Di dunia yang disesaki pesona dan derita
Pada lelah yang tak berujung
Menepi semua langkah yang tertatih
Merajut harap dengan cemas
Apakah susumu akan terbeli?
Berapa harga popokmu?
Tapi jantungku akan ku beri demi hidupmu
Tak perlu risau
Tugasmu hanya berbahagia di dunia ini
Meski seisi diriku yang tercuri
Hiduplah kau, hidup. Anakku!
Ketika malam dijejali resah
Pada batin yang tak henti mengirim serapah
Bapak termangu di tepi hari saat lahirmu
Ibumu terjaga karena kau selalu menendang
Ia kesakitan dan bahagia di saat yang sama
Semoga kaki-kaki itu senantiasa kukuh
Saat tiba hidup akan menendangmu
Kau akan terbiasa, kau akan tertawa
Semoga. Ya, semoga saja.
Ann, ku beri kau nama dari hikayat seorang perempuan yang dibelenggu
Seorang perempuan yang memupuk keberanian dari pengalamannya sendiri
Seorang perempuan yang berontak pada kenyataan yang mengepungnya
Itulah hakikat kemerdekaan!
Meski nanti kau kalah
Walau akhirnya kau lelah dan patah
Kau telah berjuang sebaik-baiknya
Bahkan ketika kau kalah
Kau tak sekonyong-konyong menyerahkan dirimu pada kenyataan
Kau akan selamanya melawan
Ku harap demikian
Dan Pradnya yang membuka doaku
Di akhiri dengan Paramita atau Arunika
Semua sama saja
Kau tetaplah anakku
Meski kelak harapku bisa saja patah
Takkan mengubah apa-apa
Selamanya kau adalah hulu bahagiaku
Dan akan selalu begitu
-anakku terkasih
-Pradnya Annalies Arunika
Komentar
Posting Komentar