Langsung ke konten utama

Malio


Hidup seorang lelaki 

yang tak pernah lahir

Dari sepasang orang tua 

yang menolak bersama

Mereka hanya bercinta dan bercinta

Sebab anak-anak hanya bukti 

Dari cinta yang seharusnya 

Tak pernah menuntut bukti


Anak-anak itu mungkin

berharap tak pernah dilahirkan 

Anak-anak yang hanya bahagia 

pada masa kecil yang jenaka

Lalu menghabiskan sebagian 

besar hidupnya untuk mengutuk 

dunia yang renta dan penuh nestapa


Ketika kisah kita harus usai

Laki-laki itu masih tak pernah dilahirkan

Ia menyusuri Malioboro yang lengang

Di antara toko-toko yang padat

Ia mengaso sejenak

Lalu mencari dan mencari lagi


Di halaman istana, ia menemukan ibunya

Bersama lelaki yang tak pernah ia kenal

Ibunya tampak bahagia 

Ia berlalu dengan hati yang patah

Lalu seperti namanya: ia menjadi

wali pengembara


Ia berencana mengembarai dunia yang sia-sia 

Tapi sebelum tiba di ujung jalan 

yang tak pernah sepi

Ia sudah mengurungkan niatnya

Ia lebih memilih untuk tak pernah pergi

Untuk jadi kenangan atas cinta yang keras kepala


Di tempat saat kali pertama 

Orang tuanya saling menggenggam 

Dan berciuman dengan tenang

Ia duduk dan merenung di sana

Bagaimana bisa orang sanggup untuk saling melupakan?

Setelah semua yang mereka jalani

Ia bertanya kepada dirinya sendiri


Ia punya jawaban untuk itu

Mungkin ia memang punya 

Karena sejak awal ia tahu jawabannya:

Ia adalah pengembara yang berjalan

Dalam kehampaan dan kesia-siaan 

Di antara dua orang yang saling melupakan

Dan ia hanyalah apa yang ada dalam angan-angan 

Tak pernah jadi kenyataan

Tak pernah








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...