Kita sama-sama tahu, Mama, dalam Pulang,
Lelila pernah menjelaskan tentang hubungan seorang anak dan ibu hanya terpisah
oleh sabilah gunting dunia. Sebuah hubungan yang melekat dan tak mampu diraba,
bahkan oleh seorang ayah sekalipun. Kadang, aku sering menyangkal bahwa dalam
banyak hal aku mewarisi dirimu. Tapi tak jarang, dalam beberapa peristiwa, aku
meyadari bahwa kita begitu sama dan tak berbeda. Dalam banyak hal, aku banyak
terpengaruh dengan caramu melihat dunia.
Kau mungkin paham bahwa anak sulungmu ini,
telah banyak berubah berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Entahlah, rasanya
aku paham mengapa aku diberi nama Muhammad Iqbal oleh kakek yang kukagumi itu.
Mungkin ini alasannya; kelak ia percaya bahwa cucunya akan menjadi seorang
pejuang atau bahkan lebih jauh dari itu menjadi seorang filsuf dan sastrawan
besar. Seorang tokoh pendiri negeri Pakistan yang termasyhur.
Terkadang, mama, setiap kali aku melihat
orang-orang kecil yang merintih tanpa suara, ada gejolak amarah dalam hati
seperti badai yang tak kunjung usai. Betapa negara ini begitu kejam terhadap
rakyatnya. Setiap kali aku turun ke jalan dan berteriak lantang tentang
penindasan, ada secercah rasa bangga menyatu dengan kemenangan kecil yang
singgah dihatiku. Aku seperti menemukan keutuhan diri ketika aku mendengar
nafas rakyat yang tersengal mencari sebutir nasi untuk hidup.
Tak bisa aku berbohong pada diriku sendiri,
mama, setelah aksi-aksi itu selesai, dalam lelah dan baju yang kuyup keringat
atau diterpa hujan, kemenangan kecil itu terganggu oleh pertanyaan besar
dikepala: apa yang sebenarnya ingin kita raih, setelah kesekian kalinya kita
berjuang namun menemukan negara ini masih tetap sama dan lembaga-lembaga itu
masih seperti septic-tanc yang hanya
menampung dan terus menampung? Namun, celakanya, anak sulungmu berada pada satu
titik keyakinan bahwa Indonesia akan berubah. Tidak. Indonesia tak akan berubah
dengan sendirinya. Indonesia membutuhkan kami. Membutuhkan pemuda yang
mencintai negeri dan rakyat ini dengan renjana membara dalam perjuangan yang
penghabisan.
Aku sampai difase ini, mama. Fase di mana
aku bukan takut hidup miskin suatu saat nanti. Bukan karena gelar sarjana
politik yang kubawa tak bisa berbuat banyak untuk mencukupi kehidupanku kelak.
Tidak juga karena yang sering mama dan papa sebut bahwa aku anak yang tak bisa
hidup dengan kerja kasar dan berat. Bukan itu ketakutanku, melainkan aku takut
meninggalkan kampus tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Paling tidak, kelak
aku akan menceritakan pada anakku nanti, bahwa aku pernah mengguratkan
perjalanan bangsaku sebagai pemuda.
Banyak hal yang sebenarnya ingin kuceritakan
pada kalian. Namun aku maklum ketika kalian tak bisa memahami. Aku anak sulung
yang harus dipenuhi dengan kepastian masa depan. Namun, mama, lupakah kau pada
Soekarno, Tan Malaka, Hatta dan sedulur-sedulurnya itu? kita mungkin akan
kelabakan jika harus menghapal nama-nama kabinet menteri dari masa orde lama
hingga reformasi. Namun, kita tak pernah melupakan mereka yang mengorbankan
keringat dan darah demi rakyat yang merindukan kemerdekaan. Yang indah dari
Soekarno, bukan karena pidatonya. Bukan juga kharismanya atau jabatannya, tapi
perjuangannya, mama.
Muhammad Iqbal bisa saja menerima dan
menunggu bahwa kaumnya akan merdeka suatu saat nanti di bawah pemerintahan
India yang mungkin kelak akan berubah dan tak menindas. Tapi, ia tak mau
terus-menerus berkawan dengan waktu dan ketidakpastian. Tak ada jalan lain
selain kemerdekaan itu direbut dengan gagah berani. Sampai hari ini, hari
kematiannya menjadi hari libur nasional di Pakistan. Begitu juga aku ingin
dikenang sebagaimana Iqbal dihormati.
Jika Muhammad hanya dikenang sebagai
seorang nabi pada masanya, aku yakin kini namanya tak sebesar dahulu. Atau
mungin hanya orang muslim yang menghargainya. Tapi, ia merebut segala simpati
dari semua manusia karena telah menyelamatkan manusia dari zaman Jahilliah
menuju sebuah masa yang lebih baik. Nama mereka yang harum, sekali lagi mama,
bukan karena jabatan yang mereka duduki, tetapi karena perjuangan panjang yang
melelahkan.
Kadang, jika aku keblinger dalam beberapa
diskusi dan nada suaraku meninggi terhadap lawan bicaraku, ada beberapa kawan
dekatku yang sering menimpali; beginilah jika seorang anak lahir di tengah
gelombang massa mahasiswa yang muak dengan rezim yang lalim. Aku kadang
menampik itu, karena diam-diam aku sadar telah mewarisi sifat kalian berdua.
Aku mengikutimu dalam soal keras kepala dan mengikuti papa yang akan membela
mati-matian sesuatu yang ia pikir benar. Begitulah aku tumbuh dan terbentuk.
Mama, percayalah. Aku telah melalui banyak
jalan dan bertemu orang-orang hebat. Bagiku hebat, bukanlah mereka yang bisa
menghasil jutaan rupiah dan dolar dalam sekian detik. Atau orang dengan jabatan
setinggi langit. Hebat dalam defenisiku adalah mereka yang melihat dunia dengan
cara berbeda dan tak mau hdiup dengan perut bergelembung karena korup. Aku
mengagumi sosok Fajar karena darinya, aku dilimpahi berkah ilmu dan pengetahuan
yang tak mampu kubalas selain mendapuknya sebagai guru. Atau Jevandy yang
merubah cara pandangku dalam melihat kehidupan. Atau Dela, yang dengan sabar
menasehatiku ketika aku kehilangan arah dalam beberapa peristiwa. Ada juga
Umbu, seorang pemuda Sumba yang sukar kupahami karena niatnya menjadi seorang
petani, sementara kepalanya seperti perpustakaan berjalan dengan gelar sarjana
ditangan.
Mereka menyadarkanku bahwa hidup yang
selama ini kuidamkan, ternyata tak lebih baik dari seekor sapi yang cemas
menunggu disembelih, sebagaimana manusia takut mati. Hidup ternyata lebih jauh
dari pada itu semua, mama. Terkadang ketika aku sendiri, aku sering tertawa
saat menghujat novel murahan yang kau baca. Itu semua lucu bagiku karena toh,
kelak aku yakin bahwa kau akan sadar bahwa Tere Liye tak berguna bagi semua
manusia yang membacanya.
Mama, aku bukan lagi anakmu beberapa tahun
lalu yang mengendarai Rx King dengan ugal-ugalan dijalanan. Memang aku masih
berada dijalanan, namun kali ini dengan kepalan tangan yang mengadah ke langit
dengan keyakinan bahwa negara ini akan berubah dengan pemuda yang menjadi penentunya.
Seringkali, aku bertanya pada diriku
sendiri; apakah yang sudah kulakukan untuk negeriku, untuk rakyat dan manusia
yang lain? Aku termangu sendiri dalam lamunan pertanyaan itu. Namun, aku yakin
bahwa aku telah melakukan sesuatu yag baik selama ini sebagai pemuda. Aku melawan,
mama. Aku telah menulis bait pertama dalam puisi hidupku dalam perjuanganku
melawan penindasan.
Suatu saat aku akan pulang ke sana, Maluku
Utara, negeri para raja-raja. Negeriku yang indah dan permai. Tapi bukan
sekarang mama, masih teramat panajng perjalananku di sini. Aku mungkin masih
belajar mencintai siangnya Jakarta yang panas dan rudin. Tapi aku mulai
menyukai malamnya. Sebuah pentas cahaya di balut cahaya yang sunyi dan kadang
terasa ganjil, karena bagiku, tak ada tempat yang lebih menenangkan di bawah
pohon pala di belakang rumah kita. Alasan bagi penjajah menjarah negeri ini
dahulu.
Ada suatu fase aku bermimpi suatu kelak
nisanku akan bertuliskan; di sini, berbaring Galang, seorang manusia yang
pernah berjuang untuk kemanusiaan. Doakan
anakmu, mama.
Kuharap, kau seperti ibu dalam Novel Ibunda, Maxim Gorky.
Komentar
Posting Komentar