Langsung ke konten utama

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja. 


Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang paling tandus sekalipun. Apa yang kita jalani, barangkali seperti judul puisi yang pernah ku bisik di kupingmu pada malam muram waktu itu; bahwa kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma. 


Sebelum kau, aku telah berkelana dalam tahun-tahun yang panjang. Hinggap ke satu pelukan ke pelukan yang lain. Terluka dan melukai. Sampai di tikungan-tikungan hidup yang patah, hanya untuk sampai pada akhir perjalanan berkelok dan menemukan pelukan seorang perempuan yang menjadi rumah terakhirku. Segalanya percuma. Aku hanya menghabiskan waktu untuk saling mengenal lebih dalam, mendengarkan lagu-lagu cinta bersama, menghabiskan waktu dengan cara tak biasa, melewati hari-hari yang panjang dan akhirnya saling melukai lantas berpisah tanpa penjelasan apa-apa. Kisah yang akhirnya tak mulus, meski bukan berarti tak pernah tulus. Kau pun demikian. 


Lalu di suatu malam, pada pertengahan Agustus yang muram, ketika purnama menampakkan wujudnya yang sempurna, saat ingar-bingar kemerdekaan begitu megahnya, kau menerimaku sebagai seorang kekasih dalam kesunyian Maguwoharjo, di bawah langit Jogja yang kelabu. 


Yulyati, perempuan yang diberkahi senyum paling menyejukkan, mata yang sayup tapi membangkitkan nyali, pelukan yang lembut  namun menguatkan. Padanya, ku biarkan cintaku yang liris mengalir tanpa pernah ku tahan. Cinta yang lahir dan tumbuh dengan sangat lekas. 


Dalam tatapnya, ada kekuatan sekaligus kerapuhan yang tak mampu ku raba. Seringkali bahkan tak terkira. Ia adalah persilangan paripurna dari bagaimana kaki-kaki yang kukuh menapaki jalan-jalan terjal di perantauan, tetapi di saat yang bersamaan membawa kehangatan rumah di manapun ia berada. Barangkali ia akan senantiasa menjadi rumah yang ramah bagi tiap lelaki yang beruntung memiliki tempat istimewa di palung hatinya yang paling sunyi. 


Kau adalah kekuatan yang tak terpermanai. Manifestasi sebenarnya tentang bagaimana lautan membesarkan seorang manusia yang meski kadang oleng karena riak, tak pernah karam karena gelombang. Di hadapanmu, keberanianku menciut. Aku tak pernah bisa sekuat dirimu, sekeras apapun aku mencobanya. 


Tiap kali tangismu pecah, dadaku terasa ngilu. Bukan hanya karena aku mencintaimu, lantas mengharapkan kesedihan senantiasa memperlakukan matamu dengan baik—bukan cuma itu manisku. Sebab kini kau hulu bahagia ku. Dan ketika melihatmu bersedih, akan membikin pertahanan ku runtuh. 


Aku tahu ada banyak yang kau pendam selama ini, terlampau banyak derita yang kau peram sendirian. Hingga akhirnya memilih mengatupkan bibirmu rapat-rapat dan tegar seakan-akan tak terjadi apa-apa. Barangkali bagimu mengeluh hanya membuat hidup terasa makin kecut. Dan kau, lagi-lagi harus menyimpannya sendirian. Memilih deritamu tetap jadi milik rahasia. 


Uli, kau harus tahu bahwa nasib adalah kesunyian masing-masing. Ibumu, perempuan yang melahirkanmu pun, yang dari rahimnya kau lahir sebagai seorang manusia dan perempuan, yang hubungan kalian hanya terpisah karena gunting dunia pun, tetaplah punya kesunyiannya sendiri. Ia menyimpan semua sendirian, kau dan aku juga demikian. 


Tapi kita bisa bersandar dan percaya bahwa hidup selalu memberi pengobat dari derita yang bahkan tak tertangguhkan sekalipun. Dari sana, elan vital hadir dan amorfati bisa kita gapai. Seperti kau yang kini menjadi bagian dari bahagia dan luka yang bisa menyayat ku kapan saja. 


Cinta, membikin otoritas diri kita tercabut. Kita berkonsekuensi untuk menerima risikonya dengan sukarela atas sesuatu yang kita cintai. Perjalanan yang sekarang ku tempuh pun menjadi fragmen yang tak terpisahkan dan sejak awal aku tahu akibatnya. 


Jarak adalah pekerjaan-pekerjaan dari cinta yang pahit, rindu adalah muara dari hati yang ingin tetap tinggal. Aku terpaksa memilih jalan ini demi kebaikan ku, demi kita. Jogjakarta adalah magnet yang melenakan. Tetapi aku harus beranjak dari kota itu dan kembali menuju Jakarta: kota yang ku benci sekaligus begitu ku cintai; kota yang membuka tiap kemungkinan di tengah hidup yang disesaki ketidakpastian. Meski aku paham betul risikonya sejak awal: kita bisa saja tak tahan dengan jarak dan mengkhianati satu sama lain. 


Tahu kenapa ku bilang bahwa jarak adalah cara terbaik menyekolahkan hati? Sebab kesetiaan dan loyalitas hanya mampu dibuktikan dengan ujian. Dengan tantangan. Dengan jarak. Hubungan yang selalu dekat barangkali adalah hubungan yang diimpikan, dan barangkali menjadi hubungan yang panjang. Tetapi sudah pasti bukan hubungan yang tahan banting. 


Cinta yang kuat dimenangkan dari perjuangan yang tak tunduk pada jarak, yang bertaruh melawan ketidakpastian, yang diperjuangkan dengan hati yang tak kenal lelah untuk menanti di ujung peron, bandara atau terminal saat kekasihnya tiba. Dari sana, pertemuan menjadi bermakna. Waktu menjadi berarti. 


Sepanjang rel yang ku lalui, wajahmu membayang. Perasaan yang menemui kecemasan. Apakah kita bisa melewati ini? Apakah kau dan aku bisa bersetia? Bagaimana jika semua ini sia-sia? Apa nanti semua ini sepadan? Sederet pertanyaan itu berkelabat di pikiran. Hubungan kita masih terlampau pendek untuk diuji seperti ini. 


Tapi dadu telah kita kocok. Kini kita berjudi dengan nasib. Apa yang akan terjadi nanti, biarlah nanti. Tugas kita hanya saling menjaga dan merawat perasaan ini tetap tumbuh dan tegar sekuat yang kita mampu. Seandainya kita gagal, bukan berarti bahwa ini sia-sia. Kita masih bisa saling mengenang dalam sunyi untuk segala yang pernah kita lalui. Jika kelak perjuangan ini kita menangkan, perpisahan sementara ini akan lebih dari sepadan. 


Tapi aku begitu merindukanmu. Peluk mu yang menenangkan, kecup mu yang membuatku percaya bahwa hidup akan baik-baik saja selama kita mencintai dan dicintai. Ketika kita bercinta dan menghabiskan waktu bersama. Aku merindukan setiap percakapan yang tak perlu atau yang kita gelar dalam sendu. 


Arah hidup seringkali mengalir tanpa kita prediksi. Kita berdua bisa saja saling melukai di kemudian hari. Atau barangkali juga bisa berpisah tanpa penjelasan apa-apa, nanti. Tapi aku tak pernah menginginkan itu terjadi. Percayalah. Ku harapkan kita akan senantiasa bersama. Melewati hidup dari waktu ke waktu, dari suasana ke suasana. Hingga di tahun-tahun yang begitu panjang di hari depan, kita masih saling menatap dengan perasaan yang sama. Berbahagia bahwa kita masih mencintai satu sama lain.


Terima kasih untuk kemarin, kini dan nanti. Terima kasih karena telah menjadi elan vital. Terima kasih untuk segalanya. 


Kini, ku tepati janjiku: aku telah mencintaimu dengan renjana membara. Meski dengan cinta yang pernah patah, juga dengan cinta yang pernah kecewa. 


Aku mencintaimu. 

Kekasihmu, Galang Iramani. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...