Langsung ke konten utama

Reportase Budaya

Perjuangan petani Kendeng melawan pabrik semen, masih menyala bak api yang siap melahap apa saja yang menghalangi tujuan mereka. Bahkan, ketika mereka kehilangan satu kawan, Yu Patmi, dalam medan juang yang tak berpenghabisan itu, tak juga menyurutkan niat mereka sedikit pun untuk terus melawan. Sekali pun mereka sadar bahwa negara akan tetap bergeming dalam menyikapi persoalan mereka. Kendeng menjadi simbol perlawanan. Menjadi tanda untuk jiwa-jiwa yang tak kenal lelah.
Melihat negara dengan kondisi ini, saya teringat dengan salah satu kalimat guru saya, Fajar Martha: dunia disesaki oleh orang-orang yang takut mati (lapar), sehingga akhirnya memilih untuk hidup nyaman dan berkompromi dengan keadaan yang sebenarnya sedang tidak baik saja. Layaknya kita, sebagian besar manusia, ogah menantang maut. Sebab telah kita ketahui bahwa manusia atau binatang tak akan sanggup melawan maut. Yu Patmi dan kawan-kawan pun tahu dengan apa yang mereka hadapi. Namun, tak satu pun nyali mereka menciut akan pertempuran penghabisan ini. Mereka ibarat suar bagi kaum-kaum tertindas.
Sebelumnya petani Kendeng telah berhasil menang dalam gugatan ke Pengadilan Tinggi Usaha Negara (PTUN), namun lucunya pendirian Pabrik Semen Indonesia di Pegunungan Kendeng masih dan akan terus berlanjut. Seperti syair lagu Melanie Subono; hukum tak bisa menyentuh yang di atas sana. Hukum dijadikan alat penindas kita. Miris kawan. Kita punya tanah, kita punya air di negeri yang lestari ini. Namun, tanah kita telah dirampas, air harus kita bayar. Tak ada lagi yang tersisa. Semua tanah habis dipakai untuk mendirikan tembok-tembok besar pabrik, air kita kotor bercampur limbah, nelayan kita sulit mencari ikan akibat reklamasi yang berdalih satu kata yang begitu klise: pembangunan.
Perjuangan mereka tak kunjung surut. Long march ke Jakarta untuk aksi di depan istana tak juga membuahkan hasil sekalipun kaki mereka dicor selama berhari-hari menggunakan semen yang pabriknya akan berdiri kokoh di atas tanah mereka. Namun, petani-petani itu tak sudi bersahabat putus asa. Jokowi lelap dalam nina bobo investasi, tuli mendengar suara-suara yang tak kenal lelah itu di depan hidungnya. Lagi-lagi raut wajah mereka tak sedikit pun terlihat tanda-tanda menyerah.
Inikah demokrasi? Demokrasi tak lain hanya sekadar nyanyian sunyi rakyat kecil.
Untuk mengenang 40 hari meninggalnya kawan seperjuangan kita, Yu Patmi, Solidaritas Jogja Tolak Pabrik Semen, mengadakan tahlilan dan acara musik yang diselenggarakan di Parkiran Terpadu, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Acara ini bertujuan untuk memperingati seorangkawan yang gugur dan mendukung perjuangan petani Kendeng, serta penggalangan dana agar disumbangan kepada mereka.
Jangan kalian kira acara musik dan tahlilan yang saya maksudkan adalah yang biasa kalian lihat di televisi atau bahkan konser-konser penggalangan dana yang lain: lampu sorot di mana-mana, panggung besar dan alat musik yang lengkap nan mahal. Ini di luar dugaan kalian, sahabat, mengingat ini acara amal dan lebih parahnya lagi, tak satu pun binatang rakus berdasi itu peduli dengan persoalan petani. Yang diundang bukanlah band-band atau penyanyi-penyanyi ternama. Lagipula, band-band besar atau penyanyi yang lagaknya minta ampun itu, mana mau manggung di tempat parkir yang bahkan tidak ada panggung. Hanya diterangi oleh lampu seadanya, bahkan gelap menyelimuti segala sisi.
Band dan penyanyi yang hadir adalah mereka yang sering terlibat dalam aksi kemanusiaan — lagu-lagu yang mereka ciptakan mengandung nilai kemanusiaan yang mendalam. Band-band tersebut antara lain Rebellion Rose, Sickbrain, Melanie Subono, John Tobing, Momo Biru, Havinhell, dan SPOER. Sedang pengisi acara tahlil adalah Roy Murtadho dan orasi ada Hairus Salim dan Alissa Wahid. Turut hadir pula Antiproject yang menjual baju dan membuka jasa sablon untuk membantu penggalangan untuk petani Kendeng. Acara yang berlangsung padapukul 18.00 ini dipenuhi antusiasme dari penonton yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Saya datang bersama dua sepupu saya, Rizki dan Ibnu, ketika acara telah dimulai dan penonton telah membludak. Banyak juga kawan aktivis yang saya kenal sudah berada di lokasi sebelum saya datang. Ketika saya sedang terpaku menikmati Rebellion Rose yang sedang menyanyikan “Darah Juang” dengan begitu menggelora, samar-samar terdengar teriakan yang begitu menggelegar:  “Ganjar asu, Ganjar jingan, Ganjar celeng” (terjemahan: Ganjar anjing, Ganjar bajingan, Ganjar babi). Mendengar itu, saya lantas meneriakkan hal yang sama dan jutaan makian lainnya pada sosok perampas tanah tersebut. Ganjar Pranowo bajingan!
Lucunya, sepupu saya merekam video, kala Melanie Subono menyanyikan sajak-sajak Wiji Tukul yang berjudul “Sajak Suara” — salah satu tokoh yang harus disingkirkan oleh seorang bajingan bernama Harto — dan mengunduhnya ke Instagram dan menandai yang terhormat, Ganjar Parnowo. Ia menandai Ganjar dalam video tersebut, disebabkan dibalik keriuahan penonton, lagi-lagi, suara-suara makian terhadap Ganjar menggelora di segala penjuru. Ia tidak menduga ketika Ganjar membalas pesan singkat untuk video tersebut: “wow!” Demikian tanggapan yang diberikan oleh seorang bajingan, juga perampas yang bernama Ganjar Pranowo. Setelah menindas rakyat yang menjadi tanggung jawabnya, membuat tangisan yang begitu nyaring terdengar, suara-suara perlawanan yang terpatah-patah, dengan mudah ia membalas semuanya dengan satu kata: ‘wow!’
Suasana begitu syahdu ketika lagu dari Melanie Subono yang berjudul “Nyalakan Tanda Bahaya” dilantunkan. Terdengar nada sendu, luapan amarah yang meledak-ledak, campur aduk menjadi satu. Bajingan liriknya, pikir saya. Momo Biru menjadi penutup acara tersebut. Namun, suara-suara dari jiwa-jiwa merdeka itu masih tetaplah sama: Ganjar asu, Ganjar jingan, Ganjar celeng. Saya pun berteriak demikian.
“Aku Kendeng, tolak pabrik semen.” ♦

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...