Langsung ke konten utama

Nyanyian Rindu Untuk Sahabat


Agung menepuk bahuku dan mengeluarkan sebuah kalimat yang membawa ketakutan pada hari esok: "nikmati hari ini, sebab sebentar lagi kita akan lulus dan meninggalkan segala yang terjadi di sini". Persitiwa itu terjadi disuatu siang yang temaram di sekolah yang telah lama kami tinggalkan.

Bertahun-tahun telah berlalu setelah maklumat kelulusan dikeluarkan. Kita menapaki jalan masing-masing dan entah kapan bertemu kembali. Mengecap segala kemungkinan yang ada untuk menyuar gelapnya masa depan.

Banyak diantara kita yang memilih untuk menjadi mahasiswa. Ada pun yang tengah memupuk masa depannya dengan gawai dan bola. Setidaknya aku merasa lega karena tak ada diantara kami yang menjadi seorang anjing negara.

Namun, terkadang, kenangan sering menggerogoti ingatan. Memaksa untuk mengingat apa yang pernah terjadi. Hanya butuh satu kenangan untuk mengundang kenangan-kenangan yang segera memperkosa ingatan. Seperti slide demi slide yang terus berganti.

Adakalanya, aku teringat dengan kegilaan yang acap kali dilakukan Agung. Atau Rizky, Dedi, Zul, pun Izal. Dilain waktu, saat kita mengejek Al yang bertingkah seperti waria. Banyak canda dan ribuan tawa pernah mereka lukis dalam perjalanan hidupku. Meski terkadang, mereka kerap menjengkelkan hati.

Tak perlu kubicarakan tentang rindu, sebab hal itu nyata terjadi. Kusimpan rindu-rindu yang terselip dalam doaku; semoga kalian baik-baik saja sobat.
Persaudaraan yang terpaut begitu mesrah itu tak menutup kemungkinan jika kita tak pernah bertengkar. Di tengah kita, ada pernah mencoba untuk beranjak pergi. Namun, seperti yang sama-sama kita ketahui; bahwa kita masih menjadi keluarga hingga kini dan akan selalu begitu.

Pada peristiwa-peristiwa yang terjadi dahulu, kita pernah menembus malam yang  telah larut. Tetap terjaga dan menantang kabut. Menghabiskan waktu dengan tertawa dan sesekali memancing masalah yang sebenarnya tak perlu. Pada saat-saat seperti ini, masalah pribadi nampaknya tak punya tempat kosong untuk dihiraukan.

Kadang, ada yang bertanya jam berapa? namun saat itu juga mata menolak kantuk di bawah keteduhan kelopaknya.

Aku masih terkenang ketika Izal pergi dan yang lain seperti entah kemana. Hanya empat orang diantara kita yang masih seiringan; Agung, Dedi, Rizki dan aku sendiri. Menghabiskan setiap hari bersama. Melakukan semuanya bersama. Tak ada orang lain yang menemani sedu-sedan dan tawa kami.

Orang tuaku di Jakarta saat itu. Dan kami tinggal bersama. Tiba pada suat hari, kami kehabisan uang untuk makan. Semua bersepakat untuk tak ada yang meminta kepada keluarga dan menggantung nasib pada diri sendiri. Aku dan Agung memilih untuk berjudi di atas kehidupan ojek. Menjejaki setiap penumpang yang membutuhkan jasa kami. Dedy berburu untuk mencari kerja kasar dan serabutan. Dari hasil kerja kolektif itu, kami belanja untuk makan sehari-hari. 

Ketika bulan telah tenggelam dilangit Labuha, kami mandi lantas keluar untuk mengusir penat setelah seharian waktu dihabiskan untuk sekolah dan menyambung hidup. Saat-saat yang begitu khusyuk saat aku mengingatnya.

Kini, kita telah terpisah oleh ruang dan waktu. Jarak terentang begitu jauh. Memisahkan beberapa jiwa yang menabung rindu. Ingin aku berterus terang bahwa aku merindukan kalian semua. Tak terkecuali. Semua!

Kulalui ribuan hari tanpa kalian, sepanjang malam yang hanya berteman kesendirian. Tanpa canda tawa kalian. Ingar-bingar ketika kita bersama membuatku tampak tak berdaya. Persaudaraan yang kita bangun bersama itu, kuharap takkan pernah dihancurkan oleh kejamnya arus waktu.

Sudah kukecapi sederetan jenis pergaulan diluar sana. Telah kujejali segala bentuk aroma kehidupan pertemanan didunia perantauan. Namun, tak ada yang seperti kalian. Pergaulan yang kumasuki itu, tak lebih seperti alam liar yang penuh pengkhianatan dan ketidakpercayaan. Gelap dan pekat.

Rasanya sudah lama sekali saat kita masih berseragam putih abu-abu. Ingatkah kalian, saat 11 orang pemuda berambisi untuk menjadi yang paling menonjol diantara semua siswa di sekolah? Bertingkah semaunya dan melakukan apa saja. Loncat pagar, dililit utang di kantin depan sekolah, mengolok-olok guru, berkelahi dan merusak fasilitas adalah kebiasaan yang sering kita lakukan.

Mungkin hal-hal seperti olimpiade matematika dan kimia, cerdas-cermat, dan debat antar sekolah adalah hal yang tak mungkin kita lakukan saat itu. 

Kawan, ada suatu kenangan yang tak pernah kulupakan bahkan mungkin sampai kelak aku pulang menghadap pada yang Kuasa. Peristiwa itu adalah saat aku mengikuti lomba pidato tanpa teks dilapangan tempat kita menghabiskan malam panjang. Kalian datang segerombol untuk mendukungku, meneriakkan namaku dan menyemangatiku.

Mungkin sikap kalian kepadaku saat itu adalah suatu adagium kebanggan yang tak pernah bisa terungkap dari mulut kalian secara langsung. Sebab kita sama-sama tahu, bahwa diantara kita belum ada yang pernah berprestasi dibidang akademik. Berkat semangat dan perhatian kalian, aku berhasil membanggakan sekolah sialan itu. Tidak. Bukan sialan; sekolah itu justru memberikan berkah dan sederet kenangan yang telah terukir dalam lubuk ini.

Pun saat aku, berhasil terpilih untuk mewakili Kabupaten untuk menjadi seorang Paskibra Provinsi Malut. Kalian memujiku didepan Purna lain, bahwa saudara kalian telah berhasil mengharumkan nama sekolah, demikan juga daerah kita. Takkan pernah kulupakan masa-masa itu. Tak pernah sahabat.

Akupun berada dilapangan untuk menonton kalian saat Tim SMA kita sedang bertanding. Sobat, kedatanganku sekadar memberikan perhatian lebih untuk mendukung apa yang sedang kalian kejar, dan mungkin kalian tahu akan hal itu.

Beberapa tahun yang akan datang, kita akan segera menikah. Memasuki dunia baru yang belum tersentuh sama sekali. Kuharap pada saat itu pula, jangan pernah kalian tinggalkan dan lupa bahwa telah banyak cerita yang pernah terlukis disini.

Dibalik kegilaan Agung, dia adalah seorang yang tulus mengasihi. Dibalik lemahnya fisik Al, dia adalah orang dengan hati yang kelewat lapang untuk membuka pintu maaf. Dibalik sikap onar Rizky, dia adalah orang yang peduli dan layak untuk menjadi pemimpin. Dedy, dibalik ketidakpeduliannya terhadap apapun, dia adalah seorang yang akan membelamu. Dibalik kekakuan Basir, dia adalah orang yang begitu sabar. DIbalik kebiasaan Izal yang kerap mengolok, dia mempunyai telinga yang siap mendengarkan keluh kesah kalian. Disaat kalian terkadang jatuh ditabrak kenyataan, Zul lah orang yang dengan penuh semangat mendukung kalian. Dan dibalik sikap egoisku, percayalah bahwa aku menyayangi kalian. Kuharap kalian takkan melupakan ini. Sebab orang yang sering bersama kalian itu, adalah rumah yang nyaman saat ganasnya kehidupan menghantam kalian.

Teman, adakalanya aku diluar batas dan menyakiti kalian tanpa kusadari. Maafkan aku untuk itu. Sebaliknya; semua kesalahan kalian telah kubuang pergi jauh. Tak ada tempat untuk kemarahan atas kalian.

Tulisan ini sengaja kubuat ketika rindu pada kalian enggan beranjak dan insomnia susah pergi. Dimanapun kalian berada, kuharap kalian baik-baik saja.

Semoga, kita akan tetap seperti ini hingga kelak maut yang mengkhianati dan mencekam tanpa terlihat.

Terima Kasih saudaraku. Kalian Istimewa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...