Langsung ke konten utama

Kereta


langkah kaki terasa berat di stasiun tempat biasa kau mengantar—kadang menanti

ranselku yang penuh disesaki kenangan

lonceng kereta terdengar sangat dekat

di batas pengantar, tanganmu melambai

dengan senyum manismu yang cemas



malioboro, tamsis, kabut di bukit bintang, mio butut, segalanya berkelebat di ingatan

waktu tak pernah memihak pada kita

pada cinta

sebab kita tak pernah punya waktu

waktu lah yang memiliki kita

juga tuhan



aku memasuki gerbong paling belakang

tempat biasa yang sering kau pesan

seorang kekasih menangis melepas cintanya

pencinta pemula, umpatku

sebab kita sudah terbisa sejak semula

tapi rindu selalu terasa sama, batinku meracau



aku duduk di kursi entah nomor berapa dan 

di kereta, pengumuman berkumandang: 


“jaga hati-hati barang bawaan anda

kehilangan bukan tanggung jawab kami”


aku menatap jendela yang lengang dan

bergumam dalam sunyi:


“ada yang selalu hilang dalam tiap perjalanan: pertemuan, pelukan juga kecupan-kecupan”


kereta melaju menuju sesuatu yang bukan tujuan

ku lihat lagi wajahmu dari kejauhan, hilang

perjalanan yang begitu mencekam

meluncur dalam kelam



pada malam seperti ini, kau sering ku ajak mengakrabi kota dan berujung di jantungnya

tiap kali mengaso: kau menuntutku bercerita tentang buku-buku, puisi, roman aksi, kisah-kisah heroik yang sebenarnya ingin sekali aku lari

sambil berbaring menatap bintang-bintang pucat dan langit yang kian pekat



wates, kebumen, gembong, purwokerto...

dan tubuhku kau belah menjadi dua

satu di sini sisanya di peron keberangkatan

mata-mata lelap di bawah teduh kelopaknya 

ku coba memejamkan mataku

merasakan bau tubuhmu

menggigit bibirmu yang mendung

berbaring di semesta pelukmu yang palung

mencumbui dadamu yang sibela

mengikat tali kapal dan menepi di dermaga pinggulmu


biru


serupa sauh



ku teguk kopi yang tak lagi hangat

dan rindu tumpah sejadi-jadinya 

sementara gelap menyesaki pelataran yang dilalui kereta

sesekali ada cahaya di kejauhan

di jendela, dingin menguap

ku tulis sebuah kata, juga namamu di sana



aku tersadar dan merogoh ponsel yang sedari tadi mengalunkan lagu-lagu sisir tanah yang kini terasa ngilu


“lagu pejalan” haha ironi untuk seseorang yang ingin tinggal


dan pesan singkatmu telah lama mendarat: “aku merindukanmu. selalu sama. tak pernah terbiasa. cepat kembali.” 


ku balas dengan sebuah kalimat serta secuil simbol: “pada akhirnya, semua perjalananku—sejauh apapun itu—akan membawaku pulang. padamu. tunggu saja di situ dan simpan semua gincumu untuk ku” ditutup dengan mawar dan tangisan kecil seperti gerimis

tapi hatiku hujan deras

basah seperti tubuh kita yang berkeringat saban malam


dan di dadamu lah semuanya tergenang



—ku kenang

         


          sendiri.




                 


                                       Progo, 22.34. aku merindukanmu/






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...