Langsung ke konten utama

Bahasa Kehilangan

 untuk Rizky Tarafannur.

***

takbir berkumandang dan aku merasa ada sesuatu yang menusuk dadaku begitu dalam

sebuah kesakitan yang tak terperikan

di meja, bapak dan saudariku telah berkumpul

di dapur, asap tak mengepul

tak seperti biasanya

malam ini ibu tak ada


aku mencarinya di tungku

barangkali ibu sedang menyiapkan hidangan

untukku dan bapak setelah sholat lebaran

tapi ibu juga tak ada di sana

aku duduk bersama bapak dan saudariku

masih opor yang sama namun rasanya berubah

sudah pasti ini bukan bikinan ibu


selepas makan, kami sibuk dengan kepala masing-masing

ada rasa haru di sana

merayakan kehilangan tanpa saling memeluk 

tanpa saling berucap

kami menyimpan ibu di hati masing-masing

aku menatap mata bapak

mata yang kehilangan cahaya juga gelora


kami tahu, ibu telah bahagia bersama nenek

tapi kami tahu bahwa kami tak pernah rela

waktu tak pernah cukup untuk rindu

dan cinta yang teramat dalam

hanya ada satu bahasa kehilangan: air mata

ada pertanyaan yang berkelabat di kepala?:


                    apakah ibu baik-baik saja? 


apakah di surga ibu masih senang memasak?

seperti tiap kali aku pulang dari daratan jauh

dan ibu hidangkan aku sarapan pagi penuh cinta?

ikan garu yang membuatku merasa selalu dekat dengan rumah


apakah ibu merindukanku?

seperti hari-hari tanpa sekalipun tak menanyakan keadaanku?

dering telepon yang senantiasa menuntunku pulang


saat aku wisuda, apakah ibu akan datang?

ibu harus ke jogja, ya?

aku akan mengajak ibu menyusuri malioboro dan beringharjo

juga tempat di mana aku sering berdemo


apakah ibu menanam bunga di surga?

bunga-bungamu kini layu, bu

kami tak pandai merawatnya seperti ibu


rumah ibu yang baru begitu sunyi

bertetangga dengan nenek yang ku kasihi

di bawah bebambuan yang rimbun

di sana ibu takkan kepanasan

beralas daun-daun yang berguguran

di samping sungai yang mengalir ikhlas


ku terangi kamar ibu yang baru dengan doa

menjaganya agar tetap terang

ku layangkan dengan rindu yang bertalu-talu dalam dadaku

doa-doa itu akan terdengar serupa lagu di rumah ibu

barangkali bisa jadi obat kala ibu rindu


telah ku tanam bunga di kamar ibu yang baru

semoga bisa jadi peneduh

ku semai dengan cinta 

disiram dengan hujan dari langit

semoga ia mekar seperti senyuman ibu dikala pagi

senyuman yang tak mungkin ku lihat lagi

senyuman yang begitu ku rindukan, kini


dan nanti


tak ada.


lagi.


***


post-script (bukan sebuah puisi) untuk ma gaya: 


kami sering bertentangan dan bisa saja bertengkar. tapi ku pikir, kami bisa saling menjaga satu sama lain. terlebih, menusuk dari belakang, bukan sifat kami. lagi pula, kami berdua saudara paling tampan di bacan. hahahahha



bahagia di surga, ibunda. 







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...