Langsung ke konten utama

Untuk Edward



Bukankah sudah kubilang bahwa puncak jatuh cinta paling hakiki adalah patah hati? lantas kenapa kau masih saja gemar berkawan dengan luka dan harapan? Pun lukamu masih menganga, menyiratkan goresan yang pernah terjadi dan siapa yang melakukan. Kau pernah dihajar trauma. Sempat diterkam badai yang tak kunjung reda. Namun kau masih saja berdiri dan menantang bahaya. Kelak, keras kepalamu akan binasa.


Lupakah kau sahabat oleh apa yang dikatakan oleh Don Vito? sosok yang kau idolakan di film The Godfather itu: "Jangan biarkan orang lain tau apa yang kau pikirkan". Oleh karena itu, jangan sampai wanita mengetahui sepenuh hatimu jika kau tergila-gila padanya. Setidaknya ada sisa perasaanmu yang kau simpan untuk dirimu sendri dan tak pernah kau bagi.


Kau sahabatku dan tak pernah kuingin melihat kau diselimuti kepahitan hidup. Kau layak untuk mendapat yang terbaik. Jangan biarkan kau disakiti dengan percuma oleh wanita yang sedang mengembara untuk sekadar singgah ketika lelah. Kau tak pantas untuk itu!


Aku pernah menyaksikkan kau terpuruk lantaran wanita. Suaramu kelewat lunglai dalam terpaan angin malam. Kerlinganmu hambar seperti sebongkah tubuh tanpa jiwa. Minuman yang kau teguk hanya sekadar mengobati lara.


Terkadang kau seperti seorang dengan kepribadian yang ganda. Di satu sisi kau begitu bersahaja, disisi lainnya kau diterbiskan oleh ganasnya percintaan. Seperti anomali. Kau mencintai dengan penuh susah-payah namun dibalas dengan sekadar kata-kata yang banal dan ogah melibatkan rasa. 


Sahabat, jika terkadang kau berada di persimpangan jalan perasaan, belajarlah pada kejadian ini. Kejadian yang sebenarnya terjadi padamu namun kau lewatkan tanpa mengambil pelajaran yang begitu berharga. Peristiwa yang kelak membentuk pribadimu. Maafkan aku jika kau gusar dengan analogi yang kuberikan ini. Namun percayalah, tak ada maksud diriku untuk membuatmu telentung, semua semata-mata karena aku peduli. Lain tidak.


Begini sahabat. Apakah kau melihat wajah kedua orang tuamu saat hendak berpisah? Kedua wajah itu dulunya pernah berjanji untuk saling melengkapi. Untuk sehidup dan semati. Tiga buah hati adalah saksi. Pernah mencintai lalu pergi. Sempat menggenggam tapi kemudian melepaskan. Dan pada akhirnya hanya menyisakkan kenangan yang berserakan dalam ingatan. 


Apakah kau ingin seperti mereka? 
Sekali lagi: maafkan aku sahabat.


Hidupmu tak harus melulu ihwal wanita. Kau punya persoalan lain yang harus kau hiraukan. Menjadi seorang putera sulung yang memikul beban adik-adiknya dan ketidakpastian masa depan yang sedang harus kau perjuangkan. Dan itu tak mudah kawan. Jangan kau bawa muatan lain yang sekadar berisi tentang perasaan. Belum lagi, kau masih saja terbelenggu oleh kemalasan yang melenakkan.


Belajar, belajar dan teruslah belajar. Tak perlu kuingatkan kau tentang kutipan Hemingway yang mengatakan bahwa "tak ada teman sesetia buku". Hidup yang sedang kita jalani ini, penuh dengan orang-orang bermulut besar. Memproduksi beo-beo yang kelak menjadi segelintir dari sekain banyak pion-pion kapitalis berperangai jongos dan hamba. Oleh karena itu jangan kau bikin otakmu celemotan hanya karena ihwal percintaan.


Sepengetahuanku, kau orang yang bersahabat dengan keraguan dan ketidakpastian. Sering Mengumbar janji yang sebenarnya, tak dapat kau tepati. Jangan sampai, sikap ini membuat orang lain menghilangkan kepercayaannya padamu atau bahkan menghancurkanmu. Apalagi, kita sama-sama tahu sahabat, bahwa hidup yang kita tempati ini dipenuhi dengan orang-orang yang berlagak 'seolah-olah baik' dan itu ada dalam lingkungan yang sedang kita gauli.


Jalanmu, demikian jalanku, masih nian bujur. Masih penuh dengan ketidakpastian. Namun, apa yang kita lakukan hari ini, telah menampakkan bagaimana yang akan terjadi dihari kelak. Menjadi apa kita nanti? Akan bagaimana hidup kita besok? Adalah pertanyaan yang membawa sejuta keresahan dibalik gelapnya masa depan.

Semoga kau takkan pernah putus harapan sahabat. Sebab, masih ingatkah kau kata-kata yang sering kukatakan dulu? "Seorang pemimpin berbeda dengan pimpinan. Pimpinan lahir dari posisi dan jabatan. Tapi pemimpin, ia lahir dari proses jatuh-bangunnya tabrakan kehidupan". Jangan sampai kau dibikin bopok oleh kehidupan yang keras dan brutal ini. Jika kau keras pada dirimu, dunia akan tampak mudah didepanmu. Namun sebaliknya: jika kau lemah pada dirimu sendiri; dunia akan tampak alot dihadapmu. 

Jadilah seorang manusia resistan dalam menempuh segala bentuk kepahitan hidup. Seperti sajak Chairil: "Bukan maksudku, berbagi nasib. Nasib adalah kesunyian masing-masing".


Sekali Lagi: jangan biarkan kau disakiti dengan percuma oleh wanita yang sedang mengembara untuk sekadar singgah ketika lelah. Sebab kau tak pantas untuk itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...