Langsung ke konten utama

Kau dan Cerita yang Tak Pernah Usai





Ia dilahirkan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 1 Maret, 1977. Menjadi anak ke-5 dari delapan bersaudara. Menurut cerita, pada masa kecil, ia adalah seorang anak pendiam yang bisa terbilang cengeng karena terlalu dimanjakan oleh ibu yang mengasihinya.

Ia tumbuh dengan dipenuhi rasa sayang dan kehormatan orang tuanya. Diberikan apa saja yang tak semua orang bisa memperolehnya. Bahkan mungkin, saudara-saudarinya pun tak bisa. Ia begitu diprioritaskan.

Kebahagiaanya berakhir ketika kelas lima SD. Mereka mendapati ibunya meninggal di WC saat matahari sedang memamerkan cahayanya di siang yang cerah. Namun kecerahan nampaknya tak berpihak padanya. Siang itu merupakan siang yang kelam. Siang yang merubah segala aspek hidupnya.

Kehilangan kasih sayang dari seorang ibu, membuatnya bertransformasi menjadi seorang yang harus mempertaruhkan eksistensi dan keberadaanya di bawah kolong langit sendirian. Menyambung hidup dan mengurusi dirinya sendiri tanpa orang lain peduli, bahkan orang tuanya yang masih hidup.

Lantas kehidupan gelap dan suram pun dimasukinya. Kerja serabutan hanya untuk sekadar makan dan membahagiakan diri sendiri. Kasih sayang, kesejukan yang pernah dirasakannya telah lenyap ketika sang ibu harus kalah dalam pertarungan penghabisan melawan maut. Kini, tak ada lagi yang mendengar keluh-kesahnya. Seperti nyanyi sunyi seorang bisu.

Tak ada tempat yang lebih baik selain rumah. Namun, tidak dengannya. Ia teralienasi oleh kehidupan ganas yang paling belantara. Meratapi nasibnya yang nyaris tak berpengharapan.

Kehidupan yang keras dan brutal tidak hanya melahirkan orang yang keras dan brutal pula. Sebaliknya: kehidupan seperti itu, terkadang bisa menempa seseorang menjadi pribadi yang tangguh ditengah gersangnya ketakpedulian. Ia menantang nasib, mengeluarkan segala kemampuannya untuk tetap mempertahankan kehidupan yang telah diperolehnya.

Hingga pada suatu masa ia bertemu ibuku. Merajut hubungan yang berujung pada ikatan yang sakral sebab keberadaanku. Keberadaan yang awalnya mungkin, tak diinginkan. Namun, mereka tetap menapaki jalan itu dan lagi-lagi mengajak berduel sang nasib.

Kemudian seorang putera lahir. Memamerkan tangisan pertamanya di bawah kolong langit yang disesaki oleh sederetan jenis manusia. Membawa anugerah demikian juga membawa beban: beban materi dan beban ragawi.

Bagaimana tidak, untuk hidup dan sekadar makan berdua saja, bisa dibilang terseok-seok. Dan kini ditambah seonggok daging yang kini harus diberi asupan gizi yang harus teratur. Apalagi pada saat itu, krisis moneter sedang melanda negeri ini, akibat kerakusan Harto yang menandakan harga susu melambung tinggi. Hanya segelintir orang yang mungkin dapat sanggup membeli.

Namun hidup harus terus berlanjut. Mau tak mau, semua orang harus mengikuti undang-undangnya hidup.

Tiba pada suatu masa, puteranya harus diberikan beberapa pasang baju lagi. Sebab, baju hanya tiga pasang dan ketika semuanya basah, ia harus menyeterikanya dengan seterika arang tradisional. Sabun pun hanya satu dan itu untuk segala keperluan baik mandi, mencuci dan lain-lain.

Tak ada gaji tetap sebab ojek dan buruh kasar terkadang tak bisa menunjang kehidupan yang lebih baik, membuatnya harus mencari kerja tambahan untuk menafkahi keluarganya.  Kehidupan yang dijalaninya dipenuhi dengan caci-maki dan hinaan. Bahkan keluarga sendiri tak menyia-nyiakan kesempatan untuk terlibat dalam penghinaan itu. Anaknya pun terkadang tak terbebaskan oleh cacian yang membuntuti kedua orang tuanya. Namun, di bumi manusia ini, selalu saja ada manusia-manusia lain yang membela dan mengasihi kami.

Ia kemudian kerja di kantor kecamatan sebagai yang bertugas untuk menurunkan bendera setiap petang. Tak jarang, kami sekeluarga sering mandi di keran air yang ada di sana. DI lain hari aku terkadang mengikutinya untuk mengambil pasir yang dipesan oleh orang-orang yang membutuhkan jasanya dan teman-temanya.

Akupun turut terlibat dalam menyambung hidup keluarga dengan cara mengumpulkan biji pala dari tanah orang tua dari ibuku. Uangnya digunakan untuk membeli kursi untuk makan sebab bangku kayu yang sering kami gunakan telah lapuk dimakan usia. Sisa uangnya kupakai untuk memanjakan lidah lewat es krim yang sangat jarang kurasakan. Namun, hal itu tak memupus kebahagiaan singkat yang kumiliki itu.

Kehidupan berjelaga yang kami lalui tak lantas membuat kami dipenuhi dengan kesedihan. Tidak sama sekali. Kami melewatinya bersama. Hari demi hari. 

Hingga kemudian tiba pada suatu hari, ia dipanggil untuk kerja sebagai honorer dan ibuku kerja sebagai guru bahasa Inggris di salah satu sekolah swasta.

Seiring berjalannya waktu, kehidupan kami mulai berubah. Penghinaan yang sering keluar dari mulut para manusia bajingan itu berganti menjadi pujian dan senyum palsu yang memuakkan. Seolah apa yang pernah terjadi, telah berlalu begitu saja di bawa angin.

Kini, masa-masa itu telah lewat. Namun terkadang ketika aku melihat orang kelaparan ditengah jalan yang lengang, ingatan itu kembali pada masa kecil yang kelam itu. Masa di mana aku meninginkan sesuatu yang tak bisa aku peroleh. Kenangan itu justru menurutku bukan lah sesuatu yang menyayat hati tapi hal yang membahagiakan bagiku sebab aku dipenuhi dengan kasih sayang yang tak bakal lekang. Namun di saat yang sama pula ada dendam yang memenuhi isi hati dengan orang-orang munafik bermulut sesumbar.


Bahkan terkadang kemuakkan menggerogotiku ketika orang yang menghinaku dulu, menghina orang tuaku saat tak punya apa-apa dulu, berubah menjadi pujian yang agak menggelikan.

Bagiku, dendam itu perlu. Beberapa orang di dunia ini berjaya karena dendam. Dendam merupakan energi yang sukar ditaklukkan. Terbukti ketika ayahku telah berhasil dan seolah menampar semua orang yang menghina dan mencacinya dulu.

Yang paling menyedihkan dari apa yang pernah terjadi adalah ketika kudapati ketidakpercayaanku kepada keluarga ayahku. Hanya sedikit dari sekian orang yang kusayang dari keluarga itu. Sedikit dari yang paling sedikit. Tak lebih!

Darinya, aku belajar tentang hidup yang keras dan brutal. Darinya pula aku belajar tentang harga diri dan kehormatan. Sebagian sikapku, mungkin diwariskan olehnya yang mengalir deras dalam darahku. Terajut terlampau rapat.

Ia begitu keras kepala, demikian juga aku. Enggan dikritik, begitupun aku: terkadang. Ia membela mati-matian apa yang dianggapnya benar dan sekali lagi: aku pun sama. Kami mempertahankan prinsip yang kami pegang, sekeras apapun dunia berusaha menghancurkan. Emosi menyelimuti pribadi kami berdua.

Hal ini berujung pada stastus facebook yang mengundang kemarahannya. Aku membenci orang yang mungkin dipujanya. Tentu kebencianku beralasan: sebab ajaran Nabi yang kudalami tak pernah mengiyakan sikap seperti itu. Apalagi oleh seorang pemuka agama. Ia memanfaatkan agama untuk melanggengkan kepentingan duniawi. Aku jauh mengagumi Gus Dur dibanding para tokoh islam yang lain. Bahkan pesona Gus Dur pun pernah dirasakan oleh salah satu Presiden Iran, Ahmadinejad.

Akibat status itu, bentrok pun tak dapat terhidarkan diantara kami. Kami bertahan dengan prinsip masing-masing.

Namun, suatu ketika aku tersadar bahwa terkadang prinsip harus dilanggar dan dikorbankan demi sesuatu yang jauh lebih penting. Ia membesarkanku tanpa pernah mengeluh dan tanpa pamrih. Akhirnya kulepaskan segala ego yang tertanam dalam diri. Dan sejujurnya, aku benci ketika kita berseberangan.

Bagiku, ia adalah cerita yang tak pernah selesai. Ia selalu menyimpan ironi tersendiri.

Bukan maksudku untuk mengguruimu, namun kalau boleh ingin kutegaskan suatu hal: dengan apa yang kau miliki saat ini, di bawah pangkuan jabatanmu, jangan pernah kau rampas hak-hak mereka yang lebih kecil dan lebih membutuhan darimu. Sebab semua yang kau miliki sepenuhnya hanyalah sebuah kesementaraan. 

Bukankah Quran telah menjelaskan kepada manusia yang lebih beruntung bahwa sebagian hartamu adalah milik mereka yang kekurangan. Jangan sampai keangkuhan jabatan membutakanmu dari persoalan dunia di kolong langit ini, yang kelak kau pertanggung jawabkan setelah kau dipanggil pulang.

Dan yang terakhir, jangan pernah kau lupakan orang yang pernah mengasihimu, dulu. Orang yang dengan tulus membantumu kala susah.

Terima kasih Ayahku. Kau menakjubkan.

Jogja, 11 Juni 2017. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...