Langsung ke konten utama

Komunis Bengis Yang Kerap Membuat Kita Meringis




Mengestimasi prahara hari ini, kenangan kemudian kembali pada masa yang telah lewat, saat seorang guru sejarah menjelaskan tentang peristiwa sejarah. G30S/PKI tuturnya. Penculikan 6 jenderal dan 1 perwira yang dibunuh dan berakhir di Lubang Buaya karena percobaan kudeta yang dilakukan oleh PKI untuk melengserkan Bung Karno, sang Pemimpin Besar Revolusi. Pengetahuan dangkal saya sebagai anak SD kala itu membuat saya menafsirkan Komunisme layaknya: hewan buas, pencari kekuasaan yang tak beragama bahkan bukan manusia. Najis.

Pengetahuan itu mesra dalam ingatan dalam durasi panjang. Waktu berjalan dengan angkuh dan tetap. Cukup lama dan membosankan. Pelajaran tentang pembelokkan sejarah Indonesia yang tertancap sejak kecil itu− karena sistem, menjadikan saya benar-benar nasionalis anti-kom.

Sekian tahun telah berlalu. Kini saya bergelut dengan buku dan kehidupan kampus.

***
Sendat untuk saya memposisikan berbicara dari faksi mana. Senantiasa kita dibatasi oleh kungkungan klasifikasi. Namun saya akan tetap menjajal objektivitas tulisan ini.

Pertama-tama, sembrono manakala saya tidak mengucapkan selamat tiup lilin untuk Reformasi yang ke-18. Oleh karena itu, mari sama-sama kita mendoakan para aktivis yang kehilangan nyawa kala itu ketika memperjuangkan nasib rakyat dan kita semua dengan membangkang pada tirani. Semoga arwah mereka tenang karena tidak menyaksikan pergerakan mahasiswa saat ini yang semakin progresif di media sosial. Di sisi lain, mengenang mereka kita akan sadar bahwa perjuangan manusia melawan kekuasan, adalah perjuangan ingatan menolak lupa.

Orde-babe memang telah tersungkur 18 tahun lalu. Tapi ideologi anti-kom itu masih melekat pada pikiran, bahkan sampai pori-pori terdalam setiap individu negeri ini. Pancasila dijadikan dalih untuk menindak segala sesuatu yang berbaur kiri. Memakai logo ditangkap, buku dilarang dan menuju ke tindakan represif dari sang aparatur ideologi yang tugasnya melestarikan kekuasaan untuk mengamankan status-quo. Beberapa kasus terjadi tentang pemberangusan buku-buku serta logo yang berbaur kiri diamankan oleh aparat penegak hukum.

Terakhir, di daerah saya Ternate, Adlun Fiqri beserta 3 orang temannya ditahan aparat karena memakai kaos PKI (Pecinta Kopi Indonesia), dan buku seperti Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang, bahkan buku karya Soe Hok Gie, Orang-orang Di Persimpangan Kiri Jalan, dan beberapa buku lain, disita karena dianggap menyebarkan paham komunis. Walaupun ada beberapa diantaranya orang-orang yang ditahan, banyak yang tidak mengerti dengan apa itu komunisme, dan mungkin hanya sekedar pamer agar terlihat keren.

Mungkin inilah yang disebut alay-alay Marxis. Tapi di luar persoalan mereka paham atau tidak, hal ini membuat saya sadar bahwa propaganda orba terlampau kuat dan merebak ke segala partikel dari sistem secara holistik.

Padahal, putusan mahkamah konstitusi republik indonesia nomor 6-13-20/puu-viii/2010 perihal pengujian undang-undang nomor 16 tahun 2004 tentang kejaksaan republik indonesia dan undang-undang nomor 4/pnps/1963 tentang pengamanan terhadap barang-barang cetakan yang mengganggu ketertiban umum akan dipidanakan kecuali penindakan terhadap buku buku tersebut sudah melalui proses peradilan terlebih dahulu yang dialkukan oleh kejaksaan.

Menilik persoalan ini, timbul pertanyaan besar di kepala, di mana tujuan negara yang tercantum jelas dalam alenia ke-4 UUD 1945, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, sedangkan teori dan pemikiran dari buku-buku kiri yang sebenarnya melawan penindasan dilarang beredar. Pengetahuan sebagai kapital sosial seharusnya tidak dapat dibatasi hanya karena negara ini sedang phobia terhadap simbol-simbol yang mengancam kekuasaan oligarki.

***

Pengertian dan pandangan masyarakat awam terhadap kaum kiri senantiasa ekuivalen dengan paham Komunisme, Sosialisme, Anarkisme dan paham radikal yang lain; selalu dianggap golongan yang merusak tatanan, tidak bertuhan, sampah bagi masyarakat dan kian membludak laknat mereka terhadap kaum kiri. Mereka selalu mengatakan bahwa negara ini merdeka karena jasa para pahlawan, yang terutama bukan komunis seperti yang dikatakan penulis tolol, Tere Liye.

Tapi, apakah mereka mengetahui bahwa presiden pertama Republik Indonesia, sang proklamator, faunding father, pemimpin besar revolusi, pernah mengatakan: “Pancasila sebetulnya tidak anti-kom. Karena itu aku menegakkan hal ini saudara-saudara. Pendek kalau saudara-saudara mengaku atau menamakan dirimu anak Bung Karno. Saya tidak mau punya anak yang tidak kiri.” itulah kata sang penyambung lidah rakyat Indonesia, Soekarno.

Tapi waktu melanglang cepat, membuktikan kehebatannya sebagai sesuatu yang bersifat mutlak. Bung Karno bak sejarah belaka. Indonesia berubah sejak tragedi 65-66 dan tetap sama hingga kini: komunis tidak bisa hidup di Indonesia karena bertentangan dengan Pancasila dan telah membuat luka serta duka yang mendalam karena membunuh 6 jenderal dan 1 perwira.

Untuk orang yang katanya menjunjung tinggi nasionalisme. Ketika Lentera Pembebasan mengungkit kembali afirmasi dari DN. Aidit, apakah Komunisme tidak, atau bertentangan dengan Pancasila maupun agama. Jawaban dari DN. Aidit: “Sosialisme menjadi tujuan kita.

Tapi tanpa pancasila, sosialisme tidak akan tercapai. Dan agama akan menjadi candu apabila membiaran segala bentuk penindasan terjadi. Tapi apabila agama dijadikan instrumen perlawanan terhadap penindasan kapitalisme dan kolonialisme seperti yang dilakukan oleh HOS. Tcokroaminoto dan Tirto Adi Suryo, maka agama tidak bisa dikatakan sebagai candu masyarakat.”

Ihwal petaka 65’ komunis dijadikan sebagai nestapa sejarah karena percobaan kudeta terhadap Bung Karno  serta membunuh 6 jenderal dan 1 perwira, sangatlah enigmatis dan irasional.

Begini. Dalam sejarah dituliskan bahwa percobaan kudeta yang dilakukan oleh PKI pada Bung Karno adalah dengan cara menduduki gedung RRI, yang kemudian diperangi oleh pasukan angkatan darat yang dipimpin langsung oleh Mayjen Soeharto dan berhasil merebut kembali gedung RRI.

Sekarang, dalam tesmak politik, kenapa PKI harus menduduki gedung RRI dan bukan istana negara, tempat Soekarno berada saat itu. Ironisnya data yang diberikan oleh Wijaya Herlambang dalam karyanya “Kekerasan Budaya Pasca 1965” mengatakan bahwa saat pengabilalihan gedung RRI oleh angkatan darat saat itu, tidak ada satu peluru pun yang melayang. Misteri. Selanjutnya, kenapa pembunuhan 6 jenderal tersebut, PKI tidak menjadikan Soeharto sebagai satu sasaran, padahal saat itu jabatan Soeharto adalah Pangkostrad?

 Apakah PKI yang tolol, ataukah ada pembelokkan sejarah di sini untuk menjadikan suatu kelompok selaku kambing hitam dan korban dari revolusi yang dikhianati. Perkara ini, saya seperti membaca kembali novel George Orwell, Animal Farm, dimana para binatang berhasil melakukan pembrontakan dengan tujuan: menghapuskan segala bentuk penindasan dari sang manusia dan menciptakan dunia bebas bagi para binatang.

Namun demokrasi yang diagungkan para binatang berbelok menjadi tirani di mana pemimpin harus selalu benar.

Berbincang tentang 7 korban tersebut, sejarah selalu mengakatakan bahwa itulah tragedi kemanusiaan. Tapi, pembantaian jutaan jiwa terhadap orang-orang yang dituduh PKI di Sumatera, Jawa, dan Bali tak pernah diungkit dalam sejarah. Lagi-lagi sejarah akan tetap ditulis oleh pemenang. Buku-buku usang itu, selalu berkata: penghianat pantas mati. Dan jutaan jiwa itu? Mereka hanya laporan dalam angka yang tak terhingga.

Sebelum haru-biru 65 (Gestok), terdapat perdebatan antara kelompok kebudayaan Indonesia, antara Lekra dan Manifes Kebudayaan (manikebu) sempat terjadi. Manikebu dengan segala amunisinya yang berisi sastrawan-sastrawan besar seperti Wiratmo Soekito, HB. Jassin, Sutan Takdir Alisjahbana, Mochtar Lubis, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Goenawan Mohammad, Arief Budiman dan adiknya Soe Hok Gie muncul ke permukaan dengan jargon Seni-Untuk-Seni dan mempunyai tujuan Humanis Universal di mana secara terang-terangan menunjukan sikap perlawanan terhadap kelompok yang memiliki jargon Seni-Untuk-Rakyat (lekra) tersebut.

Selain sastrawan, dalam bidang pendidikan juga ada kelompok pro-Amerika yang disebut Mafia Berkeley, diantaranya Miriam Budiardjo, dan suaminya Ali Budiardjo dan dibiayai oleh Congress for Cultural Freedom (CCF) hasil bentukan CIA pada tahun 1950 yang dimaksudkan sebagai covert action untuk ‘menciptakan dasar filosofis bagi para intelektual untuk mempromosikan kapitalisme Barat dan anti-komunisme.’ CCF ditempatkan di bawah kendali Office of Policy Coordination (OPC) yang diketuai oleh Frank Wisner, seorang pejabat CIA yang terlibat dalam perencaaan pemberontakan PRRI/Permesta 1957-1958.

CCF itulah yang membentuk yayasan Obor internasional yang diketuai Ivan Kats, seorang perwakilan CCF untuk Program Asia. Yayasan Obor internasional yang berkedudukan di New York inilah yang menjadi induk dari yayasan Obor Indonesia yang diketuai Mochtar Lubis.

Melalui yayasan tersebut, ide-ide yang ‘secara filosofis’ mempromosikan kapitalisme Barat dan sikap anti-komunis diperjuangkan. Namun kemudian pada 8 Mei 1964: Bung Karno melarang adanya manifes lain selain Manipol-usdek. Hal lain yang menjadi alasan Bung Karno membubarkan manikebu adalah-karena beberapa orang di faksi manikebu juga terlibat pemberontakan PRRI.

Lebih dari itu, dalam sebuah surat berbentuk memo sepanjang tiga halaman dengan kop surat bertanda Congress for Cultural Freedom, disebutkan persoalan tindak lanjut atas Manifes Kebudayaan. Dalam surat itu, Goenawan diminta oleh Ivan Kats untuk menulis pamflet yang bercerita tentang upaya-upaya PKI dalam menghancurkan identitas  dan pengalaman kultural dari mereka semua yang tidak berpihak padanya. Secara spesifik Kats menginstruksikan agar Goenawan menuliskannya dengan arahan agar isi tulisan itu memuat lebih banyak cerita. Sedikit analisis.

Penyebaran ideologi anti-kom yang dilakukan oleh orba, tidak hanya melalui ABG-nya (Abri, Birokrasi, dan Golkar). Tapi, juga melalui sastra dan film. Sastrawan seperti Joebaar Ajoeb dan yang disegani yang berasal dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (lekra) adalah Pramoedya Ananta Toer serta kelompoknya harus disingkirkan karena menjadi sayap dari PKI.

Satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah dikirim-kan mesin ketik oleh filsuf eksistensialis, Jean-Paul-Sartre ini, terasing dari negerinya sendiri yang ditulisnya dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Pram dipenjarakan dan dibuang ke Pulau Buruh, karya-karyanya dibakar dan diarang beredar, keluarganya berantakan, serta rumahnya diduduki militer. Ironisnya, karya Pram menjadi bacaan sastra yang wajib di Amerika.

Pramodya disingkirkan karena dituduh terlibat 65 dan bagian dari PKI. Sedang Pram pernah berkata: saya Lekra, tapi bukan PKI, saya tidak kenal Marx, tapi saya membenci segala bentuk penindasan. Dia dikagumi, namanya bagaikan asa dalam ranah sastra Indonesia maupun dunia, dia mengorbankan segalanya untuk Indonesia, usia tenaga, dan darah, tapi penguasa sedang mabuk kekuasaan, dan orang yang melawannya harus disingkirkan.

Itulah abad ke-20. Pesta tragedi pengkhianatan dan pembantaian tidak hentinya terjadi. Jutaan orang lenyap di kamp-kamp konsentrasi, krematorium, medan perang, atau reruntuhan kota yang tertimpa bom, untuk menciptakan dunia baru yang bebas (tanpa kelompok yang mengancam kekuasaan) dan harga kemanusiaan harus dibayar demi kepentingan nasional. 

Pasca afair Gestok, orang-orang yang terlibat dalam manifes kebudayaan diluar dugaan, dijadikan instrumen dari rezim untuk menyebarkan paham anti komunis dalam panggung sastra Indonesia. Inilah yang disebut Wijaya Herlambang: bagaimana orba melegitimasi anti-kumunisme melalui sastra dan film, terutama melalui sastrawan-sastrawan yang dianggap suci.

Selanjutnya, film Pengkhianatan G30S/PKI yang di-sutradarai oleh Arifin C. Noer, dengan adegan pertama pada film tersebut yang di mana PKI membakar kitab suci Al-Qur’an dan membunuh orang yang sedang melakukan Ibadah Sholat serta perlakukan keji yang dilakukan terhadap 7 korban tersebut, dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang digambarkan seperti sekelompok perempuan jalang yang menari-nari di Lubang Buaya diiringi lagu Genjer-genjer, sangat berhasil mempengaruhi khalayak tentang bahaya laten komunis yang bengis.

Namun di balik itu tahukah anda, bahwa Arifin C. Noer pernah mengatakan bahwa dia hanya menjadi sutradara boneka, dan ada tokoh dibalik layar film tersebut. Apakah pembaca paham maksud perkataannya seperti yang terlintas dalam pikiran saya?

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme dinyatakan tetap berlaku dengan seluruh ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 ini, kedepan diberlakukan dengan berkeadilan dan menghormati hukum, prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.

Hak asasi manusia katanya.

Bagaimana bisa HAM dijadikan dalih setelah merelakan pembantaian terjadi, bagi orang-orang yang dituduh PKI. Ternyata demokrasi yang sering diagung-agungkan sebagai jalan pembebasan itu, hanyalah dongeng rakyat yang di nina-bobokan oleh penguasa itu sendiri. Kontradiksi dari konsepsi demokrasi sebenarnya. Destinasi demokrasi hadir hanya untuk; menyingkirkan komunisme.


Referensi

HerlambangWijaya. Kekerasan Budaya Pasca 1965. Bagaimana orba melegitimasi kekuasaan melalui sastra dan film.
Suryajaya, Martin. Mencari Marxisme, Indoprogress.
Supartono, Alexander. Lekra vs Manikebu, perdebatan kebudayaan Indonesia 1965.
Mohammad, Goenawan . Marxisme Seni Pembebasan.
George Orwell. Animal Farm

Sulistyo, Hermawan. Palu Arit di Ladang Tebu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...