Langsung ke konten utama

Abrizal dan Ingatan yang Mengejar


Jogja, 30 Mei 2017.

Di sepanjang hari-hari yang kami lalui bersama, semuanya makin berbeda ketika satu dari sekian sahabatku harus berkelana menuju suatu kota diseberang laut sana untuk mengejar impian yang telah lama ia inginkan: menjadi seorang pesepakbola profesional. Yah, sekarang keinginannya telah terbukti dan aku turut berbahagia untuknya. Meskipun aku tahu bahwa butuh perjuangan penghabisan saat ia mengejar impian itu. Dia memilih hidup berjelaga dan berjudi atas kehidupan diperantauan yang keras dan brutal. 


Kepergiannya bukan hanya menjadi tanda berkurangnya salah satu sahabat terbaik, namun kehilangan suatu sosok yang teramat penting dalam perjalanan hidupku. Aku masih teringat ketika ia hendak berangkat meninggalkan kami dengan mengeluarkan janji yang begitu sakral pada ibu ku: "suatu saat mama pasti bangga, pemain Timnas pernah menetap di rumah ini. Belakangan aku tahu, bahwa ia semakin dekat dengan janjinya itu. 


Seingatku, entah berapa banyak, aku menyakitinya. Membuatnya tersinggung atas sikap kekanakanku. Seringkali dia muak dan aku bisa melihat itu dari raut wajahnya. Namun, percayalah: dibalik semua itu, aku begitu menyayanginya. Terkadang, dia menjadi sahabat, di situasi yang lain, dia menjadi kakak, inspirasi, penyemangat dan apapun itu untuk mendukungku. Sebaliknya, aku pun demikian padanya.


Pada malam-malam yang panjang, kita banyak menghabiskan waktu bersama. Bercerita tentang banyak hal pada masa yang telah lewat. Suasana yang begitu syahdu di penghabisan malam. Dalam kesempatan seperti ini, tak jarang ia menasehatiku. Mungkin semua itu dilakukannya karena ia peduli. Atau, aku pun tak tahu. Entahlah. Tapi semoga saja, aku benar bahwa ia menghiraukan apa yang akan terjadi denganku. Bahkan seringkali, aku terkadang resah bagaimana ia mengenangku.


Bagaimana ketika orang menanyakan apa yang ia pikirkan tentangku? apakah ia akan mengatakan bahwa aku adiknya, sahabatnya, ataupun sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benakku: musuhnya. 


Kini, kita sama-sama telah beranjak dewasa. Aku dengan jalanku, ia pun demikian. Kebahagiaan yang tak bisa kulupakan adalah saat di mana aku menyaksikan langsung di SUGBK ketika timnya Persija melawan Barito Putera. Berkat tiket VIP yang ia berikan, aku bisa lebih leluasa untuk melihat saat ia keluar dari lorong pemain bersama sederetan pemain lain yang banyak ku kenal sejak aku kecil. Aku serentak berdiri, meneriakkan namanya dan melambai padanya. "Boke, Boke, Izal, Begitulah aku berteriak".


 Ia melihatku dan mengangkat tangannya. Beberapa orang disampingku juga meneriakkan namanya. Tak sadar, air mataku menetes. Kebanggan yang tak pernah kurasakan sebelumnya melihat sosok yang selama ini bersamaku, telah menjadi idola Jak Mania. Tim besar Ibukota. Kenangan indah yang enggan kulupakan. Dalam sesekali perenungan, sayup-sayup ingatan membawa pada malam-malam panjang yang kita lalui bersama. Dulu. Dan itu sudah lama sekali.


Dari sikapnya yang ku lihat, ia begitu peduli terhadap orang tuaku. Dan percayalah, sekali lagi, akupun sebaliknya terhadap orang tuanya. Dalam banyak kesempatan yang telah lewat, Ibu ku amat peduli padanya. Ketika sahabat kami tengah berkumpul, ia sering kali menjadi prioritas. Bahkan tak kupungkiri, acapkali aku muak ketika harus dibandingkan dengannya. Dia seorang yang taat agama, rajin, patuh dan jarang bertingkah jika sedang dirumah. Sedang aku, sosok pemarah dan keras kepala. Namun semua itu, tak menjadi alasan kami untuk berseteru. Tak ada kaitannya dengan perasaan kami untuk saling menyayangi.


Saat itu, aku membaca berita sepakbola. Daftar pemain yang akan membela Timnas Indonesia. Aku melihat dengan teliti lis pemain Persija yang hendak dipanggil mengikuti seleksi itu. Abrizal Umanailo. Yah nama itu muncul. Aku spontan kegirangan dan mengucap syukur atas apa yang diraihnya. Sekalipun akhirnya aku kecewa saat ia gagal dalam seleksi itu, aku tetap bahagia. Setidaknya, ia semakin dekat dengan impiannya untuk membela Tim Nasional kami.

Kebahagiaanku bertambah saat mengetahui bahwa ia masih sama dengan orang yang kukenal dahulu. Penyabar dan bersahaja. Kendati hal itu tak menjadi tanda ketika otak mesumnya telah lenyap. Namun aku selalu memaklumi hal tersebut: dirinya pantas untuk mendapatkan apa yang ingin dirasakannya. Sebab ku tahu, wanita tidak pernah--setidaknya belum dan semoga saja tidak--menjadi batu sandungan dalam perjalanan karirnya di dunia sepakbola.

Ada saat di mana aku terlibat dalam perdebatan yang sengit dengan teman-teman ku yang tergabung dalam Jak Kampus. Padahal jika di lihat, hanya sedikit pengetahuanku tentang Tim Ibukota yang berjuluk Macan Kemayoran itu. Hal itu tidak menjadi alasanku untuk tak membelanya. Bahkan sering kali selepas berdebat, aku bingung kenapa hanya dengan kritikan tentangnya, aku bisa naik pitam dan terkadang hampir lepas kendali. Beruntung mereka memaklumi sikapku terhadapnya. 


Seringkali perdebatan berakhir dengan tawa lepas dan mengobrol tentang lawatan Persija selanjutnya. Dari situ aku sadar, bahwa kepedulianku bukan hanya sekedar hubungan persahabatan. Namun lebih jauh dari itu yang tak bisa kujelaskan hanya dengan apa yang tertulis di sini.


Abrizal Umanailo. Seorang pesepakbola kelahiran Ambon, 6 Desember 1997 itu, begitu melekat dalam ingatan. Begitu mesra dengan kenangan. Segalanya terajut rapat antara aku dengannya. kuharap kau tak pernah melupakan semua yang pernah terjadi di sini.


Doa terdalamku hanya agar kau selalu berada dalam jalan yang baik.


Terima kasih Kakak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...