Hampir setahun, setelah Ceos mencetaknya sebagai buku yang belum benar-benar rampung, saya baru punya kesempatan untuk membacanya setelah meminjam dari Awi. Jangan berburuk sangka dulu ihwal buku yang belum rampung, sebab memang demikian kenyataannya. Ceos mencetaknya hanya dalam beberapa kopi untuk mendaratkannya di meja percetakan penerbit, sekaligus (mungkin) untuk melancarkan propaganda pada mereka yang membacanya. Maklum, ada banyak kesalahan penulisan di sana-sini.
Saya pikir, saya dan mungkin tiap orang yang membaca tulisan/buku kawan sendiri, muskil untuk memposisikan diri sebagai pembaca yang objektif. Sekeras apapun usaha kita untuk objektif, justru membuat kita kian subjektif. Tapi setiap pandangan yang paling subjektif sekalipun, tetap membutuhkan argumentasi. Meski mungkin tak kukuh, saya akan menyampaikannya tanpa ragu.
Saya percaya Ceos akan lekas mengajukan antitesis untuk menggelar argumentasi bantahan atau bahkan mematahkan argumentasi saya—secepat Aidit dan partainya dihancurkan dalam kurun waktu kurang dari satu hari setelah PKI terlibat dalam konflik internal angkatan darat. Barangkali, dengan adanya banyak ruang untuk menggelar percakapan hingga perdebatan—dengan penulis, baik secara tulisan maupun lisan—saya berharap buku ini bisa diterbitkan secepatnya, dan, dalam kondisi yang sebaik-baiknya.
***
Ceos membuka tulisannya dengan pengantar yang singkat untuk buku yang kelewat berapi-api, lalu memulainya dengan kajian ihwal metodologi gerakan kiri yang mengutip banyak pendapat Bachriadi, seorang penulis dan aktivis agraria yang melimpahi Ceos dengan segudang pelajaran dan pengalaman.
Penulis menuturkan sederet deskripsi ihwal awal mula gerakan kiri yang berkembang di Eropa, meski pembahasan tentang Revolusi Industri hanya sekadar numpang-lewat. Saya insaf; sebab Ceos adalah anak zaman yang mendapatkan dorongan berjuang dari gemerlap Revolusi Oktober (tapi saya percaya bahwa Ceos tidak mungkin melupakan kenyataan yang terang bahwa kesadaran kelas pekerja didorong oleh perkembangan revolusi industri di Inggris) yang saya pikir ia punya segala perkakas untuk menghadirkan sederet tesis mendalam atas itu.
Kembali Dari Kiri disesaki oleh teori-teori yang senantiasa kita temui dalam diktat-diktat marxis, padahal saya percaya bahwa ia sanggup melampaui tapal batas yang mengekang topik pembahasan itu. Ini bisa terjadi pada siapapun yang enggan melepaskan diri dari kenyataan yang melahirkannya. Sebab penulis yang baik melahirkan tulisannya dari rahim keresahan, kekesalan, kemuakan pada dunia yang ditinggalinya dan kenyataan yang mendasari semua itu. Tapi penulis yang hebat bisa melepaskan diri dari pada kenyataan di baliknya dan menyadari betul bahwa sebuah buku punya nasib yang lain, yang bahkan berbeda dengan nasib penulisnya. Terutama karena paham bahwa tiap pembaca bisa jadi tak punya semangat dan pengalaman yang sama.
Kekeliruan sederhana dalam penulisan (terutama dalam soal teori dan metode perjuangan) tetapi bisa menjadi sangat fatal, adalah (lagi-lagi) karena tidak menghadirkannya dengan argumentasi yang terlampau kuat dan mendalam. Ini terjadi sebab Ceos melakukan pembahasan pada tiap sub-bab nya dengan sangat ringkas dan jauh dari mendalam (untuk tidak menyebutnya kering).
Dalam pembahasan mengenai Kemajuan Gerakan dan Munculnya Ide Sosialisme (di Indonesia) ia menjelaskan kelahiran gerakan yang kemudian menjadi cikal-bakal lahirnya PKI, nyaris tanpa cela. Hanya saja, ia (menghindari?) melewatkan fakta usang bahwa sosialisme dan nasionalisme tak selamanya bisa menjadi pasangan yang serasi.
Bahwa kemudian nasionalisme dalam soal tertentu, mewakili kegagalan historis marxisme sebagai alat pemersatu klas. Toh, dalil yang kelak digunakan Orba menjadi bukti sejarah (paling tak di Indonesia) bahwa marxisme bisa ditendang kapan saja ketika ia tak lagi dibutuhkan rezim yang memiliki kuasa atas klaim yang berakibat pada malpraktik nasionalisme.
Saya berharap ada penjelasan di mana jurang antar keduanya bisa diutarakan secara komprehensif. Tanpa itu, tiap terminologi yang ada di posisinya yang kiri, seolah-olah tak sanggup berdiri di atas altar ideologinya yang kukuh dan memerlukan status quo untuk menopang eksistensinya sebagai ideologi.
Dalam persoalan yang sama, Ceos tak berupaya untuk mempertajam analisis serta argumentasinya tentang kenyataan di mana komunisme di Indonesia lahir dari rahim agama, yang mana berbeda dari kelahiran komunisme sebelumnya di lain tempat; Eropa, daratan Amerika Latin, Tiongkok dan Tenggara Asia.
Bahwa kemudian fakta selanjutnya bisa saja terurai dengan terang, sekaligus mampu menggugurkan pendapat Marx di masa lalu: agama adalah opium bagi masyarakat. Namun di sisi lain menjadi sebuah penegasan bahwa agama adalah perkakas perlawanan paling dasar yang pernah terberi dalam hidup manusia. Terang bahwa tanpa marxisme sekalipun, semua agama seharusnya mempunyai tugas keimanan yang sama: melawan penindasan. Orang Katolik menyebut hal itu sebagai Teologi Pembebasan.
Lain sisi, pendapat Ceos bergelut pada komunisme di masa lalu. Teori-teori lama, masalah-masalah yang sama. Saya tidak berharap ia tenggelam dalam populisme abad 21, tapi paling tak, ia bisa mengutarakan saling-hubungan tentang apa yang harus dikerjakan hari ini saat perkembangan teknologi sampai pada puncaknya dalam mengendalikan perilaku manusia. Sebab, kupikir, perkembangan sosial media dan teknologi, dalam beberapa soal, jadi fakta paling sahih bahwa klasifikasi klas dalam teori Marx bisa menjadi begitu absurd ketika dua sektor klas, dalam banyak hal—bisa memperoleh kesempatan yang sama. Dunia yang setara antara yang borjuis dan proletar.
Dalam soal klasifikasi golongan kiri, Ceos mengarahkan telunjuknya sembari berseru untuk mengganyang—alay-alay marxis—yang dalam bahasanya disebut “klaim kiri”, yang secara langsung maupun tidak—menjadi benalu dalam tahapan revolusi. Saya tidak menyangkal pendapat ini, tapi bukan berarti menganggapnya sebagai pendapat yang tanpa cela. Sebab kaum kiri, bukan kaum yang tanpa salah, bukan juga manusia tanpa nila.
Soal ini, memang benar bahwa alay-alay marxis adalah sebuah golongan yang menari dengan sembrono di atas lantai marxisme untuk mendapatkan satu pengakuan menjadi bagian dari umat Marx yang revolusioner, alih-alih memberikan dirinya seutuhnya kepada perjuangan klas. Akan tetapi ‘kaum kiri’ dalam realitasnya juga mengalami kemandekan dari ekses imperialisme yang justru memperkuat cakarnya dalam segala sektor.
Kita Mereka terjebak dalam keriuhan populisme abad ini namun bersikukuh bahwa revolusi yang pernah terjadi satu abad sebelumnya bisa saja dilakukan di abad ini dengan menggunakan metode yang sama. Kita terjerembab pada perdebatan-perdebatan yang memakan waktu, tenaga dan pikiran yang justru tak pernah beranjak dari hulu. Kita mungkin tak pernah beranjak ke mana-mana. Mungkin saja.
Pertentangan ini akan terus berlangsung dalam tahun-tahun mendatang. Satu soal sederhana yang menjadi begitu rumit ketika percakapan digelar dan masing-masing mendengar untuk saling menjawab, bukan untuk saling memahami.
Kulonprogo adalah ekses paling nyata dari pertentangan ini. Sebuah pukulan telak terhadap inteletual revolusioner Jogja! Sebuah kesalahan yang semoga dapat menjadi pelajaran bersama untuk seluruh intelektual perkotaan. Dalam soal ini, saya ingin membentangkan satu argumentasiku tentang bagaimana tiap orang harus melakukannya dalam berjuang: Saya mencintai ideologi yang saya anut dan bersedia memberikan hidup karenanya. Tapi di atas segalanya, saya lebih mencintai persatuan.
Lalu, Ceos, apakah perjalanan ini akan berujung pesta?
Komentar
Posting Komentar