Langsung ke konten utama

Kepercayaan semu


               


            “agama adalah nafas dari orang yang tertekan, hati dari dunia yang tak punya hati dan jiwa dari keadaan yang tak berjiwa. Agama adalah opium bagi orang banyak.” Begitulah kira-kira kritik dari Karl Marx yang begitu tersohor mengenai pandangannya terhadap agama pada zaman itu, atas hegemoni Vatican. Terbebas dari pemikiran Marx, kita dapat melihat bahwa agama merupakan suatu lembaga yang sangat penting dalam kehidupan di bumi manusia. Bahkan  kelewat−pentingnya agama hingga ia dijadikan salah-satu instrumen dalam merebut kekuasaan.

Tulisan ini berpunca kala saya, Rizal Syam dan Fajar Martha yang larut mendiskusikan persoalan Pilgub DKI Jakarta yang tengah hangat dibicarakan, sambil membuka Instagram dan terbahak membaca komentar-komentar banal tentang kasus tersebut. Dengan menggunakan tagar #kapolritangkapahok kami menonton salah satu video di mana ibu-ibu  dengan lantang meneriakkan kalimat; “tangkap Ahok, Ahok hanya punya dua pilihan: penjara atau mati. Bunuh Ahok!” Mendengar hal itu, kami tertawa dengan sendu.

Saya membaringkan diri, berpikir dan menerka-nerka tentang arti perkataan tersebut. Fajar dan Rizal lantas saling melirik penuh tanya. Tidak saya temukan suatu kesimpulan di situ, selain timbul curiga: “apakah begini gambaran pada pemeluk agama (Islam) di Indonesia?” begitu gamblangnya dikoyak-koyak dari dalam hanya karena kepentingan (politik) suatu kelompok. Melihat realitas yang terjadi, saya setuju dengan DN. Aidit: “apabila agama tidak bisa digunakan untuk instrument melawan penindasan, berarti agama ‘sah’ dikatakan sebagai candu bagi orang banyak.”

Namun substansi tulisan ini bukanlah semata-mata membahas tentang Pilkada DKi atau pertikaian agama di Indonesia, melainkan bagaimana agama bisa dijadikan sebagai alat dalam mempengaruhi, merebut dan mempertahankan suatu kekuasaan politik.

Merenung persoalan agama saat ini, saya kembali diajak untuk mengingat kembali apa yang terjadi 18 tahun yang lalu, di tanah Maluku (tempat saya lahir) dan Poso, terjadi perang agama yang masih simpang-siur sebabnya. Ribuan kepala terpenggal yang dipajang di pagar rumah ibadah masing-masing. Ribuan nyawa melayang. Mayat-mayat tergeletak di sepanjang jalan. Darah membasahi daratan seperti hujan yang belum kering. Hari demi hari terasa sangat menegangkan. Setiap berakhirnya senja, malam kelam pun berlanjut.

Ayah saya, keluarga saya dan orang-orang di kampung yang meneriakkan Takbir dengan lantang dan gagah berani, pergi dengan satu tujuan: Jihad Fiisabilillah. Di antara mereka yang pergi, ada yang kembali dan ada yang tidak, ada yang mayatnya ditemukan, ada yang tidak ditemukan. Keluarga yang ditinggalkan dengan sabar menanti mereka, sembari membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Bom dan senjata memecah keheningan malam yang mencekam.

Tangisan yang samar-samar terdengar begitu menyeramkan. Hal itu berjalan secara terus menerus. Terasa sangat lama dan membosankan. Kata pertama yang bayi-bayi (seperti saya−yang lahir saat itu) mungkin berbeda dengan kalian yang lahir di tempat lain. Bom!: kata pertama yang bisa saya ucapkan, bukan ‘mama’ atau ‘papa’ tidak seperti kebanyakan orang yang lahir disaat yang sama namun di tempat yang berbeda. Begitulah kira-kira peristiwa ditengah kelahiran saya yang lahir ditengah perang agama yang berkecamuk.

Tahun demi tahun berlalu. Setelah saya beranjak dewasa, kadang saya bertanya: Apa yang terjadi setelah perang ini? Adakah pihak yang menang dan pihak yang kalah? Karena yang tinggal hanyalah perasaan getir dan trauma akibat perang agama yang brutal. Hingga kini peristiwa ini masih meninggalkan luka yang menganga dan menyisakkan bangunan-bangunan runtuh terkena bom atau yang dibakar.
−Ω−
Dalam persoalan hari ini dan yang belum lama terjadi, hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai agama, seperti LGBT, Komunisme, konflik agama dan hal-hal lain yang berkaitan, Pancasila, khususnya Sila pertama (Ketuhanan yang Maha Esa) selalu dijadikan tameng untuk menentang dan menindak segala sesuatu itu dan bukanlah Sila lain seperti Sila ke-3 (Persatuan Indonesia) dan Sila ke-5 (Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia). Para pakar agama mulai berkoar, kelompok kepentingan bertindak dalam barisan paling depan untuk melawan orang-orang yang dianggap mengganggu dan mengancam kekuasaan suatu rezim yang sedang berkuasa.

Tetapi, mari kita telaah kembali sesuatu (berkaitan dengan hubungan agama-politik) yang terjadi saat ini dalam tesmak politik. Salah satu pelacur DPR RI, Fadli Zon yang ikut dalam aksi 4 November yang sama-sama mengutuk penistaan terhadap agama Islam yang dilakukan oleh salah satu kandidat pilgub DKI, justru hadir dalam kampanye dan merayakan kemenangan presiden terpilih Amerika Serikat, Donald Trump bersama Setya Novanto yang senyatanya membenci Islam di Amerika.

Hal ini membuktikan persoalan yang terjadi saat ini tidak semata-mata karena persoalan agama melainkan kepentingan suatu golongan. Jika pada umumnya masyarakat menolak pemimpin non muslim, bagaimana dengan London yang dipimpin oleh gubernur beragama muslim, sedang kita tahu bahwa London merupakan kota yang di mana, Kristen menjadi mayoritasnya.

Sebagai mantan santri, saya masih mengingat suatu ayat dalam al-Qur’an: “wa la talbisu al-haqqa bi al-bathil wa taktumu al-haqqa wa antum ta’lamun. Yang artinya: dan jangan kalian campur-adukkan antara yang benar dan yang salah dan jangan kalian tutup-tutupi kebenaran jika kalian tahu.(Qs. Al-Baqarah:42) ayat tersebut menjadi tolak ukur adanya persamaan hak dan status dari semua manusia. Karena jika muslim Indonesia mempunyai egoisme agama, saya rasa pernyataan Gus Dur secara langsung membuat kita sadar akan satu hal: “kita orang Islam yang hidup di Indonesia, bukan berarti Indonesia adalah negara Islam.”

Secara pribadi saya sangat terpengaruh oleh Abdurahman Wahid dalam cara berpikirnya menyelesaikan suatu permasalahan yang terjadi di Indonesia dalam hal perbedeaan. Salah satu alasan saya adalah ketika Gus Dur meminta maaf dan menawarkan rekonsiliasi pada korban genosida ‘65 yang membuatnya dikritik habis-habisan oleh Pramoedya karena dianggap basa-basi. Ia justru menegakkan hukum dan menghapuskan logo PKI di KTP pada orang-orang yang keluarganya terlibat dalam tragedi ‘65 agar semua rakyat mendapatkan perlakuan yang sama di depan hukum.

Namun, apakah Gus Dur yang melakukan pembantaian itu lantas ia harus meminta maaf atas peristiwa yang terjadi? Tidak. Tindakan yang dilakukan olehnya menunjukkan kepada semua orang bahwa ada pengakuan dosa yang tak secara langsung dikatakan oleh Gus Dur dalam pernyataan dia di situ dalam tragedi yang terjadi, dimana banyak kaum ulama yang mengaminkan pembantaian tersebut. Persoalan tersebut menghadirkan suatu kenyataan yang tak disadari: bahwa kaum agamis tidak sesuci yang kalian agungkan, sahabat.

Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di era Gus Dur pula Hoakiau (Tionghoa perantauan) di Indonesia mendapatkan kedudukan yang sama dalam perayaan hari raya sama seperti Islam dan Kristen. Hal ini membuktikan bahwa Bhineka Tunggal Ika harus diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di sisi yang lain, hubungan manusia dengan Tuhan (Hablum-minallah), juga harus sejalan dengan hubungan manusia dengan manusia (Hablum-minannas) seperti nilai-nilai yang sejatinya ditanamkan dalam setiap agama. Dan ketika Palestina dijajah, Islam di Indonesia mengutuk-sumpahi Israel, tanah suci di bom, Islam mencaci-maki ISSIS, tetapi saat penindasan di sekitar kita terjadi, perampasan ruang hidup yang dilakukan oleh negara, rakyat Papua ditindas oleh korporasi Amerika, mereka dibunuh, ditembak, disiksa di tanah kita sendiri, kaum agamis justru diam melihat orang-orang yang terzolimi.

Dengan persoalan yang terjadi, saya terkenang dengan kritik keras yang dilakukan Bertrand Russell terhadap agama: “Tubuh merepresentasikan bagian sosial dan publik manusia, sedangkan roh merepresentasikan bagian pribadi. Saya kira jelas bahwa hasil bersih dari agama (Kristen, dalam pengertian Russell) selama berabad-abad adalah menjadikan orang semakin egois, semakin tertutup dalam diri mereka, melebihi apa yang telah diajarkan alam.”

Jika agama secara terus-menerus dijadikan landasan untuk menindak segala sesuatu yang mengacungkan kekuasaan, saya rasa bahwa akan adanya ‘bahaya besar’ di sini: mabuk kekuasaan akibat legitimasi agama. Sangat disayangkan agama hanya menjadi candu yang mengajarkan kesadaran semu untuk meredam kemauan rakyat untuk memperjuangkan nasibnya, dengan dalih: biarkan Allah yang membalas perbuatan mereka. Dengan doktrin ukhrawi yang sangat dipercayai inilah membuat terabaikannya perjuangan kelas yang menjadikan rakyat tidak berbuat apa-apa.
−Ω−


Fajar menyeruput kopi hitam kesukaanya lalu bertanya, “gimana kalo lu nulis tentang ini, Lang?” sebelum saya menjawab, Rizal langsung menanggapi, “entar lu dikira bela Ahok lagi” sambil tertawa sinis. Lagi-lagi saya masih termenung dan berbicara dengan nurani sendiri: “jika agama hanya menjadi pemecah-belah antara umat satu dengan yang lain, maka dengan rela, saya melepasnya.”  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Yulyati

Aku menulis ini dalam perjalanan menuju Jakarta, ketika kita berada pada titik antara apa yang mungkin dan apa yang tidak. Ketika kita pada akhirnya menyadari sebuah soal sederhana: barangkali jarak, adalah cara terbaik menyekolahkan hati. Aku tak pernah tahu, di antara kita siapa yang ditemukan. Atau kita memang dipertemukan karena kebetulan? Tidak. Aku tak percaya kebetulan. Aku percaya bahwa hidup adalah koinsidensi, sebuah pengulangan satu menuju pengulangan yang lain. Untuk apa? Kita tak pernah tau hingga itu benar-benar terjadi: Bahwa kita hanya dipertemukan untuk saling mengenal lebih dalam satu sama lain. Atau barangkali, kita memang ditakdirkan untuk bersama hingga waktu yang tak tentu? Semoga saja.  Kita adalah dua hati yang menolak tunduk pada ketidakmungkinan. Kau menampik tatap dan cibiran yang menyasar ku, aku berupaya percaya bahwa kau adalah akhir labuhanku. Kita bersikukuh untuk percaya bahwa cinta yang sejati masih ada dan akan tetap tumbuh, bahkan pada taman yang...

Kau Pergi, Pagi Itu!

Bapak ingin menulis banyak tentangmu, anakku sayang. Bapak berharap kelak kau tumbuh dan mendengar kisah ini. Bagaimana bapak, ibumu, dalam keadaan yang remuk-redam, berbahagia atas kelahiranmu. Tapi bapak cuma bisa menulis ini untuk mengenang kepulanganmu menuju nirwana. *** Kau lahir di rumah sakit tempat 23 tahun lalu nenek melahirkan bapak. Perasaan bapak barangkali, sama dengan perasaan kakekmu dulu: bahagia dan cemas bertalu-talu dalam dada. Ada mimpi-mimpi yang bapak peram dalam hati: kelak kau akan tumbuh jadi gadis manis yang memesona, mendidikmu dengan kelembutan yang tak terhingga, memberimu semua yang ku sanggup.  Ku beri kau nama Annelies dari hikayat seorang perempuan yang begitu memesona. Perempuan yang dalam tafsirku adalah wujud kecantikan dan kelembutan yang tak terpermanai. Di tengah namamu, ku selipkan Pradnya yang ku ambil dari manifestasi Pram terhadap perempuan Jawa dalam Pradnya Paramita sebagai perempuan yang melahirkan revolusi. Sebab Jawa mengalir begitu ...

Jatinegara

Seorang gadis telanjang di hadapan gelombang Buih membelai sekujur tubuhnya Di tubuh mungil itu Terselip luka yang menahun Menyimpan lara yang mengental  Sore itu, ia ingin pergi jauh Dengan ragu, ia menantang gelombang Sesuatu yang karang jalani sepanjang laluan Sebenarnya, ia memang ingin mati Barangkali ia memang punya kehendak Dan berkuasa atas takdirnya Tapi, ia tak punya becus atas apa-apa  Ia hanya punya diri yang tak berdaya Doa adalah sisa-sisa-sia-sia yang mengudara Dan ia hanya nada sumbang Dari lagu penghidupan Yang tak pernah ia mainkan Takdir pun tak pernah hidup untuknya Sebab itu ia paham satu soal: Manusia dikutuk untuk menjalani segalanya Sebelum gelombang merengkuh tubuhnya Ia telah kembali untuk menjalani semuanya Sebab ia tak pernah memilih apa-apa Bahkan kematian yang mempesona Ia pulang ke rumah tempat duka mengendap Seorang bocah yang hanya tau merengek Berbapak yang cuma paham menghantam Yang satu candra menghilang entah Tak ada apa-apa yang tersisa Se...