“Terus terang aku tidak pernah tahu ke mana dia pergi. Hidup mempertemukan kita dengan seseorang, lantas memisahkannya lagi. Tidak selalu kita bisa berpisah dengan lambaian tangan. Tidak selalu kita bisa berdiri di tepi dermaga, melambaikan tangan kepada seseorang di atas kapal yang juga melambaikan tangan kepada kita sambil berseru, “Jangan lupakan aku!”. Tidak selalu. Kadang-kadang kita bertemu begitu saja dengan orang yang tidak pernah kita kenal, menjadi begitu lengket seperti ketan, lantas mendadak berpisah begitu saja tanpa penjelasan apa-apa.”
Kalimat di atas adalah sepenggal pasase Seno Gumira Ajidarma dalam Senja Di Balik Jendela.
Sebiji simpulan menguak dari sana: Begitu tipis selisih antara meninggalkan dan ditinggalkan. Bahwa tiap pertemuan adalah kepergian yang tertunda. Juga bahwa kita tak selamanya bisa memilih dengan cara apa perpisahan itu terjadi dan bagaimana ia mesti dirayakan. Kadang dengan air mata, lain waktu dengan tawa, sering kali dengan doa. Dan kita, tak punya kesempatan untuk menghindarinya. Ia adalah keniscayaan yang melengkapi nasib manusia. Barangkali karena itu “hidup bukan bergerak dari waktu ke waktu, melainkan dari suasana ke suasana” tutur Zen. Sebuah konklusi untuk menerima konsekuensi hidup bahwa pertemuan, kepergian, luka dan bahagia adalah anugerah sekaligus kutukan dari menjadi manusia. Silih-berganti. Tak pernah berhenti hingga usia yang diberikan hidup kepada kita menemui titiknya. Pengulangan itu menuju pada sebuah kenyataan yang lebih paradoksal, untuk tak menyebutnya menyakitkan: kita akan terus mengingat dan di sisi lain berupaya untuk belajar melupakan. Kita pongah jika berpikir ikhwal itu akan menawarkan pilihan; bahwa kita secara merdeka bisa memilih mana peristiwa yang mesti dikenang dan mana yang harus disingkirkan. Kita melewatkan kenyataan sederhana bahwa kenangan adalah segala hal yang melampaui ingatan. Sebab itulah kita hanya mengenal istilah “lupa ingatan”, bukan “lupa kenangan.” 
Peradaban kita juga disesaki dengan kepongahan macam ini; kekuasaan yang lalim meluluh-lantakkan segala hal yang dapat mencoreng keagungannya: buku-buku di bakar, sejarah di daur-ulang, menciptakan kambing hitam, pikiran dilarang, orang-orang dibunuh dan dibungkam, simbol dari yang berseberangan dibumi-hanguskan, dan segala kebiadaban itu terjadi hanya untuk mengendalikan ingatan banyak orang. Seolah-olah ingatan tentang masa lalu bisa lenyap dan terkubur bersama semua yang telah berkalang-tanah. Saya tak tahu apakah ini tergolong dalam apa yang disebut Goenawan Mohammad sebagai praktik “politik ingatan.” Lain itu, mereka membangun monumen, menciptakan melankolia kolektif yang semu dalam romantisme sejarah yang mengharu-biru dan berharap kekejian itu bisa ditutupi dengan epos yang memabukkan.
Apakah akhirnya itu tertutupi dengan sempurna? Tak pernah. Jerman akhirnya berdamai dengan masa lalu dan mengakui bahwa negara pernah melakukan genosida secara brutal. Pemerintah Argentina meminta maaf pada kelompok mama de plaza atas nyawa anak-anak mereka. Amerika, mengakui keterlibatan mereka dalam menggulingkan pemerintahan-pemerintahan negara dunia ketiga yang berseberangan dengan mereka. Orang Portugis menjadikan saudade sebagai melankolia kolektif tentang anak-anak mereka yang tak pernah kembali, atau seperti orang Istanbul yang menjadikan huzun sebagai perasaan paling personal mereka sebagai sebuah kesatuan, seperti yang dijelaskan dengan sangat liris oleh Pamuk: “huzun mengajari kami daya tahan pada masa-masa kere dan kekurangan. Ia juga mendorong kami untuk membaca kehidupan serta sejarah Istanbul secara terbalik, memungkinkan kami berpikir bahwa kekalahan dan kemiskinan bukanlah akhir sejarah, melainkan permulaan yang terhormat. Memang perasaan terhormat itu bisa menyesatkan, tetapi ia juga berarti Istanbul tak memandang huzun sebagai penyakit tak tersembuhkan, atau kemiskinan seumur hidup yang patut diratapi, atau kegagalan buat dihakimi. Istanbul mengenakan huzun-nya dengan kebanggaan penuh."
[Jangan tanya saya tentang Indonesia dalam urusan masa silam. Tragis]
Kenyataan bahwa negara-negara yang menerima ingatan pahit itu sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah mereka adalah negara-negara maju—menjadi semacam bukti paling telanjang dari pepatah lama yang agaknya terasa klise: mereka yang berhasil di hari ini dan menatap masa depan yang gemilang adalah mereka yang telah tuntas dengan masa silam, sekalipun persoalan ini bukanlah faktor penentu. Ini berlaku dalam lingkup yang paling kecil nan sunyi: seorang manusia. Sejarah manusia di bawah kolong langit mencatat begitu banyak penemuan yang lahir dari usaha yang tak kenal lelah, atau orang-orang sebelum berkuasa atau bergelimang harta, bertungkus-lumus, menyambung hidup dengan proses mati-darah, menjalani kehidupan yang papa-sengsara, bergeronjal dan ditendang hidup berkali-kali sebelum akhirnya menang. Dari sana, kenangan dan semua yang berkelabat di ingatan bergantung pada bagaimana kita mengolahnya. Sebagian orang menjadikan hal itu sebagai energi yang terus mendorong maju, sebagian lain terpenjara dalam kemuraman yang menahun. Dari sana juga, kisah kita ditulis dan mungkin biografi kita ditentukan.
Suatu petang, bertahun-tahun lalu, di kantin belakang kampusku, Mas Jarot, dosen filsafat sekaligus teman tuaku yang baik—kalau ingatan saya tak berkhianat—pernah bilang begini ke saya; “terus jalani hidupmu dengan bahagia dan jangan pikirkan seberapa lama kau akan hidup. Pikirkan tentang apa yang bakal kau perbuat selama usia yang diberikan hidup kepadamu?” Waktu itu, saya cuma ngangguk-ngangguk. Mengiyakan perkataannya. Sudah lama kami tak bertemu. Semoga semesta mengizinkan kami bersua kembali dan saya bisa membentangkan makna yang ku sungging dari omongannya, mas, mati itu gampang. Yang sulit ialah bertahan hidup. Tapi saya selalu bisa menemukan cara untuk bahagia, meski kehilangan dan duka senantiasa mengiringi semua itu.
Komentar
Posting Komentar