Langsung ke konten utama

Reportase Penggusuran Kapuk Poglar: Eka dan Harapan yang Tak Putus



Lagi dan lagi perampasan tanah terjadi untuk kesekian kalinya sejak masa kepemimpinan Jokowi. Setelah Kendeng dan Kulonprogo, kali ini Kapuk Poglar yang menjadi sasaran eksekusi polisi. Konflik ini di mulai ketika klaim yang dilayangkan oleh Polda Metro Jaya atas tanah di Kapuk Poglar RT 007/004 di tahun 1997 dengan bukti sertifikat di tahun 1994 yang berbanding terbalik dengan seorang ahli waris yang mengaku sebagai pemilik lahan seluas 15.900 meter persegi tersebut. 

Masalah di Kapuk Poglar terulang kembali pada September 2016 dan terus tarik-ulur hingga hari ini antara pihak pengusaha, warga dan polisi.  Setelah somasi II diberikan kepada warga pada 28 Oktober 2016 dan diberikan waktu 7 hari oleh polisi untuk mengosongkan kediamannya, beberapa pengusaha lantas memutuskan untuk melayangkan gugatan terhadap Polda Metro Jaya. Tapi, gugatan itu berakhir dengan kemenangan di pihak tergugat dan pengusaha-pengusaha yang kalah lantas pergi tanpa sepatah kata pada warga.

Setelah para pengusaha keok di pengadilan, polisi kembali memberikan somasi III pada Desember 2017, bahkan kali ini, polisi memaksa kepada warga untuk menandatangani penerimaan surat tersebut. Tak sangsi, anak kecil juga menjadi sasaran dari sikap intimidasi polisi. Persoalan ini bertambah sebab pihak polisi enggan memberikan relokasi atau ganti rugi terhadap warga tergusur yang berarti bahwa 641 jiwa manusia akan kehilangan ruang hidup dan tempat tinggalnya saat eksekusi tanggal 8 Februari 2017 nani.

Menyikapi persoalan ini, Aliansi Pemuda Mahasiswa Indonesia (APMI) yang menghimpun beberapa organisasi yang antara lain; Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Front Nasional (FN), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Aksi Kesatuan Mahasiswa Indonesia (AKMI), Himpunan Mahasiswa Halmahera Utara (HIPMAHALUT), Serikat Pemuda Jakarta (SPJ) dan Front Mahasiswa Nasional (FMN) telah melakukan pertemuan dan mengadakan pembahasan, pengkajian dan investigasi yang akhirnya melahirkan suatu sikap yaitu; dengan tegas menolak penggusuran yang dilakukan oleh Polda Metro Jaya terhadap warga Kapuk Poglar dan siap sedia untuk menjadi tenaga pembantu dalam mengawal warga Kapuk Poglar untuk mempertahankan ruang hidupnya.

Selain APMI, ada juga aliansi lain yang bernaung di bawah Front Perjuangan Rakyat (FPR) yaitu Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI), Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), Gerakan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), dan sebagainya.
−Ω−
Saya tiba di Poglar pada Minggu (14/01/2017) siang kemarin bersama Jevandy dan Royhan. Di sana, saya melihat di depan pos, beberapa bendera organisasi telah berkibar. Demikian juga bendera salah satu partai yang menang dalam pemilu 2014, PDI Perjuangan. Dari kawan dan warga, saya akhirnya maklum bahwa ketua RT adalah kader partai tersebut. Tak lupa, di tembok dan pagar, tulisan-tulisan penolakan penggusuran juga terpampang dengan jelas. Juga beberapa orang tua sedang ngobrol di depan salah satu rumah yang tampaknya menjadi tempat untuk berkumpul, selain di pos RT dan pos masuk.

Beberapa pimpinan dari setiap organisasi juga telah siap untuk diadakannya rapat untuk membahas program kerja bersama hingga tanggal 8 nanti. Sebagai ketua divisi Aksi, Agitasi dan Propaganda PMII Universitas Nasional, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk hadir dalam rapat tersebut. Singkat cerita, rapat pun dimulai. Tak banyak yang dibahas. Hanya bagaimana kita menyusun agenda kampanye, panggung budaya, penggalangan dana, lapak baca, aksi massa dan tentu saja agar bagaimana tetap konsisten dalam mengawal warga Poglar dan terus melakukan analisis sosial serta pengkajian terhadap persoalan ini.

Dari tempat rapat, saya bisa melihat kawan-kawan yang lain bersama pemuda sedang khusyuk bermain bola di bawah guyuran hujan, di lapangan yang yang dikelilingi sampah tersebut. Saya tersentak sebab baru kali ini saya melihat Jevandy  berani bermain bola, bahkan begitu antusias. Seingat saya, terakhir kali ia bermain, saya harus memikulnya keluar lapangan setelah ia tergeletak tak berdaya padahal belum lima menit ia bermain. Sejak peristiwa itu, ia menjadi traumatik dengan bola. Syukurlah jika ia telah merdeka dari belenggu trauma yang membelenggunya selama ini, saya membatin.
 Setelah hampir 1 jam, rapat telah rampung.

−Ω−

Saya kemudian duduk di pos RT. 007/004 bersama beberapa kawan yang lain sembari diskusi dan ngobrol. Tak lama, hujan redah dipenghujung petang. Saya mengajak Jevandy dan Keken untuk berkeliling sembari mengumpulkan informasi dari warga. Belum lama berjalan, di depan tembok pabrik, kami dihampiri seorang bapak yang belakangan saya tahu namanya Pak Yanto, selepas kami berkenalan. Pak Yanto tak seorang diri. Ia menggandeng erat anak perempuannya dan mengenalkan putrinya pada kami; Eka namanya. 

Usianya 8 tahun, rambutnya sebahu dan kulitnya sawo Jawa yang matang. Kami dengan Pak Yanto lantas ngobrol panjang lebar mengenai rencana penggusuran ini. Pak Yanto hidup disitu kira-kira sejak ayahnya masih bujang. Kalau ingatan saya tak berkhianat, mungkin tahun ‘81. Dari cerita ini pula saya tahu bahwa Pak Yanto dan beberapa warga juga pernah tergusur saat pabrik yang temboknya berdiri angkuh dihadapan kami, masuk dan membuatnya harus bertungkus lumus dan mendirikan rumah lagi.

Saat kami sedang syahdu mendengar cerita-cerita Pak Yanto, saya mengamati beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain. Jevandy masih terus bertanya. Keken dengan sabar mendengarkan. Saya justru melihat Eka dengan nanar yang terus menggenggam lengan ayahnya dan seolah-olah tak peduli dengan dunia disekililingnya. Berniat mengajaknya ngobrol, saya membuka pertanyaan: “Kok nggak main sama temennya?” Ia hanya menggelengkan kepala dan tersenyum kecil melihat saya. “Eka kelas berapa?”, kelas 2 SD jawabnya dengan singkat. “Mama di mana?” saya kembali bertanya. 

Kali ini, raut mukanya berubah. Bibirnya terkatup rapat-rapat. Pak Yanto insaf dan segera menjawab pertanyaan yang mungkin terlampau pelik untuk dijawab anaknya. “ibunya Eka meninggal sejak dia berusia dua tahun”, Pak Yanto menjawab sambil membelai rambut putrinya. Sontak, jawaban itu membuat saya tersentak. Juga menyesal. Ribuan maaf saya layangkan pada Pak Yanto. Ia hanya tersenyum dan mengatakan tak apa. Mungkin ia maklum. Entah.

Saya kembali menggelar wawancara dengan Pak Yanto. Ternyata ia hanya kerja serabutan. Kadang di pabrik, kadang di Kandang Babi yang juga menjadi sasaran penggusuran. Ia bercerita tanpa berusaha menutup-nutupi segala sesuatunya. Di depan kami, di tembok tinggi pabrik yang berdiri, tulisan-tulisan menolak penggusuran masih terpampang dengan jelas. “saya membutuhkan lebih banyak inspirasi untuk mau nulis lagi di tembok ini”. Ia melihat saya, tanda meminta saran. “Mungkin begini saja Pak, kira-kira; “Siapa yang merampas tanah, tak pantas kembali ke tanah”, jawab saya. Ia sepakat. “itu tulisan saya” katanya, sambil menunjuk salah satu tulisan di depan kami; rakyat bersatu, tak bisa dikalahkan, sembari tertawa kecil.  

Eka masih dengan sikap yang sama dan dengan raut wajah yang tampak menikmati obrolan kami. Pak Yanto sadar betul bahwa saya mungkin masih menyimpan rasa tak enak hati akibat pertanyaan yang tadi. Kata Pak Yanto dengan nada yang agak sendu—sambil melihat saya,—beberapa tahun lalu, Eka pernah menyusulnya di pabrik untuk menyampaikan kabar bahwa Eka mendengar kabar bahwa rumah mereka akan diratakan oleh polisi. Sontak hal ini, membuat Pak Yanto meninggalkan pekerjaannya dan lari dengan menggendong Eka untuk melindungi rumah yang menjadi tempat ia membesarkan anaknya dengan segenap tenaga penghabisan. 

Bahkan Eka juga tahu, kapan penggusuran dilangsungkan nanti, Pak Yanto melanjutkan. Tak lama setelah Pak Yanto jeda sejenak, ia tersenyum. Menghela napas dalam-dalam. Dengan wajah yang optimis ia menatap kami, satu-persatu, dan mengatakan bahwa Eka ingin jadi dokter, sambil membelai putrinya. Eka tampak semarak mendengar hal ini. Saya bahagia, pun getir mendegar hal ini: Ternyata tak semua bisa dirampas oleh yang berpunya terhadap yang tak berpunya. 

Mereka, orang kecil, dengan hati dan pendirian yang teguh, bertungkus lumus untuk menyimpan secercah harapan dan impian yang tak kenal rasa takut dan gentar atas segala sesuatu yang mengepung mereka. Saya getir, sebab jikalau Ia beranjak dewasa dan menemukan bahwa dunia ini—ternyata tak semudah impian masa kecilnya yang—akhirnya membuatnya bertekuk-lutut atas kehidupan yang keras dan brutal dan mengubur dalam-dalam mimpi tersebut.

Di sini, saya menyadari bahwa kemanusiaan adalah sebuah paradoks. Saya mendengar pernyataan Pak Yanto, sambil membayangkan jika adik yang saya kasihi—tanpa mengurangi rasa kemanusiaan saya—yang seusia dengan Eka, dengan tinggi badan yang sama, demikian impiannya menjadi seorang dokter, merasakan getirnya masa kecil yang serupa. Mungkin, tanpa membayangkan adik saya di rumah nun jauh di sana, saya tak akan melihat semuanya sepahit ini.

Obrolan kami sampai di situ. Saya mendekati Eka dengan senyum yang bersahabat. Sedikit menunduk, saya membelai rambutnya. Entah anak sekecil ini paham atau tidak, rasanya saya tak kuasa untuk menahan untuk berkata apa yang tersimpan sedari tadi; “teruslah bermimpi, Dik”. Eka lantas tersenyum kecil.

Mungkin, masih banyak orang lain yang jalan hidupnya tak lebih baik dari Pak Yanto dan putrinya. Ada orang yang mungkin beranggapan bahwa saya terlalu berlebihan dalam melihat relaitas. Itu persoalan pembaca masing-masing. Saya tak punya kuasa untuk memaksa pembaca agar berpikir atau merasakan hal yang sama dengan saya pikir dan rasa. Namun, saya hanya ingin menegaskan wahai puan dan tuan sekalian bahwa kemanusiaan saya cukup tersinggung melihat semua ini, dan ternyata, sekali lagi bahwa pikiran kita masih terlalu sempit untuk berbicara bahwa negeri ini telah merdeka.


Sambil berlalu, saya masih saja membatin, atau mungkin berdoa; semoga mereka yang merampas tanah, ketika mati, tak peroleh sebidang tanah, tanpa bunga dan ucapan duka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...