Seperti yang
lain-lain, ia bermula dari tak ada. Ia lahir dari sebuah sejarah. Kemudian
orang tua mulai mendongeng dan bercerita tentangnya, ia berkembang melalui
kisah dan huruf -huruf yang ada dalam buku tua. Mereka menyebutnya Jou
Kolano, katanya adalah penguasa, yang perkataanya adalah sebuah sabda yang
pengaruhnya ibarat kitab suci yang tak dapat diganggu gugat. Tapi kata-kata itu
berisi alienasi, intrusi, kedap, dan ganjil.
Seseorang yang
dianggap sebuah tolak ukur, pernyataannya akan menjadi sebuah dogma atau candu
bagi orang banyak. Dalam konteks ini, Saat sultan Bacan menyatakan sikap untuk
memilih salah satu kandidat yang bertarung dalam pilkada kali ini, di sisi lain
masyarakat membuat pernyataan:“Jou de mana, kami de itu.”(sultan di
mana, kami di situ) pernyataan itu masih tetap menyimpan mistik, yang
menjadi sebuah jargon salah satu pendukung kandidat yang dibanggakan dan
bertahan dalam meledaknya partisipasi politik. Entah dari mana pernyataan itu
berasal: kearifan lokal ataupun primordialisme. Orang-orang yang mengklaim
mereka sebagai masyarakat adat, tak lebih dari sekedar komoditi masyarakat
impoten yang bekerja untuk kepentingan para penguasa. Menjadikan rumah ibadah
sebagai tempat meluapkan emosi. Menghalangi ritual adat adalah dalih untuk
menghakimi orang yang mempunyai kepentingan berbeda dengan mereka.
Jika karena politik dapat membuat kesultanan
terkooptasi oleh kepentingan, dengan terpaksa saya melepaskan semua yang
berkaitan dengan feodalisme. Orang-orang saling membenci dan mengutuk demi
membela kepentingan masing-masing dan melupakan suatu kalimat: kita urang
laina moyo, bacakalang kakita arat! (kitorang bukang orang laeng, baku
pegang la tong kuat) Kalimat itu kini hanya syair yang tersusun indah
dalam lagu Kolano Batita yang bertujuan untuk menyatukan segala strata sosial
yang ada di Halmahera Selatan, tetapi semua itu sangat kontradiksi dengan
realita yang terjadi saat ini.
Siapapun yang
terjun dalam dunia politik, harus bisa menerima segala sesuatu yang terjadi
apapun resikonya. Karena politik secara teoritis terdapat suatu sikap yaitu
pendobrakan moral (baca:Nicolo Machiaveli), tetapi saat orang mengeluarkan
pendapat yang mengkritisi sikap politis dari seorang sultan akan dianggap
menentang hukum adat dan menjadi musuh bersama yang harus dilawan. Hukum adat
sendiri menurut saya hanya sebatas retorika di atas kertas, tapi di bawah
realitas.
Dengan kondisi
politik seperti ini, di mana semua masyarakat dari tatanan grass roots sampai
elit, telah menjadi pengamat politik dadakan yang saling mencaci dan
mengeluarkan pendapat yang berisi omong kosong dan saling menjatuhkan.
Kesultanan Bacan sebagai tuan rumah harusnya dapat bersifat independen yang
mengakibatkan benci dan tangis ibarat luka yang menganga di tanah yang
sejatinya damai tak harus terjadi, dan tak jarang saya keruh dan bertanya
sendiri di manakah nilai-nilai yang seharusnya tertanam dalam hukum adat,
karena realita yang terjadi membuktikan bahwa semuanya begitu kontradiksi:
rancu, kaku dan banal.
Obrolan tentang
Pilkada tengah mengabuk masyarakat Bacan, dan mungkin menjadi pembicaraan wajib
di media sosial, pangkalan ojek, bahkan meja makan. Tetapi bisakah sejenak kita
berhenti berbincang tentang politik, dan berhenti saling mencaci? Kadang kala,
ketika orang-orang berlomba untuk mencapai suatu kemenangan, mereka lupa bahwa
banyak kemenangan yang lebih buruk dari sekedar kekalahan.
“untuk sultan
Bacan, pemimpinku. Bukan bermaksud untuk menggurui, tapi jadilah seorang pemimpin
yang menjadi penyambung lidah, dan jerit tangis dari segala penjuru Halmahera
Selatan, dan bukan karena kepentingan suatu kelompok atau golongan” maafkan
saya jika telah lancang menyatakan sikap dalam pernyataan yang singkat ini.
Yang terakhir saya
sebagai putra daerah berhak bersuara dan menyampaikan aspirasi, dan saya tidak
melanggar norma yang berlaku, Norma yang mengatakan bahwa seorang rakyat tak
dapat mengkritisi seorang pemimpin yang dihormati karena berbeda kasta, Dan
jika ada yang mengatakan bahwa saya tidak layak berbicara seperti ini, saya
akan mengatakan dengan sangat bijaksana, saya keturunan langsung dari
Al-Musyarrafah Kacili Hamzah yang bergelar sultan Tarafannur, dan saya pantas
menyatakan sikap!
M. Iqbal Tarafannur, mahasiswa Universitas Nasional Jakarta.
Jakarta, 24 maret
2016.

Komentar
Posting Komentar