“Saya Percaya bahwa seseorang tidak bisa meninggalkan rumah. Saya percaya bahwa seseorang membawa bayangannya dan ketakutan-ketakutannya di bawah kulitnya sendiri, di sudut yang tajam dari mata seseorang, mungkin juga di bawah tulang rawan daun telinga.” -Maya Angelou-
Sebagai salah satu kota metropolis
di Argentina, Rosario tak banyak menawarkan pilihan untuk seorang anak kecil dan
mimpi besarnya. Kekurangan hormon pertumbuhan membuat bakatnya hampir terbuang
sia-sia. River Plate, musuh bebuyutan Boca, tak mau ambil risiko untuk membiayai
pengobatan seorang anak berusia 11 tahun yang masih belum pasti akan
mendatangkan keuntungan bagi klub atau tidak, paling tak, di kemudian hari.
Carles Rexach,
direktur olahraga Barca, lantas menemukan talenta Leo kecil dan berjanji bahwa
Barca akan menanggung biaya kesembuhannya asalkan si anak bersedia hijrah ke
Spanyol. Serbet makanan berbahan kertas lesu menjadi bukti keseriusan Barca
untuk memberikan kesempatan padanya untuk mewujudkan mimpi menjadi pesepakbola professional.
Messi dan keluarganya yang papa telah mengocok dadu. Perjudian nasib dimulai. Mereka
memutuskan pindah demi impian La Pulga kecil.
Leo bermain di
akademi Barcelona, La Masia hingga suatu ketika, Rijkaard memberinya kesempatan
untuk bermain di tim utama Blaugrana. Tanggal 16 Oktober, 2004, mimpi si anak
yang sudah menjadi seorang remaja tanggung akhirnya terwujud. Menggunakan nomor
punggung 30, dengan raut wajah yang cemas namun gemas, ia memasuki lapangan
yang dipenuhi pemain-pemain bintang di sisinya.
Tak banyak
kesempatan setelah itu sampai akhirnya pada hari buruh 2005, ia mencetak gol
pertamanya melawan Albacete. Di warsa berikutnya, ia telah menjadi pemain reguler
Barca dan sejak itu tak pernah tergantikan. Mencetak gol demi gol, membuat
rekor, bukan lagi sesuatu yang asing bagi La Pulga. Pengorbanan Barca pun
terbayar: si anak memberi banyak gelar.
Bersama Cristiano,
Messi menjadikan La Liga sebagai tontonan yang menggairahkan. Tiap pasang mata
tak pernah melepaskan pandangannya tiap kali mereka bersua dalam el-clasico. Pertarungan
antara kerja keras dan bakat, begitu para pandit menyebutnya. Mereka jadi
sasaran empuk untuk dihujat tiap kali tim mereka bermain buruk. Tapi waktu
beranjak dan Cristiano akhirnya pergi memeluk Nyonya Tua.
***
Skuad inti
Barcelona jarang dipenuhi pemain-pemain medioker. Pada era-era awal dan
pertengahan Messi di Barca pun, mereka disesaki nama-nama besar yang diproduksi
dari La Masia atau didatangkan dari antah-berantah dengan harga tinggi. Nama-nama
seperti Ronaldinho, Eto’o, Ibrahimovic, Trisula lapangan tengah mereka, Puyol
dan sederet pemain beken yang silih-berganti menghiasi line up adalah bukti bagaimana Barca dengan segumpal kelemahannya—tetaplah
sebuah klub dengan mentalitas juara.
Di bawah
asuhan Pep, Messi menjelma monster paling berbahaya tiap kali bola berada di
kakinya. Semua pemain dimandatkan untuk memberikan bola padanya. Sebuah alasan
yang pada akhirnya membikin Ibra hijrah, demikian banyak pemain bintang yang
kehilangan gemerlapnya saat bermain bersama Messi.
Pemain-pemain
yang datang dan bermain bagi Barca, mereka menemani Messi, bersama memberikan
gelar untuk Barca, namun cinta mereka bagi Barca, berbeda dengan cinta Leo:
cinta yang melankolik, cinta yang nostlagik sebagaimana ingatan masa kecilnya—dan
mereka pergi atau ironisnya dibuang setelah tak dibutuhkan. Tapi Messi tetap di
sana dan tak pernah pergi. Menyaksikan Barcelona menjadi raksasa tak terkalahkan,
sekaligus di lain waktu, menjalani riwayat yang pahit, musim demi musim.
Barcelona,
adalah sebuah klub yang barangkali seperti jargonnya sendiri: More than a Club; ia adalah sebuah
representasi perlawanan klas tertindas sekian lamanya di bawah pemerintahan
fasis Franco, menjadi alat perlawanan bagi publik Catalan lewat bendera dengan corak
warna sinyora, menjadi kebanggaan dan harga diri bangsa Catalan. Seorang kawan asal
Amerika yang beta temui dalam perjalanan menuju Samosir, bahkan menyebutkan
kota itu bisa menjelma kota mati tiap kali Barca bertanding: sebagian besar
penduduk kota menyesaki Camp Nou.
Tapi Barca,
bukanlah rumah yang ramah bagi setiap pemain yang datang di era modern. Sama seperti
klub kaya-raya lain di Eropa, pemain-pemain yang tak bisa lagi berkontribusi
bagi tim, akan dilego secepatnya. Pemain seperti Puyol, Totti atau Maldini,
yang mengabdikan hidupnya untuk sebuah klub hingga saat terakhirnya di sepakbola,
muskil ditemukan lagi di era ini. Era di mana sepakbola bukan lagi tentang
harga diri dan loyalitas, tentang kepenatan klas pekerja yang mendapati
sepakbola sebagai hiburan paling sederhana dan alat perlawanan klas. Kini
bertransformasi menjadi sebuah tontonan mahal, gemerlap pemain dengan gaji selangit.
Barca mau
tak mau, akhirnya mengikuti cuaca sepakbola modern ini. Mereka membuang
pemain-pemain yang tak lagi berkontribusi banyak bagi tim, tak penting sedalam
apa cinta sang pemain untuk klub dan sebanyak apa gelar yang ia berikan.
Pemain-pemain
penting dilego demi masa depan klub yang telah ditentukan oleh dewan direksi
dan pelatih. Saat kali terakhir Barca menjuarai Champions di tahun 2015, banyak
pemain hijrah dan dijual setelah tahun menakjubkan itu. Xavi pergi kemudian
disusul belahan jiwanya Iniesta. Kepergian yang mungkin didorong oleh fakta
bahwa cepat atau lambat, Barca akan menyudahi hubungan yang kelewat liris itu
dan lebih baik mencegah hati yang terancam patah sebab keinginan untuk tetap
bertahan, sebelum sang kekasih memutuskan lebih dulu. Frasa yang mengatakan
bahwa “saat kau tahu sesuatu akan berakhir buruk, mungkinkah kau menyudahinya
saat masih terasa indah?”—menjadi metafora yang pas dalam melukiskan ihwal ini.
Sederet pemain
pergi. Mascherano, Alves, Neymar, dan yang terakhir ini, Luis Suarez. Tapi Messi
sekali lagi masih di sana, bertahan menatap teman-teman sekaligus pemain-pemain
hebat itu pergi. Ia belajar mengakrabi kehilangan lagi dan lagi. Tapi kali ini
ia ingin pergi setelah Barca bukan lagi seorang kekasih yang dikenalinya saat
kali pertama ia tiba. Camp Nou akan selamanya menjadi rumah baginya. Tapi
seperti seorang anak lain, yang tumbuh hingga dewasa di sebuah rumah—ia juga
punya keinginan untuk beranjak dari tempat semula di mana ia memulai semuanya
untuk kali pertama.
Tapi kita
tahu Messi tak diizinkan beranjak ke manapun ia ingin. Cules garis keras juga menghardiknya sebagai seorang yang tak tahu
berterima kasih karena telah mengkhiantai klub yang telah membesarkan namanya. Barca
menganugerahinya sebagai pemain terbaik mereka sepanjang sejarah dan karena
itu, ia dikutuk untuk tak pernah meninggalkan Catalan. 700 juta euro adalah
harga untuk memasungnya di Camp Nou.
Januari ini,
ia punya kesempatan untuk pergi secara gratis. Ia bisa saja memilih untuk pergi
atau bertahan menggapai mimpi-mimpinya yang lain. Ia memang harus pergi jika memang itu yang ia inginkan. Sekalipun jelas, bahwa
kita tak pernah membayangkan ia menggunakan
seragam lain, selain Barca dan berkunjung ke Camp Nou sebagai seorang anak yang hilang.
Ia tak
berhutang apa-apa untuk Barca, untuk kita, Cules
di seluruh dunia. Ia telah memberikan segalanya untuk Barca dan mengukir namanya
di ornament sejarah yang terpatri di dinding-dinding Camp Nou. Kerelaan untuk membiarkan
ia pergi adalah balasan cinta paling personal untuknya dan kita bisa melepasnya
tak hanya dengan sekadar lambaian tangan dan kerinduan yang bakal menahun, tapi
juga dengan pasase yang agaknya terdengar klise: semoga menemukan rumah yang
ramah, rumah yang sama teduhnya.
Barangkali
sudah saatnya kita merasakan hal yang
sama seperti yang selama ini ia alami: mengakrabi kehilangan. Dan kepergian,
adalah jalan terbaik untuk memahami perasaannya; kehilangan yang melankolik dan
cinta yang nostalgik. Toh, pada awal dan akhirnya, semua orang harus moving
on setelah hang on sekian
lamanya.
Jadi nikmati saja selama ia masih bermain untuk Barca.

Komentar
Posting Komentar