Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang
Buih membelai sekujur tubuhnya
Di tubuh mungil itu
Terselip luka yang menahun
Menyimpan lara yang mengental
Sore itu, ia ingin pergi jauh
Dengan ragu, ia menantang gelombang
Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan
Sebenarnya, ia memang ingin mati
Barangkali ia memang punya kehendak
Dan berkuasa atas takdirnya
Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa
Ia hanya punya diri yang tak berdaya
Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara
Dan ia hanya nada sumbang
Dari lagu penghidupan
Yang tak pernah ia mainkan
Takdir pun tak pernah hidup untuknya
Sebab itu ia paham satu soal:
Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya
Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya
Ia telah kembali untuk menjalani semuanya
Sebab ia tak pernah memilih apa-apa
Bahkan kematian yang mempesona
Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap
Seorang bocah yang hanya tau merengek
Berbapak yang cuma paham menghantam
Yang satu candra menghilang entah
Tak ada apa-apa yang tersisa
Selain perabotan rombeng hasil gambling
Di beranda, seorang tua bertamu
Berang, sang suami menunggak utang
Dan tak ada gula dan roti untuk dihidangkan
Apalagi kepeng
Tapi tak semua tentang dirinya adalah sia-sia
Tubuhnya masih tetap sesuatu yang dikara
Meski tercabik-cabik sekian lamanya
Ia pikat seorang tua masuk
Ia jejalkan gua indah yang gelap
Dalam tangis yang sunyi
Di hadapan rengekan si buah hati
Seorang tua mendesah nakal dan senyum binal
Sambil merintih ia bayangkan wajah Tuhan
Ada kepuasan di sana
Ketika ia tahu Tuhan tahu
Ini balasan setimpal untuk doa-doa yang kau tinggal
Katanya, lirih.
Malam itu, ia menangis di ranjang
Memeluk si bocah yang tersengut kelaparan
Direngkuhnya si bocah keluar di bawah bintang
Menelusuri jalanan yang kian kelam
Mulai sekarang, malam adalah kawan, bisiknya
Ia tiba di rel kereta tempat pasar malam digelar
Sebuah tempat di mana ramai manusia bersembunyi
Melarikan diri dari diri yang suci
Enyah dari dakwa atas salah
Di pelukannnya, si bocah tak berdaya
Bocah yang nanti mengutuk nasibnya
Jatah pada malam yang basah itu
Dibelinya sepotong roti
Ia kunyah dengan sesal yang kini sia-sia
Dan pulang adalah penyerahan diri atas penghakiman
Untuk kali pertama, ia telah memilih
Menemani malam yang kesepian
Yang memberinya kesempatan
Bukan Tuhan...
Di bawah bintang-bintang pucat
Dan langit-langit pekat
Ia rengkuh tiap tubuh rapat-rapat
Hingga malamnya yang terakhir dalam hayat
Komentar
Posting Komentar