Langsung ke konten utama

Kemala dan Mega: Sebuah Koinsidensi.

 

Kemenangan Biden dan Kemala Harris dalam Pilpres Amerika Serikat menegaskan bahwa The American Dreams bukan sekadar sentimen nasionalisme atau melankolia  kolektif, atau sekadar slogan ganjil seperti NKRI harga mati yang selalu dipekikkan oleh para pengidap nasionalisme buta. Jauh dari itu, ia membuktikan bahwa mimpi Amerika adalah mimpi yang nyata, mimpi yang dapat dicapai semua anak-anak yang lahir dan tidak sekadar menjaga utopia mereka sebagai suatu bangsa tetap menyala.

Tak percaya? Silakan Tanya sama Si Anak Menteng, atau Si Lelaki Tua yang terus berhasrat berkuasa dan tentunya pada Kemala: seorang perempuan kulit hitam pertama yang menduduki Gedung Putih.

Kemenangan ini, dalam titik tertentu, merupakan kemenangan masyarakat kulit hitam yang beberapa bulan belakangan didera rasialisme tak berkesudahan—yang dalam persatuannya dapat menyerukan perlawanan atas Trump yang tidak mampu menyelesaikan perseteruan ras, atau malah seperti membiarkan hal itu terus-menerus terjadi.

Selain itu, kemenangan ini adalah satu langkah maju bagi kaum feminis yang merasa ada harapan akan hari depan yang lebih baik bagi perempuan yang mewujud dalam sosok Kemala Harris. Ia adalah eksemplar dari perempuan maju abad modern yang ideal: ia politisi yang beberapa kali pernah berjuang untuk hak-hak perempuan, para penyintas kekerasan seksual dan menghancurkan segala skeptisisme tentang perempuan yang diklaim hanya pantas berada di ruang domestik.

Ia menjadi harapan bagi tiap-tiap perempuan yang lahir ke dunia, bukan saja di Amerika, tetapi seluruh dunia untuk terus bermimpi dan percaya bahwa perempuan bisa melakukan hal-hal yang sama seperti dilakukan laki-laki atau bahkan melebihi.

Amerika bisa saja bangga dengan demokrasi mereka, keterbukaan mereka terhadap kebebasan berpendapat, toleransi ihwal orientasi seksual individu dan segala kemajuan peradaban yang mereka ciptakan. Tapi dalam soal perempuan yang memimpin, mereka kalah jauh dari kita. Kemala jadi wakil presiden dan semua orang heboh, sedangkan Indonesia, sudah melewati itu di awal-awal millenium saat Megawati berkuasa.

Tak tanggung-tanggung dan memang lebih hebat dari Kemala yang memenangkan pertarungannya bersama Biden dalam pemilu, Mega justru melakukannya dengan jalan yang lebih revolusioner dan terorganisir untuk merebut kekuasaan lewat Sidang Istimewa MPR. 

Mega mungkin percaya bahwa pemilu hanya melahirkan penindas-penindas baru dari sistem bobrok yang dikontrol oleh penguasa, oleh karena itu ia menggunakan apa yang diminta Marx: rebutlah alat produksi kekuasaan sebab pemilik alat produksi Gus Dur takkan memberikannya secara sukarela.

Setelah berhasil, ia mungkin bergumam mengulangi pesan ayahanda: ‘pendek jikalau saudara-saudara mengaku atau menamakan dirimu anak Bung Karno, saya tidak mau punya anak yang tidak kiri.” Ia mengucapkan itu berkali-kali sebelum tidur nyenyak pada malam pertamanya sebagai presiden. Dan seperti anak-anak berbakti lainnya, ia akan tenang setelah merampungkan keinginan sang bapak.

Kita tahu, bahwa itu khayalan beta saja, sebab Bung Karno dengan segala ketaksempurnannya sebagai presiden maupun pendiri bangsa yang sudah bertungkus-lumus memberikan segalanya untuk rakyat Indonesia, tak pernah tega melihat siapapun merusak apa yang telah dibangunnya dengan kawan-kawan—bahkan oleh anaknya sendiri. Terlebih ia juga dijatuhkan dengan cara yang hampir sama seperti Mega melengserkan Gus Dur. Sejarah memang kerap berulang, sebab itulah bahasa Indonesia kita punya kata yang teramat musikal menjelaskan itu: koinsidensi. “Yang pertama terjadi sebagai tragedi, yang kedua sebagai komedi” (nah, kalo ini tutur Mbah Jenggot).

Beta sebenarnya tidak punya niat untuk membandingkan antara Kemala dan Mega, sebab beta pikir mereka berdua sama seperti kita kebanyakan yang enggan jika dibandingkan. Tapi apa daya, beta ini rakyat yang keras kepala dan kurangajar. Suka-suka beta mau bandingkan penguasa mana saja.

Dari pada banyak basa-basi lagi dan nanti dibilang bacot, ya sudah, mari kita mulai.

Mega dan Kemala itu sama-sama perempuan. Yang satu pernah jadi presiden, yang satu baru memulainya sebagai wakil presiden. Mereka berdua juga sama-sama jadi penyulut mimpi perempuan untuk bisa melakukan banyak hal terkhususnya menjadi representasi dan penyambung lidah dalam pelbagai persoalan yang menindas kaum perempuan.

Tapi sekarang begini, saat Mega berkuasa, apa kebijakannya memihak pada kaum perempuan? Alih-alih melindungi suatu kelompok, Mega malah mengirim tentara ke Aceh dan Papua sebagai sasaran operasi militer dan korbannya bukan hanya laki-laki tapi juga perempuan. 30.000 tentara dan 12.000 polisi menjadi operasi militer terbesar sepanjang sejarah reformasi dan semua itu dilakukan pada warsa 2003 saat Megawati berkuasa.

Persoalan perempuan memanglah persoalan yang sangat substansial, tetapi itu bukan kontradiksi pokok-nya. Apalagi jika teman-teman feminis yang budiman beranggapan persoalan ini hanya bisa diselesaikan jika perempuan lah yang berkuasa. Penindasan itu tak pernah memandang gender, dab. Sekalipun kita akui bahwa dalam banyak peristiwa, perempuan menjadi klas yang lebih sering terkena dampak dari kekerasan struktur yang dihasilkan oleh penguasa.

Selama rezim yang berkuasa adalah rezim boneka imperialis yang mengabdi kepada kepentingan kapitalis monopoli internasional, persetan perempuan atau laki-laki, tetap akan merasakan penindasan yang sama. Sebab kontradiksi yang pokok adalah kontradiksi antara si berkuasa dan yang dikuasai, ia yang memimpin dan menentukan kontradiksi turunan yang tidak pokok: termasuk langgengnya praktik dari budaya patriarkal yang sama-sama kita kecam.

Selama Negara masih dikuasai oleh tiga musuh rakyat, selama itu pula penindasan menjadi kejadian yang biasa. Perjuangan kaum perempuan bukanlah perjuangan yang sektoral, yang dalam wujudnya menegasikan peranan kaum laki-laki; ia justru mengintegrasikan diri dalam perjuangan rakyat secara holistik, terlibat dalam konflik-konflik sosial yang diciptakan rezim boneka: pendeknya, problem perempuan adalah masalah rakyat tertindas pada umumnya; kelaparan, perampasan ruang hidup, penggusuran atau konflik agraria; ia adalah satu. Ia tak pernah terpisah dengan yang lain.

Pertanyaannya sekarang, apakah kemenangan Kemala adalah kemenangan kaum perempuan? Bisa ya, tetapi bisa juga tidak, tergantung dari mana kita melihatnya. Secara khusus, kita bisa mengatakan ya sebab ia seorang perempuan dan seperti yang sudah beta sebutkan sebelumnya, ia menginjeksi banyak perempuan di seluruh dunia untuk terus menggapai impian yang dulunya dianggap muskil bagi seorang perempuan. Ia pantas mendapatkannya setelah apa yang ia alami dan seluruh warga kulit hitam dan kaum perempuan Amerika.

Tapi apakah ia sepenuhnya berhasil mematahkan mitos tentang perempuan? Tidak juga. Sebab dalam titik tertentu, kita bisa mengambil konklusi yang lebih radikal bahwa ia hanya wakil presiden dari Biden yang laki-laki dan membuktikan apa yang ditentang oleh kita semua sekian lamanya, bahwa perempuan hanya menjadi subordinat laki-laki. Dan kehebohan ini, justru terjadi di Amerika: Negara yang kita pikir sangat maju dalam menyikapi kesetaraan gender.

Maka mari merayakan kemenangan ini dengan cara yang amat ganjil sebagai dukungan kita terhadap seluruh perempuan di dunia, khususnya di Amerika yang memasuki tahap maju atas perjuangan mereka dan berharap Kemala jauh lebih baik dari Mega (dan memang itu kenyataannya) tetapi di samping itu, kita akan selalu bersikap curiga terhadap imperialisme Amerika Serikat yang dalam pengalaman sejarah telah menggempur dan menciptakan konflik di seluruh dunia bahkan di Indonesia dan mencengkeram kita sebagai Negara setengah jajahannya.

Kita bisa mengalahkan mereka dan menyelamatkan diri dari penindasan, termasuk menyelesaikan persoalan perempuan, bukan karena Kemala atau Mega, apalagi Puan, tapi dengan organisasi yang progresif dan revolusioner. Organisasi yang dalam konstitusi dan praktiknya mendidik perempuan dan laki-laki dalam barisan yang sama untuk berjuang bersama rakyat dan bukan menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk memperdebatkan kontradiksi non-pokok, apalagi sampai mempersoalkan pengertian secara linguistik dari kata perempuan yang kita tahu memakan waktu.

Tabik!

 

x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...