Suatu sore dalam ingatan paling jauh, kakek memanggilku yang bermain sendirian di pekarangan belakang rumah kami yang dipenuhi pohon-pohon pala dan kopi yang rimbun. Aku menyahutnya dengan riang sambil berlari menghampirinya karena tahu kakek pasti datang dengan membawakan hadiah.
Aku kecil tak banyak teman. Berdua dengan ibu, karena bapak lebih sering bekerja di kapal nelayan atau mengojek. Kakek, nenek dan sebagian besar keluarga ibu hidup di Ternate. Aku juga tak terlalu dekat dengan keluarga bapak. Dalam ingatanku, mereka tak selamanya ramah. Sebab itu, aku pasti senang tiap kali kakek datang berkunjung.
Aku selalu duduk di pangkuannya untuk mendengarkan cerita-ceritanya. Tentang masa kecilku, tentang kisah kecil ibu, tentang nenek, tentang rumah kami. Darinya juga, aku tahu bahwa aku satu-satunya cucu yang ia beri nama; Muhammad Iqbal: seorang penyair sekaligus filsuf asal Pakistan. Kelak, aku tahu bahwa dalam beberapa hal, aku menyanggupi harapannya dalam namaku: aku suka berpikir, aku mencintai kata-kata dan terutama puisi.
Di antara semua sepupuku, aku mungkin cucunya yang paling sering kena marah. Barangkali karena memang aku yang paling sering melanggar aturan. Aku juga tak seperti mereka yang rajin ibadah. Aku hanya anak yang cuma sesekali menggelar sajadah. Tapi tiap kali bapak dan ibu memarahi ku, ia adalah orang paling depan untuk melindungi ku dan merebahkan tangan lantas memelukku dengan tenang.
Setelah itu, ia sering bilang padaku, “kau itu pintar, hanya sedikit menyebalkan,” sembari tersenyum dan menyuruhku naik ke pangkuannya. Kalau sudah begitu, aman negara.
Saat aku tamat SMA dan memilih politik sebagai jalan studi, kakek satu-satunya orang yang menghormati keputusanku tanpa mendebat, meski aku tahu ia pernah menyuruhku mengambil hukum sebab menurutnya aku cocok jadi pengacara.
Ketika ia bertanya alasanku, aku hanya bilang kelak aku ingin berbicara di depan banyak orang. Aku ingin seperti kakek saat melihatnya berkampanye di masa kecilku. Ia hanya tertawa kecil mendengar itu dan menganggukkan kepala. Tentu dengan cirinya yang khas, “ya, ya, ya.”
Percakapanku dengannya setelah kuliah, lebih banyak diisi dengan diskusi dan sesekali kami berdebat, biasanya soal sejarah. Ku akui, kakek bukan hanya kaya pengalaman tapi juga diimbangi dengan segudang bacaan yang menempel di otaknya. Malam-malamnya selalu diisi dengan membaca hingga saat matanya tak lagi berfungsi sempurna.
Selalu ada hal-hal menakjubkan yang ku dapatkan tiap kali menggelar percakapan dengannya, terutama soal pengalaman hidup dan politiknya. Saat 65, suatu ketika kakek bercerita, ia dan nenek pulang dari Jakarta karena situasi yang tak lagi terkendali. Terutama karena nenek adalah bekas penari Gerwani.
Kakek pulang dengan membawa dua jilid Di Bawah Bendera Revolusi-nya Soekarno terbitan 59 yang ia simpan hingga hari ini di rumahnya. Ia kemudian mendirikan sekolah bersama tiga temannya di Bacan dan menamainya SMA Pelita (kini SMA N. 1 Halsel) dan mengajar secara gratis, sembari menjadi pengacara.
Profesinya sebagai pengacara di zaman Harto, membuatnya beberapa kali di kejar tentara namun tak pernah ditahan. Ia menjadi pengacara hingga saat Maluku utara dimekarkan menjadi kabupaten dan kakek terpilih sebagai anggota DPRD Malut fraksi PPP, selama dua periode.
Aku pernah bertanya dengan ragu kenapa ia memilih PPP sebagai pilihan. Bukankah kekagumannya pada Soekarno harusnya membuatnya meminang PDI? Jawaban kakek sederhana, “PDI bukan partai Soekarno. Dalam beberapa fakta, PDI justru bisa dikatakan bikinan orba. Yang jadi ironi adalah trah Soekarno sendiri lah yang melenyapkan nilai-nilai Soekarno dalam tubuh partai.”
Dalam banyak peristiwa, aku sangat mengaguminya. Ia selalu jadi orang yang patut dibanggakan. Ada banyak momen, rumah kami dikunjungi orang-orang penting hanya untuk meminta sarannya dan lain waktu untuk meminta jasanya berkampanye. Satu hal yang paling membuatku salut padanya adalah ia menghargai tiap lawan bicaranya tak peduli latar belakang mereka.
Tiap kali orang-orang di kampungku melihat aku berorasi, pendapat mereka selalu sama: “tak perlu heran, ia cucunya Achmad Redjeb,” sebuah fakta di mana aku tak pernah lepas dari bayangannya. Ada banyak momen di mana orang-orang yang tak ku kenali, memperlakukanku dengan sangat baik karena tahu aku cucunya. Orang-orang yang pernah jadi muridnya, orang-orang yang pernah ia bantu saat jadi pengacara dengan cuma-cuma, orang-orang yang memilihnya sebagai DPRD.
Ibu dan tanteku yang lain selalu bercerita tentang kakek yang selalu memberi tumpangan tiap kali ada pedagang kecil di pasar yang hendak pergi berjualan saat kakek mengantar mereka ke sekolah. Biasanya ibu dan tanteku yang lain pasti kesal karena mobil akan sesak dengan sayur-sayuran. Tapi kakek akan melakukannya esok pagi, lusa paginya, lagi dan lagi, sampai akhirnya mereka terbiasa. Momen yang kelak mereka kenang sebaik-baiknya di ingatan.
Aku juga selalu ingat satu pesan kakek yang paling sering ia bilang padaku dan sepupuku yang lain: “jangan pernah mengambil barang dan hak orang. Allah bisa memaafkan, manusia belum tentu.”
Waktu bergulir, dan diabetes menggerogotinya dengan cepat karena usianya yang sudah sangat senja. Sebulan yang lalu, kakinya di amputasi karena jaringan darah yang tak lagi berfungsi. Ini jadi operasi bedahnya yang terakhir setelah sebelum-sebelumnya satu demi satu jari kakinya di amputasi.
Beberapa jam sebelum ia berpulang, ia tak lagi bisa bicara. Aku berbisik di telinganya memberi tahu aku di sampingnya. Ia menggenggam tanganku kuat-kuat, sangat kuat. Air mataku mengalir, aku tahu waktunya tak lagi lama. Aku kemudian mempersilahkan nenek yang ingin memeluknya dan melepaskan genggamannya perlahan-lahan.
Aku menghampiri kakinya, merasakan kakinya begitu hangat, kaki yang telah banyak menapaki hidup yang penuh pesona dan derita. Kaki yang kini tak lagi utuh menghadapi satu operasi ke operasi yang lain. Kaki yang kini terlampau letih. Aku tahu orang seperti kakek telah kehilangan elan vitalnya, setelah apa yang ia beri kepada hidup dan tahu bahwa ia telah memeroleh apa yang ia terima dari kehidupan. Ini terbukti karena kakek tak mau lagi dilarikan ke rumah sakit saat sakitnya yang terakhir.
Setelah bertarung lama, kakek mulai mendapatkan nafasnya kembali membaik. Tak lama berselang, tubuhku tak kuasa menahan kantuk. Aku berbaring di ruang tamu sembari berharap hidup masih memberinya usia.
Beberapa menit aku tertidur, pukul 03. 53, tepat di malam lebaran, di hari ulang tahunku, kakek menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kado ulang tahun yang sangat menyedihkan. Tak ada pemberian kali ini. Hanya kehilangan. Aku menghampirinya dan menangis sejadi-jadinya. Aku tahu bahwa ia telah mengikhlaskan dirinya terlebih dulu untuk menyerah pada maut, sebelum kita semua sanggup melepasnya.
Hari baik, bulan baik, kakek berpulang di rumahnya yang terakhir. Meninggalkan kami semua dengan kenangan manis tentangnya. Ia dimakamkan di pekarangan belakang rumah kami tempat dulu ia sering Memanggilku yang bermain sendirian dan berlari ke arahnya dengan riang. Hari itu, di pagi yang syahdu, di bawah pohon-pohon yang kini tak serimbun dulu—kakek berlari ke pangkuan-Nya.
Sekarang, aku yang akan mengunjunginya di sana, meski tidak dengan riang, juga tak selamanya dengan air mata. Barangkali hanya dengan doa-doa dalam sunyi yang ku langitkan bersama rindu yang tak tertangguhkan.
Selamat jalan kakek tersayang.
Aku merindukanmu.
Bacan, 22 Mei.
Muhammad Iqbal.
Komentar
Posting Komentar