Langsung ke konten utama

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana.


***


Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup. 


Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu kental dalam darah ibumu. 


Dan di belakang namamu ada Arunika. Cahaya pagi. Melambangkan semangat baik ketika pagi, dorongan hidup, sebuah titik di mana kehidupan harusnya bermula saat orang-orang telah terbangun dari mimpi panjang yang diberi malam, juga sebagai penanda cahaya saat semesta menyambut kelahiranmu pagi itu. 


Namun kau lahir Ann, dengan kondisi tak seperti anak-anak kebanyakan. Manusia takkan sempurna, itu pasti. Tapi bukan cuma itu. Kau punya penyakit bawaan yang memprihatinkan: penyempitan saluran pencernaan. Keadaan yang tak semestinya ditanggung anak seusiamu. Tapi anakku sayang, percayalah, apapun itu, tak pernah membuat perasaan bahagia bapak, berkurang barang sejengkal. Kau, pada awal dan akhirnya adalah ujung dari penantianku sebagai manusia, sebagai seorang bapak, yang meski tak sempurna, akan senantiasa menjaga putrinya tetap hidup dan berbahagia. 


Kelainan fisik yang menderamu, hanya menawarkan satu jalan keluar: operasi. Tak ada jalan lain, nak. Maafkan bapak tak bisa berbuat banyak. 


Hari ketiga setelah kamu lahir, atas izin ibumu, bapak menandatangani semua pernyataan bahwa bapak bersedia menanggung semua konsekuensi medis terhadapmu. Tanggal 13 malam, saat bulan berada pada posisinya yang sempurna, kau menjalani operasi bedah di bagian perutmu. 


Dengan sabar, bapak menunggumu di luar bersama nenek dan beberapa pamanmu yang begitu sabar menemani bapak menjagamu, sembari terus melangitkan doa-doa supaya Allah menjagamu baik-baik di dalam sana. Dua jam berselang, kau didorong keluar dalam kondisi tak sadarkan diri. Matamu pulas di bawah keteduhan kelopaknya. 


Dokter memberitahu, kau akan melalui fase yang lebih genting: masa kritis. Di situ, semua kecemasan, ketakutan bapak bertalu-talu. Saat itu, bapak hanya bisa memasrahkan nasibmu pada Illahi, sang pemberi hidup, sembari terus berharap kau selamat melewati ini. 


Esok sorenya, saat bapak mengantarkan ASI dari ibu untukmu di rumah sakit, kau masih juga tak sadarkan diri. Ku dekati kotak ranjangmu, ku genggam jari-jarimu yang panjang dan lentik, ku belai dengan lembut kepalamu, ku bisikan ayat-ayat Tuhan berharap sakitmu hilang dan segera pulang bersama bapak dan ibu. Tapi kau masih juga bergeming. Ada sebuntal rahasia yang tak mampu ku raba kali ini, sehimpun jarak dengan intensitas yng sebenarnya lambat, tapi begitu nyata ku rasa. Begitu menyakitkan melihatmu tak berdaya dalam pembaringan. 


Malam itu, perasaan bapak sangat gelisah. Tak tenang. Berupaya sebisa mungkin untuk meyakinkan diri sendiri bahwa kau akan melewati proses ini. Subuh, saat suara mengaji lantang berbunyi dari surau, perawat yang menjagamu menelpon bapak. Menyuruh bapak segera menuju rumah sakit. Kata perawat, kau dalam kondisi kritis.


Pagi belum sempurna, gelap di mana-mana, bapak melaju di jalanan yang lengang. Pikiran melayang tak tentu arah. Tiba-tiba, air mataku tumpah begitu deras. Ada perasaan kehilangan yang begitu besar di sana. Sebuah tangisan yang tak pernah direncanakan. Juga tanpa alasan. 


Kurang lebih sepuluh menit, aku tiba di rumah sakit. Tak seperti yang sudah-sudah, kali ini degup jantung begitu kencang. Aku menghitung tiap langkah menuju ruangan tempatmu dirawat dengan segala kemungkinan yang membuntutiku. 


Ku hela napas begitu panjang saat menggenggam gagang pintu ruangan itu. Ku buka dengan sangat perlahan. Ku lihat suster sedang sibuk melipat pakaianmu. Perawat menatap mataku begitu lekat. Tak bicara apa-apa. Bahkan tak mempersilakan aku masuk. 


Tak lama berselang, aku menengok ke kiri tempat kau dibaringkan. Kali ini, alat-alat begitu banyak mengepungmu. Ada kecamuk dalam dada yang tak sanggup ku lukiskan. Ku dekati ranjangmu pelan-pelan. Tiga langkah sebelum sampai di kotak itu, suster memecah keheningan: “dia udah ga sakit lagi pak, harus ikhlas. Sabar ya?!”


Seketika tangisku pecah. Membangunkan seisi ruangan yang dipenuhi bayi-bayi. Bayi-bayi itu menangis silih-berganti seakan-akan berlomba suara siapa yang paling nyaring. Tapi tangismu tak ada di sana, nak. Meski bapak yakin, mereka tak mampu menandingi pekikmu yang lantang. 


Ku tuju ranjangmu. Ragamu kaku. Untuk kali pertama setelah lima hari kau lahir, bapak bisa menciummu setelah kau tak lagi bernyawa. Ku peluk erat tubuh mungilmu. Sebuah kebahagiaan yang tak pernah ku rasakan sepanjang usia, sekaligus kesakitan yang tak tertangguhkan. 


Ku panggil namamu berkali-kali. Ku coba meyakinkan diri sendiri bahwa ini tak pernah terjadi. Oiiii, mentari pagiku, cahaya hidupku, kau pergi sebelum belajar mengucap kata dan memanggilku sebagai bapak. Kuberi hidupku jika kau mau. Kuberi ragaku bila kau perlu. Tapi nak, manusia dikutuk untuk menjalani nasibnya masing-masing tanpa pernah bisa membaginya. Dan kau, bungaku yang indah, harus lebih dulu layu sebelum mekar. 


Dalam kehilangan yang begitu dalam itu, pesan singkat dari ibumu masuk, bertanya: 


“Ann baik-baik aja kan?” 


Hatiku hancur berkeping-keping. Tercecer menyesaki semesta. Tembok pertahananku runtuh seketika. Aku tak membalasnya. Yang ku tahu dengan pasti adalah aku sempat kehilangan semangat hidup. 


Ku persilakan suster membersihkan dirinya, sembari meminta diri untuk pulang sebentar memberi tahu langsung istriku di rumah. Pagi itu adalah pagi yang tak pernah ku kenal. Sebuah paradoks dari pagi-pagi yang lain. 


Setelah di rumah aku berupaya untuk terlihat ikhlas dan kuat. Ku susun kalimat pelan-pelan untuk istriku. Meski kehilangan tak pernah bisa diukur, satu hal yang pasti adalah aku tahu ia menanggung kehilangan dan luka yang lebih mendalam dariku. Sebuah duka yang hanya bisa dirasakan oleh seorang ibu sepertinya. 


Tapi aku tahu, meski luka ini akan membuntuti kemanapun kami pergi, kami akan kembali lebih kuat dari yang sudah-sudah. Dan kami memilih untuk membawa ingatan ini sebagai fase paling menakjubkan dalam hidup yang tak pernah lebih panjang dari kenangan kami tentangmu. Lima hari adalah waktu yang teramat singkat. Tapi bisa begitu panjang dalam ingatan kita sebagai orang tua yang kehilangan seorang anak. 


Kami mungkin akan memiliki beberapa anak di kemudian hari. Semoga saja. Tapi kau Annelies, adalah wujud kecintaaan kami paling personal. Wujud dari cinta yang mengalir bersama kehilangan kami yang paling dalam. 


Kisah ini tak selamanya murung, ternyata, meskipun lebih banyak pahitnya. Tapi selalu ada yang menggetarkan dalam nostalgia. Selama ada kisah tentang kasih sayang yang meski tak berumur panjang—tetap begitu dalam dan menggetarkan. 


Annelies tak mati. Ia cuma hidup dalam ruang-ruang sunyi ingatanku dan istriku. Ia akan selamanya bersama kami. Paling tak, di hati kami masing-masing. Selamanya. 


Ya, selamanya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...