lungkrah melangkah gagah

Menemui kota di mana kesibukan ialah kawan

Di antara impitan kendaraan dan kenyataan yang menggetarkan

Raut wajahmu menelisik gamang

Nanar menyaksikan dunia berlari di kota ini


Natal sudah mengetuk pintu

Tapi manusia tak lagi mengingat Tuhan karena kelaparan

Meninggalkan petang yang sama seperti kemarin

Wajah-wajah yang diselimuti ketakutan hari depan

Berjalan tak peduli di sepanjang pematang jalan

Perempuan asing hanya diam dan menanti di depan gerbang

Sebelum tandas senja 

Ia telah pergi


***


Aku tiba di sini untuk sebuah janji

Jawabmu curai

Orang bilang kota ini adalah tempat terbaik untuk menunaikan ikrar

Meski kenyataan ini tak pernah tertulis dalam brosur-brosur wisata tentang kota ini

Lagipula ini kota terbaik untuk menggelar pertemuan dari rindu yang menahun


Meski aku tahu orang akan 

memandangnya terbalik

Tapi cinta membuat orang 

sanggup menangkap lokananta 

di antara kebisingan yang pekak

Dan di sinilah aku sekarang

Merayakan janji yang tak pernah ku Ingkari 

Dengan seorang yang telah pergi atau mungkin telah mati

Aku tak tahu lagi


Di tempat inilah janji harusnya diuji 

Sebab hanya di tempat penuh khianat lah janji punya daya magisnya yang kudus

Di tengah-tengah orang yang yang berpikir bahwa lupa telah membebaskan mereka

Seolah-olah kenangan adalah barang rongsokan


***


Namun waktu bergulir dan ia pulang ke kota yang memeluknya dengan tabah

Bertahun-tahun ia tak lagi kembali

Meninggalkan kota janji sekaligus janjinya

Dan ia pikir tak ada orang yang mengingat 

Tapi kota itu terlanjur merekam segalanya

Termasuk ikrar yang dilanggar dan cintanya yang terkapar

Di ujung jalan nama hari yang jadi pasar





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...