Ia tumbuh dengan dipenuhi rasa sayang dan kehormatan orang tuanya. Diberikan apa saja yang tak semua orang bisa memperolehnya. Bahkan mungkin, saudara-saudarinya pun tak bisa. Ia begitu diprioritaskan.
Kebahagiaanya berakhir ketika kelas lima SD. Mereka mendapati ibunya meninggal di WC saat matahari sedang memamerkan cahayanya di siang yang cerah. Namun kecerahan nampaknya tak berpihak padanya. Siang itu merupakan siang yang kelam. Siang yang merubah segala aspek hidupnya.
Kehilangan kasih sayang dari seorang ibu, membuatnya bertransformasi menjadi seorang yang harus mempertaruhkan eksistensi dan keberadaanya di bawah kolong langit sendirian. Menyambung hidup dan mengurusi dirinya sendiri tanpa orang lain peduli, bahkan orang tuanya yang masih hidup.
Lantas kehidupan gelap dan suram pun dimasukinya. Kerja serabutan hanya untuk sekadar makan dan membahagiakan diri sendiri. Kasih sayang, kesejukan yang pernah dirasakannya telah lenyap ketika sang ibu harus kalah dalam pertarungan penghabisan melawan maut. Kini, tak ada lagi yang mendengar keluh-kesahnya. Seperti nyanyi sunyi seorang bisu.
Tak ada tempat yang lebih baik selain rumah. Namun, tidak dengannya. Ia teralienasi oleh kehidupan ganas yang paling belantara. Meratapi nasibnya yang nyaris tak berpengharapan.
Kehidupan yang keras dan brutal tidak hanya melahirkan orang yang keras dan brutal pula. Sebaliknya: kehidupan seperti itu, terkadang bisa menempa seseorang menjadi pribadi yang tangguh ditengah gersangnya ketakpedulian. Ia menantang nasib, mengeluarkan segala kemampuannya untuk tetap mempertahankan kehidupan yang telah diperolehnya.
Hingga pada suatu masa ia bertemu ibuku. Merajut hubungan yang berujung pada ikatan yang sakral sebab keberadaanku. Keberadaan yang awalnya mungkin, tak diinginkan. Namun, mereka tetap menapaki jalan itu dan lagi-lagi mengajak berduel sang nasib.
Kemudian seorang putera lahir. Memamerkan tangisan pertamanya di bawah kolong langit yang disesaki oleh sederetan jenis manusia. Membawa anugerah demikian juga membawa beban: beban materi dan beban ragawi.
Bagaimana tidak, untuk hidup dan sekadar makan berdua saja, bisa dibilang terseok-seok. Dan kini ditambah seonggok daging yang kini harus diberi asupan gizi yang harus teratur. Apalagi pada saat itu, krisis moneter sedang melanda negeri ini, akibat kerakusan Harto yang menandakan harga susu melambung tinggi. Hanya segelintir orang yang mungkin dapat sanggup membeli.
Namun hidup harus terus berlanjut. Mau tak mau, semua orang harus mengikuti undang-undangnya hidup.
Tiba pada suatu masa, puteranya harus diberikan beberapa pasang baju lagi. Sebab, baju hanya tiga pasang dan ketika semuanya basah, ia harus menyeterikanya dengan seterika arang tradisional. Sabun pun hanya satu dan itu untuk segala keperluan baik mandi, mencuci dan lain-lain.
Tak ada gaji tetap sebab ojek dan buruh kasar terkadang tak bisa menunjang kehidupan yang lebih baik, membuatnya harus mencari kerja tambahan untuk menafkahi keluarganya. Kehidupan yang dijalaninya dipenuhi dengan caci-maki dan hinaan. Bahkan keluarga sendiri tak menyia-nyiakan kesempatan untuk terlibat dalam penghinaan itu. Anaknya pun terkadang tak terbebaskan oleh cacian yang membuntuti kedua orang tuanya. Namun, di bumi manusia ini, selalu saja ada manusia-manusia lain yang membela dan mengasihi kami.
Ia kemudian kerja di kantor kecamatan sebagai yang bertugas untuk menurunkan bendera setiap petang. Tak jarang, kami sekeluarga sering mandi di keran air yang ada di sana. DI lain hari aku terkadang mengikutinya untuk mengambil pasir yang dipesan oleh orang-orang yang membutuhkan jasanya dan teman-temanya.
Akupun turut terlibat dalam menyambung hidup keluarga dengan cara mengumpulkan biji pala dari tanah orang tua dari ibuku. Uangnya digunakan untuk membeli kursi untuk makan sebab bangku kayu yang sering kami gunakan telah lapuk dimakan usia. Sisa uangnya kupakai untuk memanjakan lidah lewat es krim yang sangat jarang kurasakan. Namun, hal itu tak memupus kebahagiaan singkat yang kumiliki itu.
Kehidupan berjelaga yang kami lalui tak lantas membuat kami dipenuhi dengan kesedihan. Tidak sama sekali. Kami melewatinya bersama. Hari demi hari.
Hingga kemudian tiba pada suatu hari, ia dipanggil untuk kerja sebagai honorer dan ibuku kerja sebagai guru bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan kami mulai berubah. Penghinaan yang sering keluar dari mulut para manusia bajingan itu berganti menjadi pujian dan senyum palsu yang memuakkan. Seolah apa yang pernah terjadi, telah berlalu begitu saja di bawa angin.
Kini, masa-masa itu telah lewat. Namun terkadang ketika aku melihat orang kelaparan ditengah jalan yang lengang, ingatan itu kembali pada masa kecil yang kelam itu. Masa di mana aku meninginkan sesuatu yang tak bisa aku peroleh. Kenangan itu justru menurutku bukan lah sesuatu yang menyayat hati tapi hal yang membahagiakan bagiku sebab aku dipenuhi dengan kasih sayang yang tak bakal lekang. Namun di saat yang sama pula ada dendam yang memenuhi isi hati dengan orang-orang munafik bermulut sesumbar.
Bahkan terkadang kemuakkan menggerogotiku ketika orang yang menghinaku dulu, menghina orang tuaku saat tak punya apa-apa dulu, berubah menjadi pujian yang agak menggelikan.
Bagiku, dendam itu perlu. Beberapa orang di dunia ini berjaya karena dendam. Dendam merupakan energi yang sukar ditaklukkan. Terbukti ketika ayahku telah berhasil dan seolah menampar semua orang yang menghina dan mencacinya dulu.
Yang paling menyedihkan dari apa yang pernah terjadi adalah ketika kudapati ketidakpercayaanku kepada keluarga ayahku. Hanya sedikit dari sekian orang yang kusayang dari keluarga itu. Sedikit dari yang paling sedikit. Tak lebih!
Darinya, aku belajar tentang hidup yang keras dan brutal. Darinya pula aku belajar tentang harga diri dan kehormatan. Sebagian sikapku, mungkin diwariskan olehnya yang mengalir deras dalam darahku. Terajut terlampau rapat.
Ia begitu keras kepala, demikian juga aku. Enggan dikritik, begitupun aku: terkadang. Ia membela mati-matian apa yang dianggapnya benar dan sekali lagi: aku pun sama. Kami mempertahankan prinsip yang kami pegang, sekeras apapun dunia berusaha menghancurkan. Emosi menyelimuti pribadi kami berdua.
Hal ini berujung pada stastus facebook yang mengundang kemarahannya. Aku membenci orang yang mungkin dipujanya. Tentu kebencianku beralasan: sebab ajaran Nabi yang kudalami tak pernah mengiyakan sikap seperti itu. Apalagi oleh seorang pemuka agama. Ia memanfaatkan agama untuk melanggengkan kepentingan duniawi. Aku jauh mengagumi Gus Dur dibanding para tokoh islam yang lain. Bahkan pesona Gus Dur pun pernah dirasakan oleh salah satu Presiden Iran, Ahmadinejad.
Akibat status itu, bentrok pun tak dapat terhidarkan diantara kami. Kami bertahan dengan prinsip masing-masing.
Namun, suatu ketika aku tersadar bahwa terkadang prinsip harus dilanggar dan dikorbankan demi sesuatu yang jauh lebih penting. Ia membesarkanku tanpa pernah mengeluh dan tanpa pamrih. Akhirnya kulepaskan segala ego yang tertanam dalam diri. Dan sejujurnya, aku benci ketika kita berseberangan.
Bagiku, ia adalah cerita yang tak pernah selesai. Ia selalu menyimpan ironi tersendiri.
Bukan maksudku untuk mengguruimu, namun kalau boleh ingin kutegaskan suatu hal: dengan apa yang kau miliki saat ini, di bawah pangkuan jabatanmu, jangan pernah kau rampas hak-hak mereka yang lebih kecil dan lebih membutuhan darimu. Sebab semua yang kau miliki sepenuhnya hanyalah sebuah kesementaraan.
Bukankah Quran telah menjelaskan kepada manusia yang lebih beruntung bahwa sebagian hartamu adalah milik mereka yang kekurangan. Jangan sampai keangkuhan jabatan membutakanmu dari persoalan dunia di kolong langit ini, yang kelak kau pertanggung jawabkan setelah kau dipanggil pulang.
Bukankah Quran telah menjelaskan kepada manusia yang lebih beruntung bahwa sebagian hartamu adalah milik mereka yang kekurangan. Jangan sampai keangkuhan jabatan membutakanmu dari persoalan dunia di kolong langit ini, yang kelak kau pertanggung jawabkan setelah kau dipanggil pulang.
Dan yang terakhir, jangan pernah kau lupakan orang yang pernah mengasihimu, dulu. Orang yang dengan tulus membantumu kala susah.
Terima kasih Ayahku. Kau menakjubkan.
Jogja, 11 Juni 2017.

Komentar
Posting Komentar