Langsung ke konten utama

Pradnya Annalies Arunika


Di dunia yang disesaki pesona dan derita

Pada lelah yang tak berujung

Menepi semua langkah yang tertatih

Merajut harap dengan cemas

Apakah susumu akan terbeli? 

Berapa harga popokmu? 

Tapi jantungku akan ku beri demi hidupmu

Tak perlu risau

Tugasmu hanya berbahagia di dunia ini

Meski seisi diriku yang tercuri

Hiduplah kau, hidup. Anakku!


Ketika malam dijejali resah

Pada batin yang tak henti mengirim serapah

Bapak termangu di tepi hari saat lahirmu

Ibumu terjaga karena kau selalu menendang

Ia kesakitan dan bahagia di saat yang sama

Semoga kaki-kaki itu senantiasa kukuh

Saat tiba hidup akan menendangmu

Kau akan terbiasa, kau akan tertawa

Semoga. Ya, semoga saja. 


Ann, ku beri kau nama dari hikayat seorang perempuan yang dibelenggu

Seorang perempuan yang memupuk keberanian dari pengalamannya sendiri

Seorang perempuan yang berontak pada kenyataan yang mengepungnya

Itulah hakikat kemerdekaan! 

Meski nanti kau kalah

Walau akhirnya kau lelah dan patah

Kau telah berjuang sebaik-baiknya 

Bahkan ketika kau kalah

Kau tak sekonyong-konyong menyerahkan dirimu pada kenyataan

Kau akan selamanya melawan

Ku harap demikian


Dan Pradnya yang membuka doaku

Di akhiri dengan Paramita atau Arunika

Semua sama saja

Kau tetaplah anakku

Meski kelak harapku bisa saja patah

Takkan mengubah apa-apa 

Selamanya kau adalah hulu bahagiaku 

Dan akan selalu begitu

             -anakku terkasih

       -Pradnya Annalies Arunika




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...