Kau ingat, kita beberapa kali pernah melewati senja dalam kereta.
Kita juga kadang bercinta, di bawah naungan senja yang merah.
Tapi itu sudah lama sekali. Entahlah; apa kau masih ingin mengenangnya atau tak.
Ann, setelah kita menggelar kepergian ke arah yang berbeda, aku tak lagi bisa menikmati senja dengan khusyuk.
Justru, aku lebih banyak melewati senja di pembaringan dan tak sadarkan diri.
Seperti waktu itu, saat kau murka tiap kali kita berjanji untuk melewati senja dan aku tak dapat memenuhi karena ketiduran.
Kemarin adalah senja paling merah yang pernah ku lihat, Ann. Di Bacan. Tempat terbaik untuk menikmati matahari pulang ke dekapan cakrawala.
Senja itu harusnya senja terbaik yang ada di bumi manusia. Tapi anehnya, hanya senja yang sedang memerah, hatiku justru membiru.
Mungkin karena tak ada kau di sampingku.
Jutaan puisi mengabur di kepala, tentang senja, Tentangmu, Ann. Tapi kata-kataku terlanjur habis diserap sesal yang keparat. Jadilah catatan ini. Semoga saja kau sempat membacanya. Atau jika kau tak punya waktu untuk ini, maka biarkan ini jadi surat cinta yang berlabuh di lautan lepas tanpa daratan. Biarkan ia berlayar menuju samudera tak bertepi. Hingga suatu hari, ia lelah dan karam.
Komentar
Posting Komentar