langkah kaki terasa berat di stasiun tempat biasa kau mengantar—kadang menanti
ranselku yang penuh disesaki kenangan
lonceng kereta terdengar sangat dekat
di batas pengantar, tanganmu melambai
dengan senyum manismu yang cemas
malioboro, tamsis, kabut di bukit bintang, mio butut, segalanya berkelebat di ingatan
waktu tak pernah memihak pada kita
pada cinta
sebab kita tak pernah punya waktu
waktu lah yang memiliki kita
juga tuhan
aku memasuki gerbong paling belakang
tempat biasa yang sering kau pesan
seorang kekasih menangis melepas cintanya
pencinta pemula, umpatku
sebab kita sudah terbisa sejak semula
tapi rindu selalu terasa sama, batinku meracau
aku duduk di kursi entah nomor berapa dan
di kereta, pengumuman berkumandang:
“jaga hati-hati barang bawaan anda
kehilangan bukan tanggung jawab kami”
aku menatap jendela yang lengang dan
bergumam dalam sunyi:
“ada yang selalu hilang dalam tiap perjalanan: pertemuan, pelukan juga kecupan-kecupan”
kereta melaju menuju sesuatu yang bukan tujuan
ku lihat lagi wajahmu dari kejauhan, hilang
perjalanan yang begitu mencekam
meluncur dalam kelam
pada malam seperti ini, kau sering ku ajak mengakrabi kota dan berujung di jantungnya
tiap kali mengaso: kau menuntutku bercerita tentang buku-buku, puisi, roman aksi, kisah-kisah heroik yang sebenarnya ingin sekali aku lari
sambil berbaring menatap bintang-bintang pucat dan langit yang kian pekat
wates, kebumen, gembong, purwokerto...
dan tubuhku kau belah menjadi dua
satu di sini sisanya di peron keberangkatan
mata-mata lelap di bawah teduh kelopaknya
ku coba memejamkan mataku
merasakan bau tubuhmu
menggigit bibirmu yang mendung
berbaring di semesta pelukmu yang palung
mencumbui dadamu yang sibela
mengikat tali kapal dan menepi di dermaga pinggulmu
biru
serupa sauh
ku teguk kopi yang tak lagi hangat
dan rindu tumpah sejadi-jadinya
sementara gelap menyesaki pelataran yang dilalui kereta
sesekali ada cahaya di kejauhan
di jendela, dingin menguap
ku tulis sebuah kata, juga namamu di sana
aku tersadar dan merogoh ponsel yang sedari tadi mengalunkan lagu-lagu sisir tanah yang kini terasa ngilu
“lagu pejalan” haha ironi untuk seseorang yang ingin tinggal
dan pesan singkatmu telah lama mendarat: “aku merindukanmu. selalu sama. tak pernah terbiasa. cepat kembali.”
ku balas dengan sebuah kalimat serta secuil simbol: “pada akhirnya, semua perjalananku—sejauh apapun itu—akan membawaku pulang. padamu. tunggu saja di situ dan simpan semua gincumu untuk ku” ditutup dengan mawar dan tangisan kecil seperti gerimis
tapi hatiku hujan deras
basah seperti tubuh kita yang berkeringat saban malam
dan di dadamu lah semuanya tergenang
—ku kenang
sendiri.
Progo, 22.34. aku merindukanmu/
Komentar
Posting Komentar