Langsung ke konten utama

Jatinegara


Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang

Buih membelai sekujur tubuhnya

Di tubuh mungil itu

Terselip luka yang menahun

Menyimpan lara yang mengental 


Sore itu, ia ingin pergi jauh

Dengan ragu, ia menantang gelombang

Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan

Sebenarnya, ia memang ingin mati

Barangkali ia memang punya kehendak

Dan berkuasa atas takdirnya


Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa 

Ia hanya punya diri yang tak berdaya

Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara

Dan ia hanya nada sumbang

Dari lagu penghidupan

Yang tak pernah ia mainkan

Takdir pun tak pernah hidup untuknya

Sebab itu ia paham satu soal:

Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya


Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya

Ia telah kembali untuk menjalani semuanya

Sebab ia tak pernah memilih apa-apa

Bahkan kematian yang mempesona


Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap

Seorang bocah yang hanya tau merengek

Berbapak yang cuma paham menghantam

Yang satu candra menghilang entah

Tak ada apa-apa yang tersisa

Selain perabotan rombeng hasil gambling


Di beranda, seorang tua bertamu

Berang, sang suami menunggak utang

Dan tak ada gula dan roti untuk dihidangkan

Apalagi kepeng

Tapi tak semua tentang dirinya adalah sia-sia

Tubuhnya masih tetap sesuatu yang dikara

Meski tercabik-cabik sekian lamanya


Ia pikat seorang tua masuk

Ia jejalkan gua indah yang gelap

Dalam tangis yang sunyi

Di hadapan rengekan si buah hati

Seorang tua mendesah nakal dan senyum binal

Sambil merintih ia bayangkan wajah Tuhan

Ada kepuasan di sana

Ketika ia tahu Tuhan tahu

Ini balasan setimpal untuk doa-doa yang kau tinggal

Katanya, lirih.


Malam itu, ia menangis di ranjang

Memeluk si bocah yang tersengut kelaparan

Direngkuhnya si bocah keluar di bawah bintang

Menelusuri jalanan yang kian kelam

Mulai sekarang, malam adalah kawan, bisiknya


Ia tiba di rel kereta tempat pasar malam digelar

Sebuah tempat di mana ramai manusia bersembunyi

Melarikan diri dari diri yang suci

Enyah dari dakwa atas salah

Di pelukannnya, si bocah tak berdaya

Bocah yang nanti mengutuk nasibnya


Jatah pada malam yang basah itu

Dibelinya sepotong roti 

Ia kunyah dengan sesal yang kini sia-sia 

Dan pulang adalah penyerahan diri atas penghakiman

Untuk kali pertama, ia telah memilih

Menemani malam yang kesepian

Yang memberinya kesempatan

Bukan Tuhan...


Di bawah bintang-bintang pucat

Dan langit-langit pekat

Ia rengkuh tiap tubuh rapat-rapat

Hingga malamnya yang terakhir dalam hayat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...